Monday, August 8, 2022
spot_imgspot_imgspot_img
spot_img
HomeNewsDiduga Menabrak Prosedur dalam Penetapan Tersangka, Polres Bantul Dipraperadilankan

Diduga Menabrak Prosedur dalam Penetapan Tersangka, Polres Bantul Dipraperadilankan

BERNASNEWS.COM – Karena diduga banyak prosedur yang ditabrak oleh penyidik dalam proses penyelidikan hingga penetapan tersangka, Polres Bantul dipraperadilankan oleh tersangka. Keputusan Praperadilan terhadap Polres Bantul itu dilakukan Leohardy Fanani.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah hasil audit Kantor Akuntan Publik (KAP) Henry dan Sugeng yang diakui oleh Polres Bantul merupakan audit independen dan kemudian menjadi alat bukti penetapan status tersangka bagi Leohardy Fanani.
 
Hal itu disampaikan Dadang Danie P, SH pengacara atau kuasa hukum dari tersangka Leohardy Fanani kepada wartawan di warung angkringan Klangenan, Jalan Patang Puluhan, Yogyakarta, Senin (13/12/2021). Pada kesempatan itu, Dadang Danie didampingi AM Putut Prabantoro, yang sejak awal menjadi konsultan hukum bagi Leohardy Fanani. Pendaftaran praperadilan dilakukan di Pengadilan Negeri Bantul Yogyakarta pada Senin (13/12/2021) pagi.

Menurut AM Putut Prabantoro, masyarakat Indonesia harus yakin bahwa keadilan ada di Indonesia. Sila kelima Pancasila menjamin hal itu. Yang paling penting saat ini adalah masyarakat yang menjadi korban harus berani menyuarakan ketidakadilan melalui berbagai cara termasuk media mainstream atau media sosial tetapi tetap dalam koridor hukum.
 
“Kita harus mendukung Kapolri Jenderal Pol Sigit untuk mewujudkan visi PRESISInya. Dan pilar keberhasilan PRESISI adalah semua anggota Polri tanpa kecuali harus mewujudkan PRESISI. Saya yakin apa yang ditegaskan oleh Kapolri beberapa waktu lalu tentang jajarannya, akan dibuktikan. Yang diperlukan Kapolri, ini menurut saya, adalah masyarakat harus bersuara dan jangan takut dengan ancaman. Sekarang zaman teknologi komunikasi yang canggih. Namun semuanya harus dilakukan dalam koridor hukum,” tegas AM Putut Prabantoro, yang juga Taprof Bidang Ideologi dan Sosbud, Lemhannas RI.
 
Menurut Dadang, pihaknya harus mengajukan praperadilan. Dan dari sini dan dikawal oleh rekan-rekan media, keadilan itu akan terlihat jelas.  Sejak awal pemeriksaan hingga penetapan kasus tersangka terhadap Leohardy Fanani, banyak kejanggalan dan kesalahan prosedur yang dilakukan Polres Bantul.
 
Secara rinci Dadang mengarai kesalahan prosedur yang dimaksud antara lain, pertamma, hingga Senin 13 Desember 2021 siang, tidak ada SPDP (Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan) yang diterima oleh Leohardy Fanany. Padahal SPDP ini sangat penting karena merupakan pintu gerbang dimulainya penyidikan. Jika tidak ada SPDP yang dikirim ke Leohardy Fanani dapat dikatakan prosedur penyidikan dan seterusnya tidak benar.

Pengacara Dadang Danie P, SH (kiri) dan Konsultan Hukum AM Putut Prabantoro dalam konferensi pers di Waroeng Klangenan, Yogyakarta, Senin (13/12/2021). Foto: Istimewa

Kedua, dalam proses penyidikan, ada dua Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) yang diacu dalam kasus ini (terlampir) yang mengundang banyak pertanyaan mengapa ada dua sprindik.

Ketiga, acuan pemanggilan Leohardy Fanany untuk diambil keterangan sebagai Tersangka merujuk pada surat yang salah yakni PEMANGGILAN SEBAGAI SAKSI dan Bukan Tersangka. Meskipun demikian, proses pengambilan keterangan sebagai Tersangka tetap dilaksanakan.

Keempat, sebelum dilaporkan pada 26 Oktober 2020 di Polres Bantul, PT Pixel Perdana Jaya melalui pengacaranya Pitoyo SH MH dari Law Office Alianto Wijaya SH MH & Rekan pada 24 Agustus 2020 telah mengambil paksa sertifikat tanah dan bangunan milik Lusi Harianto yakni isteri dari Leohardy Fanani pada 24 Agustus 2020. Fakta pengambilan paksa sertifikat itu diabaikan oleh penyidik.

Kelima, nilai kerugian yang diderita PT Pixel Perdana Jaya atas perbuatan Leohardy Fanani periode tahun 2016-2019 juga berubah-ubah. Dalam Berita Acara Serah Terima Penyerahan Sertifikat 24 Agustus 2020 dikatakan kerugian PT Pixel Perdana Jaya sebesar Rp 5,5 miliar dan kerugian ini ditegaskan lagi oleh Pitoyo SH pada 29 Oktober 2020 bahwa kerugian Rp 5,5 miliar berdasarkan audit internal.

Ketika dilaporkan ke Polres Bantul pada 26 Oktober 2020 kerugian yang dilaporkan sebesar Rp 3 miliar. Namun ketika Leohardy diperiksa pertama kali pada 15 Maret 2021, kerugian perusahaan sebesar Rp 2,2 miliar berdasarkan audit internal. Dan terakhir ketika penetapan tersangka kerugian perusahaan sebesar Rp 2,2 miliar yang hasil audit independen yang dilakukan dari Kantor Akuntan Publik Henry dan Sugeng. Berdasarkan hasil audit ini, Polres menetapkan Leohardy Fanani sebagai tersangka.

Keenam, hasil audit ini tidak valid karena dalam proses penentuan auditor independen Polres Bantul tidak meminta persetujuan dari Leohardy. Auditor yang diaku independen oleh penyidik Polres Bantul ternyata dipilih dan dibayar oleh PT Pixel Perdana Jaya sendiri. Yang paling penting adalah Leohardy Fanani yang katanya merugikan perusahaan tidak diwawancarai oleh Kantor Akuntan Publik Henry & Sugeng. Sementara Leohardy Fanani mengaku uang yang digunakan sebesar Rp 678 juta dan itu seharusnya sudah impas dengan diambilnya sertifikat yang nilainya Rp 1,3 miliar.
 
“Kasus ini aneh semua. Ibaratnya, mengaku kehilangan mobil mewah tetapi kemudian mengaku kehilangan motor bebek. Bagaimana menentukan kerugian jika Leohardy tidak diwawancarai karena dia adalah pemegang kunci. Selain Leohardy, seharusnya juga yang diwawancara adalah Florentina Silalahi, Novi Lestari, Sri Hartati dan Yohanes Trihandoko, yang adalah karyawan PT Pixel Perdana Jaya Cabang Yogyakarta,” ujar Dadang. (*/lip)



 

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments