Home Ekonomi Diskusi Terbatas KADIN DIY: ‘Menuju Terwujudnya Jogja Financial Forum’

Diskusi Terbatas KADIN DIY: ‘Menuju Terwujudnya Jogja Financial Forum’

629
0
Para peserta diskusi terbatas KADIN DIY, Sabtu (8/5/2021). Foto: Kiriman Y. Sri Susilo.

BERNASNEWS.COM — Pengurus Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DIY periode 2020-2025 telah dilantik dan dikukuhkan oleh Rosan Perkasa Roeslani selaku Ketua Umum KADIN Indonesia, Rabu (5/5/2021), di Kawasan Candi Prambanan, Yogyakarta. Kepengurusan KADIN DIY tersebut dipimpin oleh GKR Mangkubumi dibantu oleh 21 Wakil Ketua yang mengordinasi beberapa bidang. Setiap Wakil  Ketua membawahi 3-5 anggota Komite Tetap.

Dalam acara pelantikan tersebut, GKR Mangkubumi selaku Ketua Umum berharap seluruh pengurus mengabdikan tenaga, pikiran dan sumber daya yang dimiliki untuk kemajuan orgamisasi dan kemajuan usaha anggota KADIN DIY. “Pengurus dan anggota KADIN adalah pengusaha pejuang. Pengusaha pejuang dapat diartikan pengurus dan anggota KADIN DIY harus turut berkontribusi nyata dalam percepatan pemulihan ekonomi,” ungkap GKR Mangkubumi.

Sementara Robby Kusumaharta selaku Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan menyatakan, dalam jangka pendek administrasi dan kesekretariatan Kantor KADIN DIY segera akan ditata kembali agar dapat mendukung kinerja organisasi dengan lebih optimal. “Program-program KADIN DIY ke depan harus bersinergi dengan program Pemda DIY, serta Kabupaten/ Kota dengan melibatkan akademisi dalam konteks triple helix,” ujar Robby.

Dikatakan, dengan adanya sinergi Pengusaha (KADIN, termasuk Perbankan), Pemda (termasuk Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan), dan Akademisi (PTN/ PTS dan ISEI), maka permasalahan usaha termasuk UMKM dapat dicarikan solusi dengan lebih optimal.

Suasana diskusi terbatas KADIN DIY, Sabtu (8/5/2021). Foto: Kiriman Y. Sri Susilo.

Setelah pelantikan para Wakil Ketua gerak cepat untuk berkoordinasi dengan anggotanya (Komite Tetap). Salah satu diantaranya adalah Wawan Hermawan selaku Wakil Ketua Bidang Keuangan, Perbankan, Keuangan Syariah dan Pasar Modal, dengan melakukan diskusi terbatas terkait dengan program kerja dan beberapa hal yang terkait, Sabtu (8/5/2021).

Hadir dalam diskusi Ascar Setiyono, Mursida Rambe, Rudi Hermanto dan Rr. Sarwi Peni Wulandaru. Hadir juga Robby Kusumaharta dan Y. Sri Susilo selaku Komite Tetap Pengembangan Organisasi dan Keanggotaan. Dalam diskusi tersebut  muncul ide perlu membentuk forum diskusi keuangan, baik konvensional dan syariah.

“Saya berharap forum Jogja Financial Forum (JFF) segera terwujud,” harap Wawan Hermawan. Dari dalam forum tersebut diharapkan dapat dicarikan solusi terhadap suatu masalah dan peluang investasi serta beberapa hal yang terkait dengan keuangan di DIY. Dalam forum tersebut, lanjut Wawan Hermawan, sekaligus juga merupakan ajang komunikasi antara Pengusaha, Pemda, Akademisi, Perbankan, Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB), Praktisi Keuangan, dan Regulator dalam hal ini BI dan OJK.

Peserta diskusi sepakat dan mendukung terwujudnya JFF. “Sektor keuangan sangat penting jadi penyangga kegiatan usaha di DIY, khususnya UMKM,” tegas Robby Kusumaharto. Seperti diketahui, jumlah UMKM mencapai 95% lebih dari total unit usaha di DIY. “Dengan kondisi ini maka UMKM butuh dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk sektor keuangan, perbankan dan LKBB,” ucapnya.

“Pengembangan UMKM membutuhkan dukungan akses ke sumber pembiyaaan, khususnya dari Bank dan LKBB,”jelas Y. Sri Susilo. Banyak Usaha MIkro dan Kecil (UMK) yang sebenarnya feasible (layak) untuk dibiayai namun belum atau tidak memenuhi persyaratan administratif perbankan (feasible namun tidak bankable).

Sebenarnya perbankan di DIY, imbuh Y. Sri Susilo, sudah membuat terobosan untuk memberi kemudahan agar UMK dapat lebih mudah mengakses perbankan, namun fakta di lapangan pemanfaatan belum optimal. “Hal tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi KADIN DIY beserta pemangku kepentingan,” pungkas Y. Sri Susilo, Sabtu (8/5/2021) dalam rilisnya ke Bernasnews.com. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here