Monday, June 27, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeEkonomiDiskusi Terbatas Akhir Tahun: Prospek Ekonomi, Bisnis dan Keuangan DIY 2022

Diskusi Terbatas Akhir Tahun: Prospek Ekonomi, Bisnis dan Keuangan DIY 2022

BERNASNEWS.COM — Tahun 2022 dinilai akan menjadi momentum akselerasi pertumbuhan ekonomi bagi Indonesia. Hal ini karena kondisi market sedang berada menuju fase normalisasi, dan Indonesia justru dinilai akan berada pada fase akselerasi di tahun 2022 mendatang. Beberapa pihak menyatakan, bahwa pada rentang waktu 2020 hingga 2022 ada tiga fase penting, yaitu fase pandemi di 2020, kemudian fase recovery di 2021, dan akan dilanjutkan dengan fase normalisasi pada pasar global, sementara Indonesia justru akan mengalami fase akselerasi di 2022.

Tahun 2022 juga berpotensi menjadi momentum kebangkitan ekonomi Indonesia. Pemerintah memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi pada 2022 bisa berada pada kisaran 5 persen-5,5 persen. Bank Indonesia (BI) memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 akan mencapai 4,7-5,5 persen dari 3,2-4,0 persen pada tahun 2021. Didorong oleh berlanjutnya perbaikan ekonomi global yang berdampak pada kinerja ekspor yang tetap kuat, serta meningkatnya permintaan domestik dari kenaikan konsumsi dan investasi. Hal ini juga didukung vaksinasi, pembukaan sektor ekonomi, dan stimulus kebijakan.

Bagaimanakah dengan proyeksi dan prospek ekonomi, bisnis dan keuangan DIY tahun 2022? Pertanyaan tersebut dijawab dalam forum diskusi akhir tahun 2021, yang diselenggarakan oleh ISEI DIY, KADIN DIY, Bank Indonesia DIY, OJK DIY dan KAFEGAMA DIY, Senin (27/12/2021).

“Sejalan dengan membaiknya ekonomi global dan nasional maka diperkirakan perekonomian  DIY dapat tumbuh kisaran 4,8-5,8 persen (yoy) sedangkan inflasi diperkirakan 2,9-3,33 persen (yoy) pada tahun 2022,” ungkap Plt. Kepala Perwakilan BI DIY Miyono.

Lapangan usaha atau sektor yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi DIY antara lain Jasa Lainnya, Infokom dan Konstruksi. Menuruit Miyono, sektor yang mulai bergerak dan tumbuh postif antara lain Akomodasi dan Mamin, Jasa Pendidikan, Perdagangan dan Industri Pengolahan. “Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi tahun 2022 masih didorong ekspor, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) serta konsumsi masyarakat,” katanya.

Peserta diskusi terbatas akhir tahun hasil kerjasama dengan ISEI DIY, Bank Indonesia DIY, OJK DIY dan KAFEGAMA DIY, Senin (27/12/2021). Foto: Kiriman Susilo.

Kepala OJK DIY Jimmy Parjiman menjelaskan, bahwa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi DIY tahun 2022 maka penyaluran kredit perbankan harus meningkat baik secara kuantitas maupun kualitas. Menurut Parjiman, sampai akhir tahun 2021 LDR (Loan to Deposit Ratio) sekitar 61 persen dan sejalan dengan pemulihan ekonomi maka penyaluran kredit harus didorong agar investasi juga meningkat.

Dikatakan, dengan meningkatnya investasi maka kegiatan ekonomi akan meningkat dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi di DIY juga terdongkrak. “OJK DIY juga berupaya untuk mengoptimalkan program peningkatan literasi dan inklusi keuangan salah satunya melalui TPAKD,” beber Jimmy Parjiman.

Sementara itu, Wakil Ketua KADIN DIY Wawan Harmawan berhadap insentif  baik fiskal (pajak) dan keuangan (kredit) tetap diberikan kepada pengusaha, meskipun kondisi ekonomi dan bisnis semakin membaik namun insentif tersebut tetap dibutuhkan untuk mendorong percepatan pemulihan usaha di tingkat mikro.

Dengan membaiknya kondisi usaha atau bisnis di tingkat mikro maka percepatan pemulihan ekonomi di level makro juga akan terdongkrak. “Di masa pemulihan ekonomi sebaiknya pengusaha tidak perlu dibebani regulasi baru yang dapat mengganggu pemulihan usaha atau bisnis,” tegas Wawan Harmawan, yang juga Ketua Himpunan Pengusaha Nahdliyin DIY.

Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta/ DIY, Y. Sri Susilo menambahkan, bahwa prospek ekonomi, bisnis, dan ekonomi DIY sangat bergantung dari efektifitas dari keberlanjutan Program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) dan efektivitas pemerintah bersama masyarakat dalam mengendalikan pandemi Covid-19.

Menurut Dosen FBE UAJY yang hobi gowes ini, dalam jangka pendek kegiatan pariwisata DIY dapat digerakkan kembali dengan menerapkan pariwisata CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Enviromental Sustainability). Sementara dalam jangka panjang orientasi pariwisata DIY harus berubah dari mass tourism menjadi quality tourism. Untuk menuju quality tourism, Pemda DIY dan Kabupaten /Kota harus didukung oleh pemangku kepentingan seperti KADIN DIY, BI DIY, OJK DIY, ISEI DIY dan PTN/PTS melalui program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM).

“Kesimpulan dari diskusi adalah pemulihan ekonomi akan tetap berlanjut sehingga prospek ekonomi, bisnis dan  keuangan DIY tahun 2022 menjadi optimis dan semakin membaik,” tutup Y. Sri Susilo selaku Koordinator forum diskusi tersebut.

Hadir selaku penanggap diskusi tersebut, antara lain Rudy Badrudin, Wakil Ketua ISEI DIY; Amirullah Setya Hardi, Dosen FEB UGM; Bogat AR, Pengusaha dan Ketua KAFEGAMA DIY; Bakti Wibawa, Perekayasa BRIN; Ahmad Ma’ruf, Tenaga Ahli Parampara Praja DIY dan Staf Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY. (ted)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments