Home Ekonomi Forkom Apik BI: BI-7DRRR Turun Menjadi 3,75%

Forkom Apik BI: BI-7DRRR Turun Menjadi 3,75%

79
0
Suasana Pasar Beringharjo, Yogyakarta. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

BERNASNEWS.COM — Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada bulan November 2020 ini memutuskan untuk menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75 persen, Kamis (19/11/20).

Sementara suku bunga Deposit Facility turun menjadi 3 persen dan suku bunga Lending Facility sekarang di 4,5 persen. Beberapa pihak menyatakan keputusan tersebut merupakan kejutan dan di luar ekspektasi pelaku pasar. Forum Komunikasi Akademisi Penulis Kebijakan Bank Indonesia (Forkom Apik BI) mencoba merangkum pendapatan sebagian anggota terhadap kebijakan tersebut.

“Untuk diketahui Forkom Apik BI anggotanya merupakan akademisi PTN/ PTS dari seluruh Indonesia”, jelas Y. Sri Susilo, Dosen FBE UAJY, selaku koordinator forum tersebut melalui keterangan tertulis yang dikirim ke Bernasnews.com, Jumat (20/11/2020).

Y. Sri Susilo, Dosen FBE UAJY, selaku koordinator Forkom Apik BI. (Foto: Dok. Bernasnews.com)

Turunnya suku bunga acuan (BI-7DRRR) dapat meringankan beban fiskal pemerintah dan beban bunga yang ditanggung oleh BI dan hal tersebut merupakan ekses dari burden sharing. Demikian disampaikan oleh Haryo Kuncoro, Guru Besar FEB UNJ Jakarta.

Menurut Haryo, faktor eksternal yang menjadi pendorong utama pemangkasan suku bunga tersebut. Faktor eksternal tersebut adalah menguatnya nilai tukas dolar AS, IHSG berada di zona hijau dan portofolio investasi asing sudah mulai mengalir masuk ke dalam negeri.

Haryo Kuncoro, Guru Besar FEB UNJ. (Foto: Dok. Pribadi)

“Penurunan suku bunga acuan (BI-7DRRR) merupakan usaha BI untuk menyebar “virus” optimis kepada masyarakat luas, bahwa pemulihan ekonomi dapat berlangsung dengan lebih cepat,” uangkap Agus Hertha Sumarto, Dosen UMB Jakarta/Peneliti INDEF.

Menurut Agus, BI bersama pemerintah harus menyusun program bersama yang lebih fokus sehingga alokasi anggaran melalui program pemulihan ekonomi bisa menjadi lebih efektif. Kondisi dapat membantu mempercepat pemulihan bagi UMKM.

Sementara Amirullah Setya Hardi, Dosen FEB UGM berharap, kebijakan penurunan suku bunga acuan BI seyogyanya ditindaklanjuti oleh perbankan dan sektor riil. “Perbankan dapat segera menurunkan suku bunga sehingga sektor riil dapat memanfaatkan turunnya suku bunga tersebut untuk berinvestasi atau menggerakkan usahanya kembali,” tegas Setya Hardi.

Rudy Badrudin, Dosen STIE YKPN, Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

Selanjutnya, Jaka Sriyana, Guru Besar FBE UII menyatakan, jika diikuti oleh penurunan suku bunga perbankan maka kebijakan BI tersebut dapat meningkatkan peluang investasi. Dalam kondisi pandemi, lanjut Jaka, penurunan suku bunga akan meningkatkan permintaan agregat dan tidak berpotensi meningkatkan inflasi. “Penurunan BI-7DRRR juga dapat menjadi daya dorong pembiayaan sektor fiskal melalui penjualan obligasi pemerintah,” ujarnya.

Jaka Sriyana, Guru Besar FBE UII. (Foto: Istimewa)

Dosen FEB Undip Nugroho SBM menjelaskan, bahwa penurunan BI-7DRRR merupakan langkah yang tepat untuk mendorong investasi yang lesu akibat pandemi. “Upaya peningkatkan investasi harus juga disertai dengan meningkatkan iklim dan kemudahan berinvestasi melalui deregulasi dan debirokratisasi,” ungkap Nugroho.

Dosen STIE YKPN Rudy Badrudin berharap dengan kebijakan menurunkan BI-7DRRR akan diikuti dengan penurunan suku bunga perbankan. “Penurunan suku bunga perbankan tersebut dapat membantu percepatan pemulihan ekonomi, termasuk bagi UMKM. Melalui invetasi baru atau ekspansi oleh sektor riil,” tutup Rudy. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here