Tuesday, May 17, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeDosen yang Aktivis Organisasi

Dosen yang Aktivis Organisasi

bernasnews.com — Ayah penulis, Dr. Y. Sri Susilo, SE, M.Si,  dikenal sebagai Dosen, Kolumnis dan Ketua RT, di tempat tinggal. Beliau menjadi dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FBE UAJY) sejak tahun 1992. Dalam sebulan bisa 3-4 kali menulis artikel opini di beberapa surat kabar harian lokal di Yogyakarta . Tanggung jawab melayani masyarakat sebagai Ketua RT 07 RW03 Kampung Langenastran, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta diemban sejak 12 tahun yang lalu.

Aktifitas lain yang dilakukan adalah sebagai Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI) dan Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta. Di samping itu juga menjadi Ketua Pokdarwis “Panembahan Gumregah”, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta. Menjadi pengurus Kamar Dagang dan Industri Daerah Istimewa Yogyakarta (KADIN DIY). Saat ini juga megemban tugas Kaprodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY dan Asesor Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen dan Bisnis (LAMEMBA).

“Sejak dulu saya senang ikut berorganisasi baik di lingkungan sekolah, kampus dan masyarakat,” jelas Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY. Menurut Susilo, dengan berorganisasi akan diperoleh pengalaman dalam berkomunikasi dengan sesama anggota, pengurus dan dengan pihak lain. Disamping itu juga dapat meningkatkan kemampuan manajerial dan jejaring dengan pemangku kepentingan (stake holders). Manfaat lain aktif berorganisasi adalah memperoleh pengalaman berinteraksi dengan berbagai macam perilaku manusia.

“Saya beruntung karena memperoleh kesempatan aktif menjadi pengurus di bebeberapa organisasi yang beragam dari paguyuban, organisasi di masyarakat sampai organisasi profesi,”jelas Susilo yang juga pengurus Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DIY, Keluarga Alumni Fakultas Bisnis dan Ekonomika UGM (KAFEGAMA) DIY, dan Ikatan Dosen Katolik Indonesia (IKDKI) Cabang Yogyakarta.

Kata Susilo, dinamika di setiap organisasi yang satu dengan yang lain berbeda. Untuk paguyuban alumni dan organisasi di tingkat  masyarakat yang anggotanya cenderung heterogen dinamikanya agak berbeda dibandingkan organisasi profesi yang relatif homogen. “Menjadi pengurus organisasi di manapun harus siap menjadi pelayan bagi anggota organisasi,” tegas Susilo, yang memperoleh doktor di bidang ekonomi pembangunan.

Menjadi pelayan dalam arti melayani keperluan setiap anggota organisasi, seperti misalnya dalam administrasi keanggotaan dan kebutuhan anggota seperti pelatihan dan pendampingan. Di samping itu, menjadi pengurus organisasi harus lebih sabar dalam menangani permasalahan organisasi, termasuk masalah perilaku anggota organisasi yang beragam. “Jika terjadi masalah maka pengurus harus menyelesaikan berdasarkan regulasi dan tata cara berorganisasi,” kata Susilo

“Tugas pokok dosen adalah melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ungkap Susilo, yang juga sebagai Kaprodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY.

Dikatakan, dosen harus menjalankan tugas pengajaran termasuk pembimbingan kepada mahasiswa, melaksanakan riset dan publikasi artikel hasil riset dalam jurnal  serta melakukan kegiatan pengabdian masyarakat (abdimas). “Tugas dan kewajiban dosen memang tidak ringan apalagi jika ada tambahan tugas sebagai pengurus di tingkat Prodi, Departemen, Fakultas atau Universitas,” beber Susilo.

Y. Sri Susilo saat olahraga bersepeda beberapa waktu lalu, di Bibis, Kabupaten Bantul, DIY. (Foto: Kiriman Claudia PD)

Bagaimana cara mengatur waktu di tengah kesibukan menjadi dosen, namun masih sempat menjadi pengurus di sejumlah organisasi? “Kuncinya adalah manajemen waktu dan adanya pembagian tugas yang baik di dalam organisasi,” jawab Susilo.

Manajemen waktu, menurut Susilo, adalah mengatur dan menjalankan sesuai dengan jadwal waktu yang telah ditentukan. Pembagian tugas (job desk) dalam organisasi harus dijalankan dengan baik dan didukung oleh staf kesekretariatan atau tim sekretariat yang terampil dan cekatan. “Jika kedua hal tersebut terpenuhi maka dosen masih dapat berkegiatan menjadi pengurus organisasi di masyarakat maupun profesi,” papar Susilo yang juga menggawangi rubrik “Indikator Ekonomi DIY” di sebuah koran local Yogyakarta.

