Home Opini Faktor Penentu Minat Beli pada Perusahaan E-Commerce

Faktor Penentu Minat Beli pada Perusahaan E-Commerce

1509
0
Any Agus Kana, Dosen STIM YKPN Yogyakarta

BERNASNEWS.COM – Perkembangan teknologi informasi dan internet telah membawa dampak transformasional yang menciptakan paradigma baru berupa bisnis elektronik (e-business). E-business adalah penggunaan teknologi digital dan internet untuk menjalankan proses-proses bisnis utama dalam suatu perusahaan.

E-business meliputi aktivitas pengelolaan internal dalam suatu perusahaan serta kegiatan koordinasi dengan pemasok dan mitra bisnis serta  perdagangan elektronik (e-commerce). Relasi perdagangan elektronik bisa berwujud C2C, B2B, B2C atau C2B. Pada perdagangan ritel, perantara layanan pelanggan virtual (e-commerce firm) dapat melakukan transaksi sehari-hari dan memberikan rekomendasi untuk pelanggan (Savitri, 2019).

Merchant Machine, lembaga riset asal Inggris (databooks.com; 2019/04/23) merilis daftar sepuluh negara dengan pertumbuhan e-commerce tercepat di dunia dan Indonesia memimpin jajaran negara-negara tersebut dengan pertumbuhan 78 persen pada 2018. Hasil studi Polling Indonesia bekerja sama dengan APJII (kompas.com, 16/05/2019), merilis data jumlah pengguna internet di Indonesia tumbuh 10,12 persen. Jumlah pengguna internet di Indonesia lebih dari 100 juta orang.

APJII mencatat bahwa pengguna internet di Indonesia paling banyak mengakses konten video, chating dan media sosial, serta aktivitas jual beli online. APJII (15/05/2019) menyatakan 93,9 persen masyarakat Indonesia mengakses internet dengan menggunakan smartphone.

Data di atas menunjukkan bahwa Indonesia memiliki daya tarik bagi pelaku bisnis online. Berikut adalah beberapa pelaku  e-commerce dengan platform tertentu yang cukup dikenal pembeli dan calon pembeli di antaranya  Bukalapak, Shopee, Lazada, Tokopedia, OLX, Traveloka, Alibaba dan Amazon.

Sebagai contoh, Shopee yang beroperasi dengan fokus pada pengembangan platform mobile, kinerjanya sangat bagus. Hal tersebut ditunjukkan oleh laporan pesanan pada kuartal kedua 2019 mencapai 110 juta pesanan dengan rata-rata harian 1,2 juta pesanan.

Minat Beli Online

Transaksi pembelian secara online merupakan perubahan dari minat beli online. Minat beli dapat diartikan sebagai suatu sikap senang terhadap suatu obyek yang membuat individu berusaha untuk mendapatkan atau berinteraksi dengan objek tersebut (Schiffman dan Kanuk, 2010).  

Dalam konteks penjualan online, minat beli merupakan fungsi dari kekuatan usaha pembeli untuk melaksanakan suatu perilaku spesifik dalam proses membeli melalui sebuah web portal (Lin dan Ding, 2005). Kwahk, Ge dan Park (2012) menyatakan perilaku khusus pembeli adalah kepercayaan dan kepuasan konsumen. Kepercayaan konsumen adalah pengetahuan konsumen mengenai suatu objek, atribut dan manfaatnya (Sumarwan, 2017).

Kepercayaan juga dimaknai sebagai kesediaan pelanggan untuk menerima kelemahan dalam transaksi online berdasarkan harapan positif mereka mengenai toko online dimasa yang akan datang (Ling et,al, 2010). Perreault (2012) menyatakan bahwa kepercayaan adalah keyakinan seseorang atas janji atau tindakan orang lain. Orang, merek dan perusahaan yang terpercaya akan memiliki keuntungan pasar yang lebih besar karena akan meningkatkan minat beli konsumen.

Kotler dan Keller (2012) menyatakan bahwa minat beli dapat dipengaruhi oleh faktor situasi yang tidak diantisipasi yang muncul untuk mengubah minat beli konsumen. Faktor yang dapat mengubah minat pembelian sehingga konsumen memodifikasi, menunda, bahkan menghindari pembelian adalah faktor risiko yang dipersepsikan oleh konsumen.

Dengan demikian persepsi risiko memiliki pengaruh negatif terhadap minat beli konsumen. Persepsi risiko merupakan ketidakpastian yang dihadapi konsumen jika tidak dapat meramalkan konsekuensi atas keputusan pembelian mereka (Schiffman dan Kanuk, 2010). Persepsi risiko juga dinyatakan sebagai keyakinan konsumen mengenai adanya potensi hasil negatif dari ketidakpastian dalam melakukan pembelian online (Kim et al, 2013).

