Home News Ferdinand Hutahaean Mempertanyakan Posisi Bambang W dan Adnan Pandu

Ferdinand Hutahaean Mempertanyakan Posisi Bambang W dan Adnan Pandu

26
0
Ferdinand Hutahaean. Foto: Dok Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM – Pegiat media sosial yang juga mantan kader Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mempertanyakan posisi mantan komisioner KPK Bambang Widjojanto dan Adnan Pandu yang mendampingi Jakpro saat menyerahkan dokumen ke KPK RI terkait Formula E.

Ferdinand Hutahaean mempertanyakan posisi mereka sebagai apa, karena TGUPP (Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan) DKI tidak dikenal dalam struktur pemerintahan daerah. Karena itu, Ferdinand melihat mereka hanya ingin membebani psikologis penyidik karena mereka sebagai mantan komisiaoner KPK.

Saya mempertanyakan posisi Bambang W dan Adnan Pandu yg turut mendampingi jakpro menyerahkan dokumen ke @KPK_RI terkait Formula E. Posisi mrk sbg apa krn TGUPP tdk dikenal dlm struktur pemerintahan daerah. Sy melihat keduanya hanya ingin bebani psikologis penyidik sbg mantan KPK,” cuit Ferdinand Hutahaean yang dikutip Bernasnews.com di akn twitternya @FerdinandHaean3 yang diunggah pada Senin,15 November 2021.

Mantan kader Partai Demokrat ini menduga Bambang W dan Adnan Pandu sepertinya berposisi sebagai intimidator psikologis dalam masalah tersebut. Sebab meski tidak bisa disebut ada konflik kepentingan karena mereka sudah tidak lagi di KPK, namun posisi mereka sebagai mantan Pimpinan KPK jelas akan mengganggu proses hukum kasus tersebut.

Sepertinya Bambang W dan Adnan Pandu berposisi sebagai intimidator psikologis dalam hal ini. Meski tak bisa disebut konflik kepentingan karena mereka tak lagi di KPK, tapi posisi mereka sbg mantan pimpinan KPK jelas akan mengganggu jalannya proses hukum,” lanjut Ferdinand dalam cuitannya.

Pada bagian lain cuitannya, Ferdinand Hutahaean juga mempertanyakan kepakaran Refly Harun dan Margarito yang meminta KPK agar menghentikan proses hukum terkait penyelenggaraan Formula E. Menrut Ferdinand, sebagai pakar hukum seharusnya tak membeda-bedakan proses hukum sepanjang hal itu untuk mengungkapkan kebenaran.

Atas nama gelar mrk disebut pakar. Seharusnya pakar hukum tak membeda-bedakan proses hukum sepanjang untuk mengungkap kebenaran. Tapi mengapa mereka berdua lbh meminta KPK hentikan pengusutan Formula E? Mungkinkah mrk bicara atas pesanan? Apa mrk jd jongos utk terduga korupsi?,” cuit Ferdinand Hutahaen mengomentari berita media online berisi pernyataan atau pendapat Refly Harun dan Margarito soal langkh KPK terkait Formula E.

ya mestinya begitu….pakar hukum harusnya tidak membeda-bedakan hukum sepanjang untuk mengungkap kebenaran…..,” komentar Hendro di akun @Hendro68649628.

Komentar senada disampaikan Sintenremen di akun @wantopur1. “Kalo benar” pakar seharusnya dia mengatakan lanjutkan proses kpk, dan buktikan dipengadilan,” kata Sintenremen.

Semua hrs diusut, tidak terkecuali Formula E, apa lagi nanti sebagai calon presiden, hrs semuanya terang benderang. Lebih ringan kalau memang Formula E tidak ada kasus, kalau ada kasus berarti presiden yng sangat buruk,” komentar Bro Sudana di akun @BroSudana. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here