Home News Digital Evidence Cabinet Membantu Pendokumentasian Bukti Digital dan Fisik

Digital Evidence Cabinet Membantu Pendokumentasian Bukti Digital dan Fisik

223
0
Dr Yudi Prayudi (kiri) didampingi Ahmad M Raf’ie Pratama ST MT PhD, Sekretaris Jurusan Informatika FTI UII (tengah) dan Fietyata Yudha S.Kom M.Kom, Dosen Jurusan Informatika FTI UII / Peneliti Program Studi Forensika Digital FTI UII (kanan), saat memaparkan hasil penelitiannya kepada wartawan di Ruang PPs FTI UII, Rabu (29/1/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM – Selama ini penanganan barang bukti yang disebut chain of custody, yaitu sebuah prosedur untuk secara kronologis melakukan pendokumentasian terhadap barang bukti serta pencatatan interaksi terhadapnya, sangat mudah dilakukan. Namun, pendokumentasian, pencatatan dan kontrol terhadap bukti digital masih sangat lemah.

Hal ini terjadi karena karakteristik khusus dari bukti digital seperti kemudahan dalam hal modifikasi, copy, hapus, transfer menjadi tantangan sendiri dalam proses dokumentasi bukti digital. Sehingga chain of custody untuk bukti digital lebih sulit dibandingkan dengan barang bukti fisik pada umumnya dan merupakan sebuah permasalahan yang sangat luas dan kompleks.

Dr Yudi Prayudi S.Si M.Kom, Dosen Jurusan Informatika FTI UII / Ketua Program Studi Forensika Digital FTI UII (kiri) saat memberi penjelasan kepada wartawan di Ruang Program Pascasarjana (PPs) FTI UII, Rabu (29/1/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

“Regulasi yang ada saat ini masih berorientasi pada barang bukti fisik, sehingga muncul kesenjangan dalam penerapan regulasi apabila diorientasikan pada bukti digital. Ketiadaan framework diidentifikasi sebagai faktor yang menyebabkan belum dapat diterapkannya mekanisme yang sama untuk chain of custody pada barang bukti fisik dan bukti digital,” kata Dr Yudi Prayudi S.Si M.Kom, Dosen Jurusan Informatika FTI UII / Ketua Program Studi Forensika Digital FTI UII, kepada wartawan di Ruang Program Pascasarjana (PPs) FTI UII, Rabu (29/1/2020).

Kajian terhadap masalah tersebut mengantarkan Yudi Prayudi untuk meraih gelar doktor pada Program Doktor Ilmu Komputer DIKE FMIPA UGM Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Yudi Prayudi yang didampingi Ahmad M Raf’ie Pratama ST MT PhD, Sekretaris Jurusan Informatika FTI UII dan Fietyata Yudha S.Kom M.Kom, Dosen Jurusan Informatika FTI UII / Peneliti Program Studi Forensika Digital FTI UII, mengatakan, akibat dari masalah tersebut terjadi penyimpanan barang bukti, pencatatan informasi kontekstual dan kontrol terhadap aksesibilitas pada barang bukti digital yang tidak dapat diimplementasikan sebagaimana mestinya.

Hal ini mengakibatkan adanya inkonsistensi dalam penanganan barang bukti yang berdampak pada menurunnya kredibilitas penegak hukum/ pemeriksa/ praktisi forensik digital dalam menangani kasus cybercrime.

Dr Yudi Prayudi S.Si M.Kom (kiri). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Untuk mengatasi masalah tersebut, menurut doktor ke-10 di Jurusan Informatika FTI UII ini, solusi yang dihasilkan berbasiskan pada pendekatan regulasi yang ada dan menghasilkan sebuah framework yang memuat aspek konseptual dan teknis.

Kedua aspek tersebut kemudian diintegrasikan menjadi satu kesatuan terminologi dengan nama Digital Evidence Cabinet (DEC). “Konsep dasar dari framework ini adalah sentralisasi penyimpanan melalui analogi bentuk fisik dari kantong, label, rak dan lemari menjadi bentuk struktur digital melalui pendekatan xml untuk komponen evidence identifier, evidence unit, evidence bags, evidence rack, evidence cabinet dan evidence repository,” kata Yudi Prayudi.

Implementasi framework DEC ini telah berhasil mensimulasikan skenario penanganan kasus yang membutuhkan pemeriksaan bukti digital pada lingkup Laboratorium Forensik Digital serta memberikan output chain of custody yang sesuai dengan yang diharapkan.

Menurut Yudi Prayudi, hal ini dapat menjadi landasan bagi pemeriksa digital maupun praktisi forensik digital lainnya untuk dapat mengimplementasikan DEC sebagai solusi chain of custody untuk bukti digital. DEC diharapkan dapat membantu penegak hukum/ pemeriksa/ praktisi forensik digital dalam mengimplementasikan konsep chain of custody untuk bukti digital sebagai salah satu aspek penting dalam proses investigasi cybercrime.

“Penerapan DEC diharapkan akan meningkatkan kredibilitas dan konsistensi penegak hukum/ pemeriksa/ praktisi forensik digital dalam menjalankan tugas-tugas investigasi yang melibatkan bukti digital,” kata Yudi Prayudi. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here