Home Pendidikan Duta Museum dan Komunitas di Museum Dewantara Kirti Griya Gagas Program Pamong...

Duta Museum dan Komunitas di Museum Dewantara Kirti Griya Gagas Program Pamong Pelopor Sariswara

501
0
Lokakarya secara virtual menandai launching Program Pamong Pelopor Sariswara, pada 21 Agutus 2021. Foto: Cak Lis

BERNASNEWS.COM – Program Pamong Pelopor Sariswara merupakan kegiatan yang digagas oleh para Duta Museum dan Komunitas di Museum Dewantara Kirti Griya.

Awalnya diajukan khusus untuk para pamong di lingkungan Tamansiswa, namun kemudian menggandeng Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Daerah Istimewa Yogyakarta melalui program Fasilitasi Komunitas Kebudayaan 2021, sehingga target peserta meluas menjadi seluruh guru dan pegiat pendidikan di Indonesia.

Melalui seleksi ketat, peserta hanya dipilih sejumlah 20 orang yang dinilai memiliki komitmen untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Peserta berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia perwakilan dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Maluku.

Keduapuluh peserta ini akan digembleng untuk memahami Metode Sariswara, yang akan dipadukan dengan berbagai mata pelajaran umum lainnya yang diampu oleh para peserta sehingga dapat dipraktekkan seusai program ini selesai.

Launching Program Pamong Pelopor Sariswara, pada 21 Agutus 2021. Foto: Cak Lis

Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga bulan penuh dimulai dengan kegiatan launching pada 21 Agustus 2021.

Kepala BPNB DIY Dra Dwi Ratna Nurhajarini M.Hum mengatakan bahwa ini akan melahirkan berbagai pamong pelopor yang terdidik dan dibekali berbagai keterampilan dan kemampuan yang bisa digunakan untuk mengedukasi banyak pihak.

Launching ini turut mengundang beberapa pembicara yakni Ananda Sukarlan (pianis dan komponis berkelas internasional), Ki Priyo Dwiarso (Murid Ki Hadjar Dewantara, Generasi Pencipta Karya Metode Sariswara), serta Cak Lis (Peneliti Metode Sariswara dan Pendiri Laboratorium Sariswara).

Ananda Sukarlan dihadirkan untuk berbagi cerita mengenai kontribusinya dalam proyek-proyeknya yang sangat berkaitan dan selaras dengan tujuan Metode Sariswara. Sedangkan, Ki Priyo Dwiarso menegaskan, pendidikan adalah proses meluhurkan budaya.

Menurut Priyo Dwirso, pendidikan dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan, itulah yang dijawab oleh Metode Sariswara bagaimana kebudayaan dalam hal ini melalui kesenian sebagai bagian terdekat dengan kebudayaan. Karena kesenian dengan keindahan dan kehalusannya dapat menjadi media efektif menanamkan karakter berbudaya luhur bagi anak.

Sementara itu, Cak Lis menambahkan bahwa seni menjadi pintu masuk untuk memasukkan ‘olah-rasa’ selain olah-intelektual dalam penguasaan materi mata pelajaran reguler. Sekaligus menjelaskan praktik-praktik dan perkembangan penelitian yang sudah berjalan mengenai Metode Sariswara ini bersama Laboratoriumnya.

Kegiatan launching ini adalah pemantik untuk mengawali perjalanan panjang dalam Program Pamong Pelopor Sariswara. Selama kegiatan sampai dengan bulan November, peserta diberi berbagai materi pemahaman metode ini serta dibekali pemahaman dan pemahaman  mengolah seni.

Menurut Ketua Panitia Ria Putri Palupijati dalam rilis yang dikirim kepada Bernasnews.com, Sabtu (21/8/2021) kegiatan ini terdiri dari beberapa kokakarya yang didampingi beberapa mentor yang kompeten dan memiliki pemahaman akan konsepsi pemikiran Ki Hadjar Dewantara, termasuk di antaranya beberapa pelaku seni budaya kontemporer.

Di bidang rujukan pemahan sastra, kita menghadirkan Paksi Raras Ali dan Rendra Agusta. Dalam bidang pemahaman kearifan lokal, terdapat Setyaji Dewanto dan Tri Yulianti. Ada praktek-praktek pemahaman musik dan cipta lagu oleh Hapsari Satya Lestari dan Ari Wulu di seni presentasi kontemporernya. Selain itu, salah satu mentor lain yakni Ki Sutikno akan dihadirkan untuk memberi masukan secara kekinian mengenai pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Lokakarya ini akan rutin diadakan setiap hari Sabtu dan sepenuhnya dilakukan secara daring.

Harapan akhirnya, kegiatan lokakarya Pamong Pelopor Sariswara ini akan memunculkan insan-insan pendidik yang memiliki kemampuan mengolah kearifan lokal di masing-masing daerahnya sebagai sumber materi mengolah-rasa sekaligus dikolaborasikan dengan penguasaan akan materi pelajaran umum dengan kemampuan edutainmen di bidang seni yang inovatif dan kreatif. Insan-insan lulusan program ini akan didorong secara berkesinambungan untuk menularkan kemampuannya kepada para pendidik lain di daerahnya masing-masing. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here