Home News Bisnis Properti di DIY Membuat Harga Tanah Mahal

Bisnis Properti di DIY Membuat Harga Tanah Mahal

42
0
Bogat Agus Riyono (Direktur Utama PT. Saraswanti Indoland Development)

BERNASNEWS.COM — Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta bekerjasama dengan The Alana Hotel and Convention Center, menyelenggarakan diskusi bertajuk “Prospek Bisnis Properti di DIY”, Senin (20/05/2019), di Mataram City International Center, The Alana Hotel, Yogyakarta. Tampil sebagai pembicara Bogat Agus Riyono (Direktur Utama PT. Saraswanti Indoland Development) dan Sri Fitriani (Deputi Kepala Bank Indonesia DIY). Moderator diskusi Rudy Badrudin (Dosen STIE YKPN).

Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta, Y.Sri Susilo, kepada Bernasnews.com, menjelaskan, bahwa sebagai latar belakang diselenggarkan diskusi, adalah potensi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu dari daerah tujuan wisata di Indonesia, juga terdapat 100 lebih perguruan tinggi, baik negeri dan swasta. Kedua faktor tersebut menjadikan wilayah DIY menjadi tujuan investasi bagi investor. Salah satu bukti hal tersebut adalah bisnis properti relatif berkembang pesat.

“Berkembangnya bisnis properti menjadikan salah satu penyebab harga tanah di sebagian wilayah DIY, khususnya di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, menjadi mahal. Kondisi tersebut mendorong investor properti di DIY kemudian lebih fokus pada hunian vertikal (high rise building), seperti misalnya apartemen,”jelas Susilo melalui rilis yang dikirim, Selasa (21/05/2019).

Sementara, Bogat Agus Riyono, mengungkapkan, pengembang properti terutama apartemen beberapa tahun terakhir kian gencar mengarahkan bisnisnya ke Yogyakarta. Sejumlah apartemen pun tumbuh di kawasan yang berada di dekat kampus-kampus dan menyasar target para orang tua yang memiliki anak kuliah di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman.

Lanjut, Bogat, faktor lain yang memicu pergeseran pengembangan bisnis apartemen ke arah Yogyakarta, tak lain karena keberadaan apartemen itu sendiri sebagai fenomena hunian kekinian. Perubahan kebiasaan mahasiswa milenial yang membutuhkan hunian sesuai gaya hidup kekinian, dinilai membuat permintaan hunian jenis apartemen meningkat.


“Meskipun bisnis properti, khususnya apartemen di DIY cukup potensial, namun masih terjadi hambatan dalam proses investasinya. Hambatan tersebut terkait dengan proses perijinan dan dukungan infrastruktur yang belum cukup memadai,” papar Bogat Agus Riyono.


Deputi Kepala Bank Indonesia DIY, Sri Fitriani, menambahkan, mulai beroperasinya Bandara Internasional Yogyakarta juga akan mempengaruhi prospek bisnis properti di sekitar kawasan bandara (Kabupaten Kulonprogo).

“Pembangunan dan pengembangan kawasan bandara menjadi kota bandara (aerocity) di masa mendatang diperlukan pembangunan hotel, perkantoran, dan hunian. Pembangunam kawasan bandara dapat menjadikan wilayah pertumbuhan baru di kawasan barat DIY”, tutur Sri Fitriani.

Acara diskusi yang dihadiri oleh segenap pengusur harian dan tim kerja ISEI Cabang Yogyakarta, diantaranya tampak hadir Lincolin Arsyad (Penasehat) dan Eko Suwardi (Ketua), kemudian dilanjutkan dengan buka bersama sebagai tradisi kegiatan di bulan ramadhan. (*/ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here