Home Opini Dunia Wayang Membangun Karakter Siswa pada Era Digital

Dunia Wayang Membangun Karakter Siswa pada Era Digital

203
0
Adi Wasito S.Pd.SD, Guru Kelas 2 SDN Banyubiru 05 Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang

BERNASNEWS.COM -Sebagai pendidik saya dikejutkan oleh pengalaman kesadaran terhadap dunia digital. Efek dunia digital sungguh luar biasa dan merasuk pada pengalaman kognitif murid saya.

Ketika saya mengajukan berbagai pertanyaan terkait dengan peribahasa, misalnya “air beriak tanda…”, atau “tong kosong…”, mereka tidak bisa menjawab atau melanjutkannya. Namun ketika saya sambil bercanda bertanya “tarik siss…”, maka dengan kompak mereka menjawab “semongko”. Ternyata, tik tok menjadi trending topic yang sangat mewabah dan memikat para murid saya, siswa kelas 2 SD.

Dunia pendidikan dihadapkan pada persoalan baru dalam menghadapi perkembangan digital, terutama terkait dengan perkembangan karakter anak. Mulai dari kecanduan gadget dan perilaku meniru yang dihasilkan dari proses belajar dari media digital.

Selain dampak positif ternyata perkembangan digital juga memiliki dampak negatif, terutama terkait dengan perilaku sehari-hari yang kadang bertentangan dengan etika Jawa, baik itu tutur kata atau perilaku kesopanan yang lain.

Menghadapi persoalan tersebut, perlu adanya perkembangan karakter yang berbasis kearifan lokal. Penggalian kearifan lokal menjadi buah pengharapan sekaligus benteng pertahanan atas ancaman penurunan etika serta moralitas pada perilaku anak-anak. Salah satu bentuk kearifan lokal yang perlu dikembangkan oleh para pendidik terutama bagi masyarakat Jawa adalah pengenalan dunia pewayangan.

Wayang bukanlah semata-mata membicarakan sebuah kesenian tradisional atau hiburan di tengah masyarakat. Cerita wayang memiliki pesan atau nilai untuk manusia baik sebagai seorang individu maupun sebagai seorang manusia yang berada di dalam anggota masyarakat.

Berbagai macam pesan yang bisa disampaikan melalui cerita wayang yaitu tentang keadilan, kejujuran, ketulusan, kebenaran, kepahlawanan, patriotisme, rela berkorban dan sebagainya, serta bermacam masalah kehidupan lain yang menggambarkan watak dan sifat manusia yang sulit untuk dimengerti. Nilai-nilai inilah yang sudah mulai pudar pada masa sekarang ini terlebih anak-anak kita mulai disuguhkan dengan media aplikasi beragam yang ditawarkan tanpa pendampingan orang tua dan mulai mengesampingkan nilai dan karakter yang seharusnya ditanamkan mengenai pendidikan mental yang terkandung dalam wayang.

Tulisan ini merupakan catatan refleksi penulis sebagai pendidik sekolah dasar di sebuah desa kecil di lereng Gunung Telomoyo. Bagaimana mengenalkan dunia wayang yang bersanding dengan kemajuan teknologi? Tantangan dalam mengembalikan kecintaan akan kisah pewayangan sebagai sarana pengembangan karakter.

Tantangan mengenalkan dunia pewayangan

Berbicara tentang tantangan tentu saja karena paradigma wayang merupakan seni pertunjukan yang ditampilkan dengan rentang waktu yang lama, menggunakan bahasa yang sulit dimengerti oleh anak zaman sekarang, menjenuhkan atau monoton. Berbagai tantangan inilah menyebabkan wayang semakin tergerus oleh media hiburan yang mulai bermunculan dan menarik. Anak lebih menyukai tokoh pahlawan dalam serial televisi, komik.

Meskipun demikian banyak cara dapat dikembangkan sehingga siswa dapat mengenal dan mencintai wayang. Beberapa cara yang dapat diupayakan antara lain, membaca buku wayang dan menggali karakter setiap tokoh wayang, mengajak menonton pertunjukan wayang, datang ke museum wayang, membawa wayang di kelas atau mengenalkan wayang secara sederhana kepada anak-anak, serta bercerita tentang kisah pewayangan dengan bahasa keseharian yang mudah dipahami.

Metode konvensional semacam itu bisa saja dilakukan. Tetapi kadang perlu inovasi metode yang lebih atraktif dan menarik bahkan bisa mengasah imajinasi dan kreativitas anak dengan mengenalkan atau mengikuti sanggar dalang untuk anak-anak, melihat pementasan wayang oleh dalang anak-anak, pembuatan komik wayang secara sederhana, film animasi tentang wayang, mengajak anak-anak menggambar karakter atau tokoh wayang dengan imajinasinya sendiri, kemudian dari gambar tersebut dibuat wayang dari bahan kardus.

Wayang yang telah mereka buat, dipentaskan dalam sebuah pertunjukan wayang kardus yang digarap secara bersama-sama oleh siswa itu sendiri. Pelan-pelan cara ini membuat siswa mencoba untuk mencintai wayang. Ternyata kuncinya adalah kebiasaan, membiasakan setiap saat akhirnya menjadikan mereka mencintai. Dengan mengenalkan wayang, mengunjungi pementasan wayang, mengajak membuat wayang dari media sederhana serta mementaskannya harapannya anak semakin tertarik dengan dunia wayang yang menjadi warisan leluhur bangsa kita.

Harapan ini ternyata semakin nyata bagi siswa. Beberapa siswa setelah lulus dari sekolah dasar tetap mendalami pewayangan bahkan ada yang menjadi “dalang cilik”, ada yang beralih ke kesenian karawitan.

Setidaknya melalui kebiasaan dan pengenalan akan dunia pewayangan, siswa memiliki kemampuan dan fasih membedakan terkait moralitas, “kejahatan” dan “kebaikan”. Mereka pada akhirnya mempunyai tokoh idola yang mampu membangun karakter bagi dirinya. Heroisme pewayangan menjiwai kehidupan mereka sehari-hari untuk berbela rasa pada sesama dan memperhatikan lingkungan sekitarnya. (Adi Wasito S.Pd.SD, Guru Kelas 2 SDN Banyubiru 05 Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here