“Saat ini saya diberi tugas khusus oleh Rektor UAJY agar mengurus kenaikan jabatan fungsional (jafung) Guru Besar,” terang dosen yang penggemar olahraga bersepeda sehat (gowes).  Penugasan tersebut diberikan karena sejak memperoleh jafung Lektor Kepala tahun 2004 tidak atau belum mengurus jabatan kenaikan jafung.

Berkaitan dengan penugasan tersebut, saat ini fokus untuk kegiatan riset yang hasilnya akan dipublikasikan di jurnal bereputasi internasional. Aktifitas riset dan menulis artikel hasil riset dilakukan baik secara individu maupun kelompok bersama kolega dosen.

“Tugas utama mahasiswa adalah belajar agar dapat menyelesaikan studi dengan tepat waktu,” pernyataan tersebut sering disampaikan dosen mata kuliah Ekonomika Manajerial dan Ekonomika Digital kepada mahasiswanya. Menurut Susilo, mahasiswa tetap dimungkinkan aktif berorganisasi jika sudah mampu mengelola waktu baik. Bagi mahasiswa yang mampu, dipersilahkan untuk ikut berorganisasi baik di dalam maupun di luar kampus.

“Pengalaman berorganisasi bagi mahasiswa dapat menjadikan pengalaman terutama dalam hal kemampuan manajerial dan pengambilan keputusan,” paparnya. Menurut Susilo, pengalaman menjadi pengurus dan atau anggota anggota organisasi kemahasiswaan juga dapat menjadi modal berharga pada saat mencari pekerjaan setelah lulus studi.

Bagaimana dengan mahasiswa yang juga menjalankan bisnis? “Tidak ada larangan mahasiswa untuk berbisnis atau menjalankan usaha,” jelas Komtap Bidang Organisasi dan Keanggotaan KADIN DIY.

Dikatakan, saat ini cukup banyak mahasiswa yang mempunyai usaha dan keduanya dapat berjalan dengan baik. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kemampuan dalam manajemen waktu dan dukungan infrastruktur berusaha yang memadai. “Banyak mahasiswa yang menjalankan bisnis yang memanfaatkan teknologi informasi dan digitalisasi,” ujar Susilo.

Sebagai contoh, mahasiswa yang menjalankan bisnis baik dalam produksi dan penjualan barang. Untuk pembayaran dapat menggunakan transaksi digital. Proses produksi dapat dikerjakan oleh pemasok. Selanjutnya dalam memasarkan produk dapat memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan Facebook.

“Sekali lagi mahasiswa yang berbisnis harus menyadari tugas pokoknya belajar dan menyelesaikan studi, sehingga harus dipastikan dispilin dalam mengelola waktu,” tandas Susilo mengingatkan.

Suami dari Dr. D. Wahyu Ariani, SE, MT (Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta) ini mempunyai dua anak. Alfonsus Penaga Ricardoputra, SH anak sulung yang alumnus Fakultas Hukum UAJY, sedangkan penulis merupakan anak bungsu. Keluarga Y. Sri Susilo tinggal di Langenastran Lor, Kawasan Njeron Beteng Kraton Yogyakarta.

“Aktifitas yang padat tetap wajib diikuti dengan kegiatan olah raga dan rekreasi,” ungkap penggemar bersepeda sehat (fun bike) dan wisata (touring) bersepeda motor. Kegiatan bersepeda dijalankankan tiga kali dalam seminggu. Sementara bersepeda motor mengunjungi beberapa tempat wisata kuliner dilakukan sebulan sekali.

“Sebelum pandemi saya berenang tiga kali seminggu, namun setelah pandemi ganti dengan bersepeda sehat,” kata Susilo, beberapa waktu lalu dalam wawancara dengan penulis.

“Meskipun sibuk studi dan beraktivitas, mahasiswa harus menyediakan waktu untuk berolahraga dan berekreasi secara rutin,” pesan Susilo. Menurutnya, olahraga diperlukan untuk kesehatan dan kebugaran tubuh. Selanjutnya rekreasi dapat membantu mengurangi stress yang sering menerpa siapa saja.

“Berolahraga dan rekreasi tidak harus mahal, untuk mahasiswa dapat dilakukan dengan jogging atau jalan kali. Sedangkan rekreasi dapat dilakukan dengan jalan-jalan di mal  atau di taman kota,” pungkasnya. (Claudia Primastika Dewanti, Mahasiswi Proldi Ilmu Komunikasi FISIP UNAIR Surabaya)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments