Home Ekonomi Diskusi Tim Ahli ISEI Cabang Yogyakarta: Optimisme Perekonomian DIY 2021

Diskusi Tim Ahli ISEI Cabang Yogyakarta: Optimisme Perekonomian DIY 2021

328
0
Suasana Diskusi ISEI Cabang Yogyakarta, Sbtu (19/12/2020), di Bogeys Teras, Hotel Hyatt Regency, Yogyakarta.. (Foto: Kiriman Y. Sri Susilo)

BERNASNEWS.COM — Tradisi tahunan berupa menyelenggarakan diskusi terbatas akhir tahun kembali digelar oleh ISEI Cabang Yogyakarta, diskusi dengan tajuk “Optimisme Perekonomian DIY 2021” diselenggarakan, Sabtu (19/12/2020), di Bogeys Teras, Hotel Hyatt Regency, Yogyakarta.

Hadir dalam diskusi tersebut Rektor UWM/Guru Besar UII Edy Suandi Hamid, Kepala BI DIY Hilman Tisnawan, Kepla OJK DIY Jimmy Parjiman, Dosen FEB UGM Amirullah Setya Hardi, Pengusah Properti Bogat AR, Pengusaha/Waket KADIN DIY Wawan Harmawan dan Pendamping Kampung Wisata/Desa Wisata Bakti Setiawan. Moderator dan perangkum diskusi adalah Y. Sri Susilo, Dosen FBE UAJY sekaligus Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta.

“Rudy Badrudin selaku Dosen STIE YKPN berhalangan hadir, namun mengirimkan catatan singkat sebagai bahan diskusi. Sebelum diskusi seluruh peserta sempat berolahraga. Sebagian bermain golf dan lainnya bersepeda sehat,” ungkap Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta Y. Sri Susilo melalui keterangn tertulis, Sabtu (19/12/2020).

Menurut Y. Sri Susilo, diskusi yang berlangsung selama 2 jam tersebut diperoleh beberapa kesimpulan. Pertama, sejalan dengan kondisi perekonomian nasional maka Perekonomian DIY tahun 2021 diwarnai dengan optimisme. Hal tersebut terkait dengan program vaksinasi Covid-19 yang sudah berjalan dan bebas biaya bagi masyarakat.

Dengan adanya vaksinasi tersebut akan mendorong masyarakat untuk lebih banyak beraktivitas ke luar rumah atau daerah. Kondisi tersebut dapat mendorong konsumsi masyarakat. Meningkatnya konsumsi dapat mendorong pelaku usaha untuk berinvestasi, baik melakukan ekspansi usaha dan membuka usaha baru.

“Adanya vaksinasi ujungnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi DIY (consumption and investnment led growth). Pertumbuhan ekonomi DIY tahun 2021 diprediksi sekitar 5%, tidak berebda jauh dengan prediksi pertumbuhan ekonomi nasional,” terang Dosen FBE UAJY itu.

Kedua, lanjut Y. Sri Susilo, faktor lain yang menjadi dasar optimisme Perekonomian DIY tahun 2021 adalah realusasi Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang semakin implementatif, termasuk di DIY. Seperti diketahui Program PEN diantaranya berupa stimulus fiskal dan non fiskal bagi pelaku ekonomi baik skala ultra mikro, mikro, kecil, menengah dan besar.

“Di samping itu, adanya dukungan stimulus perbankan berupa relaksasi cicilan utang dan bunga yang diundur sampai bulan Maret 2022 dapat memperpanjang “nafas’ dunia usaha,” ungkapnya. Ketiga, pada tahun 2021 diprediksi roda kegiatan parwisata di DIY semakin bergerak lebih cepat. Hal tersebut dikarenakan vaksinasi menjadikan masyarakat, termasuk dari luar DIY, sudah lebih “berani” berwisata datang ke DIY.

Kondisi tersebut menjadi efek pengganda (multiplier effect) bagi Perekonomian DIY, seperti misalnya sektor akomodasi dan rumah makan, destinasi wisata, transportasi, industri kerajinan, perdagangan dan sebagainya. “Untuk diketahui, industri pariwisata dan turunannya berkontribusi terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY sekitar 55%,” terang Y. Sri Susilo.

