Thursday, June 30, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeSeni BudayaFestival Memedi Sawah Desa Wisata Candran, Kearifan Lokal yang Sarat Makna

Festival Memedi Sawah Desa Wisata Candran, Kearifan Lokal yang Sarat Makna

BERNASNEWS.COM — Kebudayaan yang berkembang di masyarakat pedesaan utamanya adalah berupa kearifan lokal yang merupakan warisan dari nenek moyang bangsa Indonesia. Termasuk di DIY yang khas dengan kebudayaan luhurnya. Hingga saat ini masyarakatnya masih  memegang  teguh  nilai  budaya  Jawa  yang  kental  dan  syarat  akan makna.

Dalam kegiatan pertaniannya yang dilakukan oleh masyarakat Jawa juga tidak bisa lepas dari budaya setempat. Salah satu budaya yang dilakukan  masyarakat  Jawa  dalam  bidang  pertanian  adalah patung memedi sawah yang dimanfaatkan oleh para petani untuk menjaga tanaman mereka khususnya padi dari serangan hama perusak seperti burung. Sehingga tanaman pertanian akan tetap aman dari hama perusak tanpa dijaga langsung oleh para petani.

Sebuah penampilan memedi sawah berupa pasangan suami isteri dengan busana resmi seperti hendak kondangan lengkap mengenakan masker prokes. (Foto: Kiriman Humas UNY)

Seiring berkembangnya zaman, kebiasaan memasang patung memedi sawah di lahan pertanian dijadikan para petani sebagai sebuah festival yang banyak memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Hal ini menarik perhatian mahasiswa prodi Pendidikan IPS Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yakni Basid Elmi Izzaqi, Diah Nadiatul Jannah, Rina Suhartanti, Eva Riska Amalia dan Marlinda Putri, yang melakukan penelitian tentang nilai yang terkandung dalam festival memedi sawah. Penelitian dilaksanakan di Dusun Candran, Kalurahan Kebonagung, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul.

Menurut Basid Elmi Izzaqi, memedi sawah merupakan sebuah karya cipta dari para petani, yaitu upaya kreatif untuk menjaga pertaniannya supaya tidak diserang oleh hama burung. “Tradisi ini dijadikan sebagai media untuk mengkomunikasikan salah satu bentuk kebudayaan di bidang pertanian kepada masyarakat pada umumnya,” katanya.

Mahasiswa prodi Pendidikan IPS Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yakni Basid Elmi Izzaqi, Diah Nadiatul Jannah, Rina Suhartanti, Eva Riska Amalia dan Marlinda Putri, yang melakukan penelitian tentang nilai yang terkandung dalam festival memedi sawah. (Foto: Kiriman Humas UNY)

Adapun prosesi pelaksanaan memedi sawah seperti perencanaan, penentuan waktu maupun atribut, penempatan, kegiatan pendukung seperti perlombaan, di puncak ada pertunjukan atau pementasan boneka Nini Thowong. “Setelah Tarian Nini thowong usai dilaksanakan, berlanjut ke kegiatan penutup yaitu acara Rayahan,” ungkap Basid Elmi Izzaqi.

Diah Nadiatul Jannah menambahkan, bahwa memedi sawah merupakan media untuk mengkomunikasikan salah satu bentuk kebudayaan di bidang pertanian kepada masyarakat pada umumnya berupa bentuk visualisasi berbagai nilai seni, kreatifitas, dan budaya yang diwujudkan dalam bentuk boneka berukuran sedang (sebesar manusia) hingga raksasa.

“Dalam pembuatan memedi sawah berasal dari sisa-sisa dan hasil pertanian maupun  peralatan  pertanian,” terang Diah.

Memedi sawah ini selain untuk menjaga pertanian padi petani juga untuk membelajarkan tradisi ini kepada generasi muda dan menarik wisatawan untuk berkunjung serta menambah pendapatan warga sekitar.

Suasana persawahan yang dihiasi dengan berbagai aneka bentuk memedi sawah. (Foto: Kiriman Humas UNY)

Sementara itu,  Rina Suhartanti mengatakan, bahwa tradisi Memedi Sawah di Desa Wisata Candran ini menjadi ikon tersendiri bagi kegiatan pariwisata di daerah tersebut. Menjadikannya magnit yang tentunya memberikan daya tarik luar biasa, apalagi proses pembuatan dan pelaksanaan tradisi memedi sawah tepat berada di depan Museum Tani Jawa.

Selain itu untuk menambah kemeriahan tradisi tersebut, pengelola setempat bekerjasama dengan Dinas Pariwisata DIY serta pembuatan memedi sawah juga dilombakan untuk menambah kemeriahan dari tradisi tersebut. “Nilai-nilai lokal yang diinternalisasikan melalui  karakter  dapat  diambil dari  nilai-nilai luhur  dari  masing-masing kearifan  lokal,” papar Rina Suhartanti.

Dalam penelitian ini nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal Festival Memedi Sawah diharapkan akan menjadi sebuah karakter baik seperti nilai kedamaian (peace), nilai saling menghargai (respect), nilai kerja sama, nilai religius,  nilai  estetika  (keindahan),  nilai kemanusiaan,  nilai  kebersamaan,  dan nilai demokratis.

Penggalian nilai-nilai kearifan lokal sebagai basis dari sebuah festival akan memunculkan karakter-karakter yang berbudi pekerti luhur. Nilai lokal akan mendorong timbulnya sikap saling menghormati antaretnis, suku, bangsa dan agama, sehingga keberagaman terjaga dengan baik. (*/ ted)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments