Home Pariwisata FGD UWM: Membangun Optimisme Pariwisata DIY Tahun 2020

FGD UWM: Membangun Optimisme Pariwisata DIY Tahun 2020

480
0
Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta menggelar focus group descussion (FGD), Rabu (8/1/2020). Foto: Dok. Humas UWM.

BERNASNEWS.COM — Pariwisata merupakan sektor sangat penting bagi Indonesia dan DIY. Bagi Indonesia, sebagai negara dengan segala keindahan alamnya dan budayanya, sektor ini bisa diharapkan untuk menggantikan devisa yang terus menurun dari sektor primer. Demikian disampaikan oleh Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec, dalam acara focus group discussion (FGD) yang bertajuk “Membangun Optimisme Pariwisata DIY Tahu 2020”, Rabu (8/1/2020), di Ruang Sidang Rektorat Kampus UWM, Yogyakarta.

Kegiatan FGD dengan peserta terbatas dari kalangan dosen UWM dan dihadiri oleh beberapa awak media di Yogyakarta, dengan pembicara Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec, yang mengangkat topik bahasan “Meningkatkan Pengembangan Pariwisata DIY”, Wakil Rektor I UWM Prof Dr Ir. Ambar Rukmini, MP topik bahasan “Kuliner Halal, Pendukung Pariwisata DIY”, dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Humas, Kerjasam dan Kebudayaan Dr. Jumadi, SE, MM, dengan topik bahasan “Pendekatan dan Strategi dalam Pengembangan Wisata Yogyakarta Berbasis Budaya”.

Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec (Foto: Dok. Humas UWM)

“Bagi DIY, sektor pariwisata secara langsung dan tidak langsung memberikan kontribusi signifikan bagi kehidupan ekonomi masyarakat, termasuk pengembangan UMKM. Juga memberikan stimulus DIY untuk tetap melestarikan dan menjaga asset budayanya, baik fisik maupun nonfisik,” papar Edy Suandi Hamid.

Sektor pariwisata bagi DIY menjadi salah satu andalan karena wilayahnya relatif kecil juga relatif miskin sumber daya alam ini, menurut Edy, sektor-sektor terkait jasa, seperti pendidikan, layanan kesehatan, serta pariwisata ini perlu mendapat perhatian yang serius. “Bukan saja dalam penggarapan obyek wisata, even-even budaya, infrastruktur. Namun juga terkait promosi wisata serta terus mengedukasi masyarakat untuk sadar wisata,” ungkapnya.

Pengembangan Yogyakarta sebagai city of heritage akan memberikan trade mark bagi para pelancong datang ke Yogyakarta. Berbagai obyek wisata sejarah dan budaya perlu juga didukung dengan lebih banyak pagelaran kesenian yang bisa menarik minat wisatawan. Situs-situs budaya, bangunan kuno perlu dijaga kelestariannya dan dikelola dengan baik.

“Bagi wisatawan asing, aspek daya tarik alam, kebudayaan, kesejarahan, dan berbagai cagar budaya adalah sesuatu yang menarik, karenanya ini perlu digarap serius. Namun kunjungan menjadi menarik manakala infrastrukturnya juga baik dan mudah menjangkau obyek-obyek yang ada, situasi yang aman, serta adanya tourist map yang menjadi petunjuk mudah bagi para wisatawan,”pungkas Edy.

Sementara itu, Ambar Rukmini menjelaskan, dalam Perda DIY No. 1 Tahun 2019 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan (RIPPARDA) DIY 2012 – 2025 tertulis bahwa visi pariwisata DIY adalah menjadikan pariwisata DIY terkemuka di Asia Tenggara yang berkelas dunia. Hal tersebut mengisyaratkan pariwisata DIY tidak sekadar cukup terkemuka di Asean saja, tetapi juga harus berkelas dunia.

“Pengembangan pariwisata DIY memerlukan dukungan dan kerja sama dari berbagai elemen dan pemangku kepentingan, tidak hanya urusan Dinas Pariwisata DIY. Sektor kuliner juga memiliki andil besar. Sebagai contoh, kasus yang sering kita dengar tentang keluhan wisatawan saat membeli makanan di lesehan,” kata Ambar.

Selain kepastian harga, Ambar menambahkan, kehalalan produk pangan (kuliner) juga harus menjadi prioritas. Sebagaimana amant Undang-Undang RI Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. “Pasal 4 dari undang-undang tersebut menyatakan bahwa semua produk termasuk makanan, minuman, farmasi, kosmetik, dan perawatan pribadi harus halal, serta perlu untuk memastikan bahwa produk yang tersedia di pasar Indonesia harus bersertifikat halal,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ambar mengatakan, kendala utama yang dihadapi terutama oleh pelaku bisnis kuliner adalah biaya sertifikasi halal yang belum sebanding dengan keuntungan yang diperoleh keuntungan yang diperoleh. Meskipun Disperindagkop dan Depag setiap tahunnya memberikan bantuan biaya pengurusan sertifikasi halal bagi UMKM, tetapi jumlahnya masih belum dapat menyentuh seluruh UMKM yang ada.

“Karekteristik DIY dinilai kondusif untuk pengembangan industry halal, terutama industry pariwisata dan kuliner halal. Hal itu mengingat branding Yogyakarta sebagai daerah (kota) budaya dan pendidikan, serta leka dengan sejarah Kasultanan Mataram Islam,” tegasnya.

Pemateri FGD dari kiri Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Humas, Kerjasam dan Kebudayaan Dr. Jumadi, SE, MM, dan Wakil Rektor I UWM Prof Dr Ir. Ambar Rukmini, MP . (Foto: Dok. Humas UWM)

Berbeda dengan dua pamteri sebelumnya, Jumadi lebih menekankan konsep pariwisata yang mengetangahkan unsur-unsur budaya sebagai produk pariwisata yang dapat menciptakan destinasi dan dapat mendorong terciptanya pemberdayaan masyarakat baik langsung maupun tidak langsung. Perpaduan antara fasilitas dalam industry pariwisata yang dipadukan dengan produk budaya dalam satu Philisophy of Leisure yang dapat memberikan penampilan baik dan menarik.

“Dalam perencanaan pengembangan wisata berbasis budaya di Yogyakarta dapat dilakukan dengan pendekatan antara lain, pendekatan participatory planning, pendekatan karateristik, pemberdayaan masyarakat, kewilayahan, dan pendekatan optimalisasi potensi,” terang Jumadi.

Yogyakarta dengan kekayaan budayanya sudah ideal jika mengembangkan pariwisata yang berbasis budaya. Hal ini dapat dilihat dari kekayaan budaya Yogyakarta baik yang terlihat (tangible), meliputi kraton, candi, dan peninggalan sejarah lainnya, serta yang tidak (intangaible) berupat tradisi dan acara adat istiadat.

“Untuk memberikan kepuasan dan loyalitas wisatawan diperlukan strategi dalam melayani melalui strategi T-SERQUAL (Tourism Service Quality) dan SETARRA (Security, Emphaty, Tangible, Assurance, Responsiveness, Reliability, Acces),” papar Jumadi.

Apabila strategi tersebut dapat dijalankan dengan baik maka akan menjadikan service excellent. “Indikatornya adalah layanan semakin baik, layanan semakin cepat, layanan semakin baru, layanan semakin murah, semakin sederhana, semakin aman dan nyaman, juga layanan semakin ramah serta sopan,” imbuhnya. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here