Faktor Penentu Minat Beli Dan Dampaknya

Minat beli konsumen secara online terhadap sebuah perusahaan e-commerce ditentukan kepercayaan dan persepsi risiko. Kepercayaan  adalah kecenderungan sikap positif pembeli terhadap web portal, yang mana hal tersebut merupakan hasil (outcome) dari total kepuasan yang diperoleh dari layanan online yang dihadapinya (Shankar, Smith & Rangaswamy, 2008).

Sejumlah riset menemukan hubungan positif antara kepuasan pelanggan atas website dengan minat beli online (Prashar dkk, 2017). Anderson dan Srinivasan (2003) menyatakan bahwa kepuasan terhadap suatu website mengarahkan timbulnya minat beli, sedangkan menurut Yen dan Gwinner (2003) kepuasan total atas perusahaan e-commerce mempunyai dampak positif pada kecenderungan untuk kontinyu membeli dari perusahaan tersebut. Bai dkk (2008) menyatakan ada hubungan erat antara kepuasan pelanggan atas website dengan minat beli online.

Dengan demikian faktor penentu kepercayaan adalah pada perspektif teknologi. Perspektif ini dapat diukur dengan inidikator: 1) Security, 2) Privacy dan 3) Company reliability. Security didefinisikan sejauh mana konsumen percaya bahwa internet aman untuk mengirimkan informasi sensitif mereka terhadap transaksi bisnis. Informasi sensitif antara lain nomor kartu kredit, identitas diri (KTP).

Apakah perusahaan e-commerce dapat dipercaya tidak menyebarkan informasi pribadi dan juga tidak bisa diakses pihak lain. Privacy merupakan kepercayaan konsumen mengenai kinerja pihak dalam lingkungan ketika melalukan transaksi. Apakah perusahaan e-commerce mengetahui dengan baik produk yang ditawarkan dan memberikan informasi dengan benar. Company reliability merupakan asumsi konsumen bahwaperusahaan e-commerce memiliki kemampuan untuk meningkatkan kepercayaan mereka dan reputasi yang baik meningkatkan kepercayaan konsumen.

Dari ketiga indikator tersebut jika dipersepsikan baik (tinggi) oleh konsumen maka dampaknya akan meningkatkan minat beli. Selain kepercayaan, faktor penentu minat beli online berikutnya adalah persepsi risiko. Risiko yang dihadapi konsumen antara lain resiko produk, risiko keuangan dan, risiko informasi.

Risiko produk merupakan risiko yang terkait dengan produk yang diperjualbelikan, antara lain produk cacat, tak sesuai dengan spesifikasi yang ditawarkan, tidak berfungsi sebagai mestinya atau ketidakjelasan mutu barang. Risiko keuangan dimaknai sebagai risiko terhadap nominal transaksi baik pada penjual maupun konsumen.

Sebagai contoh transaksi terduplikasi karena kesalahan teknologi dan barang tidak dikirim. Risiko informasi terkait dengan keamanan dan kerahasiaan transaksi. Pemberitahuan nomor kartu kredit  atau informasi pribadi dalam transaksi dikhawatirkan disalahgunakan atau  prmrosesan melebihi estimasi waktu yang tertera pada platform. Konsumen akan mengevaluasi risiko-risiko tersebut dan mengambil keputusan. Apabila konsumen memberi nilai jelek (negatif besar) berarti minat konsumen untuk bertransaksi rendah, tetapi jika sebaliknya maka konsumen menilai risikonya kecil, maka mereka bersedia untuk bertransaksi meskipun ada risiko.

Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap perusahaan e-commerce Shopee Indonesia pada Nopember 2019 dengan responden sebanyak 120 mahasiswa dari 14 perguruan tinggi di Yogyakarta. Pengumpulan data dengan menggunakan fasilitas Google Form, diperoleh hasil: kepercayaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli mahasiswa, dan  risiko berpengaruh negatif dan signifikan terhadap minat beli mahasiswa.

Dalam upaya meningkatkan minat beli konsumen, tugas pelaku e-commerce adalah meningkatkan kepercayaan dan menurunkan risiko dengan cara memperbaiki platform atau web agar lebih menarik, memilih mitra bisnis yang bersedia diajak menerapkan etika bisnis dan mengadopsi ketentuan tata kelola bisnis yang baik. (Any Agus Kana, Dosen STIM YKPN Yogyakarta)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here