Home News Dirlantas Polda Jateng Buat Formulasi Tekan Tren Pelanggaran dan Laka Ojol

Dirlantas Polda Jateng Buat Formulasi Tekan Tren Pelanggaran dan Laka Ojol

62
0
Dirlantas Polda Jateng Kombes Pol Arman Achdiat. Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Untuk menekan potensi kecelakaan sekaligus mengurangi kemungkinan jumlah korban kecelakaan lalu lintas seiring adanya tren kenaikan kecelakaan (laka) dan pelanggaran ojek online (ojol) di wilayah Jawa Tengah, Direktorat Lalu-lintas Polda Jateng melakukan berbagai langkah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membuat formulasi atau pedoman 3E dan I yaitu edukasi (pendidikan masyarakat), engineering (rekayasa), enforcement (penegakan hukum) dan identifikasi atau registrasi.

Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Jawa Tengah Kombes Pol Arman Achdiat SIK MSi kepada wartawan di Semarang, Selasa (4/8/2020), mengungkapkan, jumlah pelanggaran Ojol di Jateng naik 30 pesen dari 677 pelanggaran pada tahun 2018 menjadi 696 pelanggaran pada tahun 2019. Sedangkan jumlah kecelakaan yang melibatkan Ojol naik 79 persen dibanding periode 2018 ke 2019.

Dikatakan, kenaikan jumlah kecelakaan yang melibatkan Ojol sangat signifikan, juga tren kenaikan jumlah korban yang meninggal sebesar 60 persen, luka ringan naik 93 persen dan kerugian materiil naik 93 persen. “Tren kenaikan naik perlu dicermati mengingat penggunaan Ojol makin membudaya. Hal ini penting demi mewujudkan Kamseltibcarlantas,” kata Kombes Pol Arman Achdiat.

Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Jateng Kombes Pol Arman Achdiat SIK MSi. Foto : Istimewa

Menurut perwira polisi lulusan Akpol 1992 ini, keberadaan Ojol sudah membudaya dan sulit dihindarkan. Meski demikian, posisinya sebagai angkutan penumpang dinilai dilematis. Jika dikategorikan angkutan penumpang maka penyedia jasa harus mengasuransikan pengendara dan penumpang, termasuk barang yang dibawa dari segala risiko.

Kombes Pol Arman Achdia mengatakan bahwa posisi Ojol sebagai penyedia jasa angkutan orang dan barang masih menjadi perdebatan. Padahal bila mengacu Undang-Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ), khususnya pasal 309 dan Pasal 313, jelas diatur kewajiban perusahaan mengasuransikan pengemudi, penumpang dan barang yang dibawanya sebagai wujud tanggungjawab.

Dikatakan, dalam bekerja pengendara ojek online menggunakan handphone melihat aplikasi untuk  mendapatkan penumpang, pesanan dan jalur perjalanan sehingga mengganggu konsentrasi pengendara terganggu melihat handphone selagi dalam posisi berkendara di jalan, khususnya jalan raya. Ini tergolong berbahaya karena beresiko terjadinya kecelakaan, apalagi terkadang pengendara membawa penumpang.

Kombes Pol Arman Achdiat mengatakan bahwa tanpa bermaksud mencampuri kewenangan lembaga lain, Dirlantas Polda Jateng terpanggil mencermati fenomena kecelakaan dan pelanggaran yang melibatkan Ojol demi mewujudkan keamanan keselamatan ketertiban dan kelancaran lalu lintas di jalan.

Mengenai bentuk kegiatan yang akan dilakukan, Arman Achdiat mengingatkan semua berpedoman pada tugas pokok dan fungsi. Dia menyebut pedoman 3E dan I yaitu edukasi (pendidikan masyarakat), engineering (rekayasa), enforcement (penegakan hukum) dan identifikasi atau registrasi. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here