Home Opini Filosofi Kain (Motif) Songke Manggarai, Flores

Filosofi Kain (Motif) Songke Manggarai, Flores

103
0
Ben Senang Galus, pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di Yogyakarta

BERNASNEWS.COM – Songke adalah tenunan khas masyarakat Manggarai, Flores, NTT. Kain tenun ini wajib dikenakan saat acara-acara adat, antara lain saat kenduri (penti, hang woja), membuka ladang (randang) hingga saat musyawarah kampung (keboro, nempung).

Kaum laki-laki biasa mengenakan (tengge) lalu mengombinasikannya dengan destar atau ikat kepala atau sapu khas Manggarai. Sementara para perempuan mengenakan dengan cara yang sama dengan atasan kebaya. Kain songke juga dipakai oleh para petarung dalam tarian Caci serta dimanfaatkan sebagai mas kawin (belis) hingga untuk membungkus jenazah.

Warna dasar benang yang dipakai dalam penenunan songke adalah hitam yang bagi orang Manggarai warna hitam melambangkan arti kebesaran dan keagungan serta kepasrahan kepada Tuhan, bahwa semua manusia pada suatu saat akan kembali kepada Mori Kraeng (Sang Pencipta). Sedangkan warna benang untuk sulam umumnya warna-warna yang mencolok seperti merah, putih, orange dan kuning.

Motif yang dipakai pun tidak sembarang. Setiap motif mengandung arti filosofi yang mendalam dan harapan dari orang Manggarai dalam hal kesejahteraan hidup, kesehatan, dan hubungan baik antara manusia dan sesamanya, manusia dengan alam maupun manusia dengan Sang Pencipta.

Filosofi Motif Songke

Songke biasa dipakai dalam upacara adat seperti penti (Pesta Kenduri), caci (tarian adat Manggarai), lipa tabing (songke yang diberikan oleh kaum laki-laki kepada kaum perempuan pada saat lamaran), kawing (sebagai Belis/Emas Kawin), lipa rapu (pembungkus mayat), randang (membuka kebun baru), nempung (musyawarah), tombo adak (pembicaraan megenai adat) dan kegunaan sehari-hari seperti untuk sarung, pengganti busana ibadah baik kaum perempuan maupun laki-laki, baju, celana, jas, peci dan syal. Akan sangat terhormat apabila seseorang yang bertamu ke keluarga atau tetangganya mengenakan songke

Songke banyak digemari bukan hanya oleh orang Manggarai sendiri tetapi juga orang dari luar daerah Manggarai bahkan sampai ke luar negeri, karena di samping kain ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari juga yang tak kalah menarik adalah keindahan berbagai motif yang ketika dipadukan menjadi satu membuat semua yang melihat terkagum-kagum.

Seiring dengan perkembangan zaman dan selera pasar, motif songke pun kian berubah. Banyak inovasi yang dilakukan oleh penenun sesuai dengan selera konsumen. Hal itu sah adanya. Namun perlu diingat bahwa motif songke sudah menjadi kandungan filosofis yang tinggi, melekat dengan kultur dan karakter orang Manggarai.

Berikut beberapa motif kain songke dan maknanya:

Motif wela kawu (bunga kapuk), bermakna keterkaitan antara manusia dengan alam sekitarnya. Hubungan manusia dengan alam tidak akan terputus oleh siapa pun termasuk bencana alam misalnya. Manusia Manggarai dengan alam ciptaan mempunyai hubungan transenden dan imanen. Oleh karena itu orang Manggarai selalu mengatakan uwa haeng wulang langkas haeng awang, bok leso, wake celer ngger wa, saung bembang ngger eta.

Motif ranggong (laba-laba), bersimbol kejujuran dan kerja keras. Orang-orang Mangarai dalam perbuatan dan perkataan harus menyampaikan dengan jujur dan apa adanya. Menunjukkan kepada kesederhanaan. Di balik kejujuran ada kebahagiaan. Jujur terhadap sesama, jujur terhadap Tuhan dan jujur terhadap alam semesta (tana lino). Jujur merupakan suatu sikap yang mulia dan penting untuk dimiliki oleh setiap orang. Kita akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain saat kita selalu menjunjung tinggi kejujuran.

