Home Ekonomi Diskusi Terbatas KADIN DIY Bidang LHK, Menuju Bisnis Berkelanjutan

Diskusi Terbatas KADIN DIY Bidang LHK, Menuju Bisnis Berkelanjutan

488
0
Suasana diskusi terbatas Bidang LHK KADIN DIY 2020 - 2025, Selasa (11/5/2021), di Kantor KADIN DIY, Jalan Sultan Agung, Yogyakarta. (Foto: Kiriman Y. Sri Susilo)

BERNASNEWS.COM — Setelah dilantik dan dikukuhkan oleh Ketua Umum KADIN Indonesia Roslan P. Roeslani, pengurus KADIN DIY dibawah kepimpinan GKR Mangkubumi langsung tancap gas untuk berkoordinasi. Sebanyak 21 bidang di bawah masing-masing Wakil Ketua Umum (Wakum) melaksanakan rapat koordinasi (rakor).

Salah satu bidang yang melaksanakan rakor adalah bidang Lingkungan Hidup dan Konservasi (LHK) dibawah Wakum Rahadi Saptata Abra. Rakor dan diskusi bidang LHK dilakukan, Selasa (11/5/2021), di Kantor KADIN DIY, Jalan Sultan Agung, Yogyakarta. Dihadiri oleh anggota Komite Tetap yang terdiri dari Syauqi Soeratno, Teddy Alamsyah, dan Fajarrudin Achmad Muharom. Juga hadir Heri Dendi selaku Penasehat KADIN DIY, Robby Kusumaharta selaku Wakum Bidang Organisasi dan Keanggotaan dan Y. Sri Susilo selaku Komite Tetap Pengembangan Organisasi dan Keanggotaan.

Topik diskusi adalah bisnis berkelanjutan (sustainability business). Dalam pengantar diskusi Robby Kusumaharta menyatakan, bahwa bisnis berkelanjutan didasari oleh triple bottom line (TBL). “Triple bottom line adalah konsep bisnis berkelanjutan yang mengukur nilai kesuksesan sebuah perusahaan menggunakan tiga kriteria (3P), yaitu People (Sosial), Planet (Lingkungan), dan Profit (Ekonomi),” jelas Robby.

Dikatakan, 3P digunakan untuk mengukur kesuksesan sebuah perusahaan yang dulunya hanya terpaku pada keuntungan finansial saja, dengan 3P perusahaan dapat melakukan hal lain dan mengkaji dampak bisnis terhadap lingkungan.

Sebagian peserta diskusi terbatas Bidang LHK KADIN DIY 2020 – 2025. (Foto: Kiriman Y. Sri Susilo)

Sementara dalam konsep bisnis berkelanjutan, dunia usaha tidak lagi hanya dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line (SBL) atau nilai perusahaan (corporate value) atau segi kondisi ekonominya (financial) saja. “Kondisi keuangan saja tidak cukup menjamin nilai perusahaan tumbuh secara berkelanjutan (sustainable) dan  ketiga pilar (3P) ini merupakan kunci dari konsep bisnis berkelanjutan,” ungkap Heri Dendi.

Dari hasil diskusi terbatas tersebut diperoleh benang merah, yaitu manfaat implementasi konsep TBL pada Program Corporate Social Responsibility (CSR). “Pengimplementasian konsep TBL pada program CSR memiliki berbagai manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung kepada perusahaan,” jelas Abra.

Kesimpulan dari diskusi terbatas Bidang LHK KADIN DIY adalah, Pertama, meningkatkan reputasi perusahaan dimana citra perusahaan akan kepeduliannya terhadap masyarakat dan lingkungan. Kedua, terpenuhinya tanggung jawab sosial dan lingkungan akan lebih memudahkan tercapainya bisnis yang berkelanjutan.

Ke depan menjadi tugas Pengurus Bidang LHK untuk mensosialisasikan konsep 3P serta implementasi konsep 3P dalam CSR kepada seluruh perusahaan di DIY. Salah satu bentuk apresiasi yang akan diberikan dalam bentuk “KADIN Award” bagi perusahaan anggota KADIN DIY yang memenuhi kriteria yang ditentukan. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here