Keempat, pada semester 1 tahun 2021 sektor jasa pendidikan (khususnya PTN/PTS) belum dapat diandalkan kembali sebagai motor penggerak perekonomian DIY. Kondisi tersebut berkaitan dengan kebijakan kuliah daring (online) oleh mayoritas PTN/PTS pada bulan Feberuari sampai Juni 2021. Dengan model kuliah daring, mahasiswa dari luar DIY belum datang kembali ke wilayah DIY sehingga dampak pengganda dari aktivitas konsumsi mahasiswa tersebut belum dapat diharapkan.

Jika proses vaksinasi berjalan lancar, dimungkinkan pada bulan September-Januari 2021 mendatang dengan perkuliahan model blended (kombinasi kuliah daring dan luring). “Sebagian mahasiswa dari luar DIY akan datang untuk aktif kuliah luring sehingga aktivitas konsumsi mereka mulai dapat menggerakkan perekonomian. Seperti diketahui, kontribusi jasa pendidikan terhadap PDRB DIY pada tahun 2019 sekitar 9%,” bebernya.

Nara sumber dan Modertor Diskusi ISEI Cabang Yogyakarta foto bersama usai berolah raga. (Foto: Kiriman Y. Sri Susilo)

Terkait dengan Perekonomian DIY tahun 2021, jelas Susilo, ada beberapa hal yang harus menjadi catatan bagi pemda DIY dan seluruh pemangku kepentingan. Pertama, persentase penduduk miskin di DIY dimungkinkan menurun namun belum signifikan. Dampak Pandemi Covid-19 pada tahun 2020 menyebabkan kemiskinan meningkat. Data per Maret 2020 sudah menunjukkan kenaikan penduduk miskin menjadi 12,28% yang semula sebesar 11,44% pada September 2019.

Dikatakan, ketimpangan pendapatan di DIY pada Maret 2020 sudah mencapai 0,434 dan tertinggi di Indonesia. Pada tahun 2021 dimungkinkan ketimpangan (dan kemiskinan) tersebut dapat menurun jika Pemda DIY secara konsisten malanjutkan kebijakan dan program pembangunan dengan lebih menekankan pada sinergitas diantara OPD baik di tingkat Pemda DIY maupun di tingkat Kabupaten/Kota.

Kedua, angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) DIY juga meningkat 3,338 persen per Februari 2020. Angka ini naik 0,52 persen diba dibandingkan TPT Februari 2019 sebesar 2,86 persen. TPT tersebut dimungkinkan meningkat karena PHK yang terjadi di beberapa sektor ekonomi, termasuk industri pariwisata.

Sementara rekomendasi yang dihasilkan dari diskusi terbatas Tim Ahli ISEI Cabang Yogyakarta sebagai berikut, pertama, Pemda DIY harus bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota di DIY dan Pemerintah Pusat dalam mengoptimalkan implementasi Program PEN, termasuk program jaring pengaman sosial (JPS). Sebagian APBD harus dialihkan untuk mendukung pemulihan ekonomi dan JPS agar terjadi akselerasi pemulihan ekonomi di DIY.

Kedua, industri pariwisata harus didorong menjadi lokomotif pemulihan ekonomi di DIY dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (3M dan 3T). Kebijakan dan program pariwisata harus secara bertahap dirubah dari berbasis pariwisata massal (mass tourism) menuju pariwisata berkualitas (quality tourism). Pengembangan pariwisata pendidikan (edu tourism) dan pariwisata kesehatan (health tourism) secara bertahap harus disiapkan oleh Pemda DIY beserta Pemkab/Pemkot di DIY.

Ketiga, mayoritas roda industri pengolahan di DIY pada saat ini sudah mulai bergerak. Pesanan konsumen mancanegara sudah mulai berdatangan. Mereka terkendala biaya untuk memproduksi pesanan tersebut. Untuk melakukan kredit di perbankan terkendala jaminan/agunan. Di sisi lain, kondisi perbankan sedang kelebihan likuditas.

“Untuk itu diperlukan dari pemerintah, misalnya dengan mengoptimalkan peran Asuransi Jamkrindo dan atau terobososan kebijakan. Jika dimungkinkan Bank BPD DIY secara selektif dapat membantu eksportir yang mengalami permasalahan di atas,” tutup Y. Sri Susilo selaku perngkum diskusi. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here