Diakon Vincentius Budi Nahiba: Inilah Tuhan, Saya Siap Melaksanakan KehendakMu

    501
    0
    Romo Vincentius Budi Nahiba Pr menerimakan komuni kepada umat usai ditahbiskan di Keuskupan Timika, Papua, Kamis (14/10/2021). Foto: Istimewa

    BERNASNEWS.COM – Pengantar: Pada hari Selasa, 12 Oktober 2021 dan Kamis 14 Oktober 2021 sebanyak 8 Diakon Praja (Pr) ditahbiskan menjadi Imam Praja di Keuskupan Timika, Papua oleh Uskup Keuskupan Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC. Upacara tahbisan pertama dilaksanakan pada hari Selasa, 12 Oktober 2021, di Paroki St Missael, Bilogai dan upacara tahbisan kedua dilakasanakan pada Kamis, 14 Oktober 2021, di Paroki St Petrus-Mauwa.

    Pada tahbisan pertama yang dilaksanakan pada hari Selasa, 12 Oktober 2021, di Paroki St Missael, Bilogai, diikuti 3 Diakon yakni Diakon Fransiskus Sondegau dari Paroki St Yohanes Pemandi, Bilai, Diakon Yoseph Bunai dari Paroki Kristus Jaya Komopa dan Diakon Yeskiel Belau dari Paroki St Missael Bilogai.

    Sementara pada tahbisan kedua pada hari Kamis, 14 Oktober 2021, di Paroki St Petrus-Mauwa diikuti 5 Diakon yakni Diakon Slvester Dogomo dari Paroki St Maria Imaculata Moanemani, Diakon Febronius Angelo (Paroki Freindemetz Maumere, Flores, NTT, Diakon Paulus Leopati Yerwuan (Paroki Kristus Jaya Wamena), Diakon Silfester Bobii (Paroki St Maria Imaculata Moanemani) dan Diakon Vincentius Budi Nahiba dari Paroki St Alfonsius Rodrigues Pademangan, Jakarta.

    Salah satu yang ditahbiskan adalah Diakon Vincentius Budi Nahiba Pr. Ia pun menuliskan refleksi atas tahbisan itu seperti di bawah ini. Redaksi.

    HERE AM I  LORD

    I am coming to do Your Will

    Ecce Ego Sum, mite me

    Inilah Tuhan, saya siap melaksanakan kehendakMu (YES 6:8)

    (Diakon Vincentius Budi Nahiba)

    Here am I Lord merupakan moto refleksi perjalanan hidup dan panggilan saya sejak saya awal memasuki masa pembinaan formasi Tahun Orientasi Rohani di Wisma Puruhit-Keuskupan Agung Jakarta pada tahun 2008 yang lalu. Moto yang sama menjadi moto tahbisan imamat saya. Hampir lebih 15 (lima belas) tahun saya menjalani formasi panggilan yang panjang dan penuh liku dengan menjadi calon imam baik pada awalnya di seminari tinggi Keuskupan Agung Jakarta, Novisiat Dominikan, dan Keuskupan Timika. Saya merefleksikan bahwa selama perjalanan hidup dan panggilan saya yang jatuh bangun, Tuhan Allah selalu membimbing dan menjaga serta merawat semangat api panggilan dalam diri saya di berbagai tempat perutusan.

    (Baca juga: Keuskupan Timika Tambah 8 Imam Baru dan Dua Diakon)

    Berbagai proses perjalanan panggilan ini dari tahun orientasi rohani, studi filsasat teologi, tahun orientasi pastoral dan kerasulan dan penerimaan tahbisan imamat di Keuskupan Timika semata-mata karena kehendakNya yang memanggil aku dari tengah masyarakat untuk meninggalkan keluarga, pekerjaan, harta duniawi, dan segala keterikatan duniawi dan berpaling kepada Sang Gembala yang empunya panggilan. HERE AM I LORD.

    Romo Vincentius Budi Nahiba Pr. Foto: Istimewa

    Saya merasakan diri saya seperti Nabi Yesaya yang dipanggilkan Tuhan untuk menjadi perpanjang tanganNya ditengah umat Allah. Saya adalah manusia lemah dan penuh berbagai kekurangan serta kekurangan, Tuhan Allah ingin memakai dan mempergunakan saya sebagai alatNya untuk melayani umat Allah di berbagai tempat di Keuskupan Timika tercinta.

    Saya merasakan Tuhan Yesuslah yang memanggil daku untuk berkarya dan mengabdi di Keuskupan Timika dan merasul ditengah umat Papua yang tercinta. Mengapa Keuskupan Timika? Saya merasakan bahwa bukan semata-mata saya pribadi yang memilih di kebun Keuskupan Timika. Tuhan Allah yang menuntun dan membuka jalan untuk diriku di Keuskupan Timika melalui proses awal menjadi guru volunteer Jesuit di Wahgete.

    Imam baru foto bersama Uskup Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC (belakang tengah). Foto: Istimewa

    Dengan menjadi seorang guru volunteer, saya berproses bersama anak-anak kelas satu SD yang mayoritas orang asli Papua. Dari pintu kevolunteran ini saya mulai mengenal sedikit demi sedikit dinamika Keuskupan Timika melalui perjumpaan dengan umat sederhana di Wahgete, belajar berpastoral dengan pastor paroki Wahgete (ikut turney ke stasi), mengikuti kegiatan ibadat kombas, mengikuti Misa inkulturasi Mee di Gereja Katolik Wahgete dan berbagai pengalaman rohani yang membuat diriku mengatakan Ya Tuhan, saya mau mengikutiMU menjadi penjala manusia di Kebun Keuskupan Timika.

    Saya siap melaksanakan kehendakMu, inilah Tuhan, utuslah aku. Saya memilih Keuskupan Timika dan dengan penuh kesadaran, saya menyerahkan seluruh hidup dan karya saya kepada pimpinan keuskupan Timika. (Diakon Vincentius Budi Nahiba Pr)

    HERE AM I  LORD

    I am coming to do Your Will

    Ecce Ego Sum, mite me

    Inilah Tuhan, saya siap melaksanakan kehendakMu

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here