Home News Dokter Meninggal karena Covid-19, RSUP Dr. Sardjito Berikan Klarifikasi

Dokter Meninggal karena Covid-19, RSUP Dr. Sardjito Berikan Klarifikasi

575
0
Logo RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

BERNASNEWS.COM — RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, menjelaskan perihal kabar meninggalnya seorang dokter akibat Covid-19 di rumah sakit tersebut, yang menjadi perhatian publik. Direktur Utama RSUP Dr. Sardjito, Dr. Rukmono Siswishanto, Sp OG(K) M Kes, melalui Ketua Tim Viral Airbone RSUP Dr. Sardjito, Dr. Ika Trisnawati, Sp, PD, KP, membenarkan adanya seorang pasien Covid-19 meninggal dunia yang berprofesi sebagai dokter. Namun, Dr. Ika menegaskan jika dokter tersebut bukan dokter RSUP Dr. Sardjito.

“Pasien ini adalah seorang dokter ahli bedah. Yang harus diklarifikasi adalah, almarhum memang dirawat di RSUP Dr. Sardjito. Tetapi, almarhum ini bukan dokter yang melakukan perawatan di RSUP Dr. Sardjito. Almarhum adalah dokter di luar RSUP Dr. Sardjito, yang karena sakit kemudian dirawat di RSUP Dr. Sardjito,” jelas Dr. Ika, melalui rilis, Senin (24/8/2020).

Lebih jauh. Dr. Ika menjelaskan, bahwa almarhum dokter N mulai dirawat di RSUP Dr. Sardjito, pada 16 Agustus 2020. Selama dua hari dalam ruang  perawatan isolasi biasa, kemudian dipindahkan ke ruang perawatan intensif, untuk mendapatkan pemantauan ketat. Menurut Dr. Ika, kondisi almarhum saat itu masih cukup baik. Hanya saja, dengan adanya komorbit atau penyakit penyerta atau kondisi-kondisi lain yang bisa mempengaruhi prognosis, artinya harapan hidup pasien seperti itu.

“Almarhum memang memiliki beberapa penyakit, bisa dikatakan cukup banyak komorbit atau kelainan atau penyakit-penyakit penyerta, sehingga pemantauan ketat itu disegerakan. Tidak menunggu kondisi memburuk. Artinya, kondisi masih baik sudah kita lakukan perawatan intensif dengan pemantauan ketat. Juga dengan pemberian terapi yang agresif. Artinya, pilihan yang terbaik untuk pasien Covid, treatment-nya ini memang sudah disediakan oleh RSUP Dr. Sardjito, dan itu sudah kita berikan sejak awal,” jelasnya.

Dr. Ika menambahkan, karena kondisi komorbit menyebabkan kemungkinan terburuk bisa terjadi dengan cepat. “Karena pada kasus Covid, satu atau dua komorbit saja sudah mempengaruhi prognosis. Apalagi, kalau ada banyak,” imbuhnya.

Dr. Ika menegaskan, bahwa penderita Covid-19 memiliki risiko kematian tertinggi pada orang dengan obesitas, diabetes, hipotensi, penyakit jantung atau kolesterol. Ini adalah gambaran secara umum, ditambah dengan penyakit-penyakit kronis yang lain, seperti PPOK, yaitu seperti penyakit akibat rokok atau penyakit kronis yang lain, misalnya kanker atau gagal ginjal, atau sakit liver. Ini akan mempengaruhi atau memperburuk kondisi.

“Namun saya tidak menyampaikan hal itu, bahwa yang saya sampaikan tadi semuanya diderita oleh almarhum. Yang saya bisa pastikan, adalah almarhum yang bersangkutan tidak merawat pasien di RSUP Dr. Sardjito. Keberadaan almarhum di rumah sakit ini karena sebagai pasien,” tegas Dr. Ika. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here