Motif ju’i (garis-garis batas), pertanda keberakhiran segala sesuatu, yaitu segala sesuatu ada akhirnya, ada batasnya. Setiap orang pasti mati. Kematian adalah perjumpaan dengan Tuhan. Dalam hidup kita pasti ada awal dan akhir (alpha dan omega). Berakhirnya hidup itu ketika kita melepaskan segala sesuatu dan menuju kepada kesempurnaan hidup (hidup kekal), lonto kamping agu Mori Kraeng.

Motif ntala (bintang), berkaitan dengan harapan yang sering dikumandangkan dalam tudak, doa porong langkas haeng ntala supaya senantiasa tinggi sampai ke bintang. Maksudnya, agar senantiasa sehat, diberikan umur yang panjang, dan memiliki ketinggian pengaruh lebih dari orang lain dalam hal membawa perubahan dalam hidup.

Motif wela kaweng (bunga kaweng), akronim dari: neka weweng (jangan dibuang-sayang), yang melambangkan bahwa orang Manggarai bagaikan bunga kecil tapi memberikan keindahan dan hidup di tengah-tengah kefanaan ini (small is beautiful– EF Schumacher). Memberikan cinta, sayang kepada ciptaan Tuhan. Orang Manggarai dalam hidupnya penuh dengan suka cita, penuh kegembiraan (humoris-tombo wange, pande tawa ata). Hal itu tergambar dalam suasana kebatinan orang Manggarai ketika mereka melakukan pesta adak. Ada mbata, ada sanda, nengkung.

Bunga kaweng memiliki kelopak cantik kecil, ada warna ungu, ada warna merah, dan ada warna putih. Bunga kaweng mirip seperti bunga kertas karena teksturnya yang halus dan kelihatan seperti potongan kertas. Bungan kaweng menyimpan arti sweet and lovely, yang bermakna aku tidak akan melupakanmu. Itu mengapa si manis kecil ini disebut sebagai bunga morning glory alias kemuliaan pagi.

Ternyata makna bunga kaweng, morning glory merepresentasikan perhatian/kasih sayang. Kata sayang (baca: kaweng) dibentuk dari kata “Sa” dan “Hyang” dalam konsep Hinduisme. “Sa” berarti satu dan “Hyang” berarti Tuhan. Jika digabungkan, maka definisi kata sayang secara harfiah yaitu Tuhan Yang Satu. Kata sayang sendiri diambil dari filosofi rasa kasih Tuhan kepada setiap makhluknya.

Makna sayang sesungguhnya adalah ketika kita melihat masalah, mencoba memahami masalah dan mencoba menyelesaikan masalah tersebut. Makna sayang sesungguhnya adalah melindungi. Melindungi sendiri mempunyai arti luas mulai dari melindungi secara fisik, mental dan perasaan. Jika kamu memang sayang dengan pasanganmu. Pastilah kamu melindunginya dari hal yang tidak diinginkan.

Apa makna kata sayang (bunga kaweng) sesungguhnya? Dan, apakah berbeda dari kata cinta? Jika diambil berdasarkan pengertian di atas, cinta merupakan perasaan ingin memiliki dan bersifat mengikat. Sedangkan sayang adalah perasaan yang cenderung bersifat memberi tanpa berharap mendapatkan balasan (itulah karakter dasar orang Manggarai).

Sama seperti bumi. Ia memberi tidak menuntut balasan. Makna kata sayang sesungguhnya adalah perasaan ikhlas. Itulah makna kata sayang sesungguhnya dalam hubungan cinta (cinta terhadap sesama, cinta terhadap alam ciptaan tuhan, cinta terhadap kampung halaman, cinta kepada beo, cinta terhadap hewan peliharaan, cinta terhadap kerabat (ase ka’e, hae wa’u, dan lain-lain).

Oleh karena orang Manggarai wajib melestarikan dan memelihara keutuhan ciptaan Tuhan. Jangan lagi sembarangan menggunakan kata kaweng (sayang) karena memiliki makna tinggi. Mulailah memahami makna kata sayang sesungguhnya dalam hubungan cintamu dengan alam semesta. Salam Kaweng…(Ben Senang Galus, pengamat masalah sosial budaya, tinggal di Jogja)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here