Home News Diaggap Merusak Jalan, Masyarakat Protes Truk Pengangkut Pasir Lewat Jakal

Diaggap Merusak Jalan, Masyarakat Protes Truk Pengangkut Pasir Lewat Jakal

1462
0
Salah satu spanduk di Jalan Kaliurang yang menolak untuk truk lewat. Foto: Twitter VisitKaliurang

BERNASNEWS.COM – Keberadaan truk pengangkut pasir yang melalui Jalan Kaliurang, Yogyakarta dianggap meresahkan. Bahkan rupanya keresahan tersebut disampaikan dalam spanduk yang berisikan protes dari masyarakat. Spanduk tersebut diketahui terpasang di beberapa titik di Jalan Kaliurang.

Salah satu warga yang mengetahui adanya soanduk tersebut adalah Margaret Witri. Warga Kaliurang km 23 itu mengatakan bahwa sudah beberapa hari saat ia lewat melihat spanduk tersebut terpasang.

“Iya ada banyak spanduk itu,” ungkapnya saat dihubungi pada Senin (17/2/2020).

Spanduk penolakan truk pasir tersebut beberapa terpasang tak terlalu jauh dari rumahnya. Salah satunya yang ada di Jalan Kaliurang km 20 dekat kantor Desa Hargobinangun, Pakem. Sementara spanduk lainnya terpasang di Jalan Kaliurang km 18.

Di dalam spanduk besar tersebut telihat tulisan yang berisikan kritikan warga terhadap truk-truk pengangkut material pasir yang lewat di sepanjang Jalan Kaliurang. Bahkan foto-foto spanduk tersebut pun viral di Twitter.

“Tolak Truk Overtonase Lewat Jakal” dan “#savejakal Jakal Darurat Ambyar” seperti yang tertulis di spanduk. Keberadaan truk pasir tersebut dianggap merugikan tak hanya bagi warga yang tinggal di sekitar Jakal namun juga warga lainnya yang melewati jalan tersebut.

Pejabat Kades Hargobinangun, Suhardiman, mengatakan pihaknya hingga kini masih belum mengetahui siapa pemasang spanduk tersebut. Ia membenarkan bahwa di beberapa titik telah terpasang spanduk yang memuat protes tersebut. Menurutnya, spanduk tersebut telah terpasang sejak Sabtu (15/2/2020) lalu.

“Baru kali ini ada protes. Namun kami harapkan masyarakat tetap tenang,” ungkaonya.

Mengetahui adanya spanduk itu, Suhardiman rencananya akan berkomunikasi dengan pengelola penambang pasir. Seperti yang diketahu bahwa lokasi penambangan pasir sendiri masuk di wilayah Kecamatan Cangkringan. Meski terletak di Cangkringan, sebagian besar lalu lintas kendaraan truk pasir tersebut melewati Jakal termasuk daerah Pakem. Karena itulah pihaknya juga merasa bahwa lalu-lalang truk pasir tersebut oleh masyarakat dirasa mengganggu. Apa lagi Jalal notabenenya merupakan jalur yang serung dipakai oleh wisatawan.

“Nanti kami koordinasikan lebih lanjut bersama instansi terkait termasuk Dinas Perhubungan. Harapannya ada win-win solution baik bagi pelaku usaha tambang maupun pariwisata,” imbuhnya.

Spanduk protes menolak truk melewati Jalan Kaliurang. Foto: Twitter VisitKaliurang

Seperti yang diketahui Jalan Kaliurang sendiri sebetulnya dilarang untuk dileeati truk besar seperti truk pengangkut pasir. Hal itu diungkapkan oleh Kabid Lalu Lintas Dishubkominfo Kabupaten Sleman yang menjabat saat itu, Sulton Fatoni, tepatnya di tahun 2013. Sulton pernah mengatakan bahwa ada jalur khusus yang bisa dilewati oleh truk pasir. Hal tersebut guna mengatasi kerusakan jalan yang terjadi dan mencegah kemacetan di jalur pariwisata.

Ada dua jalur khusus yang bisa dilewati truk penambang pasir itu yakni jalur lokasi penambangan pasir di Kecamatan Cangkringan menuju ke Jalan Solo, dan menuju ke Jalan Magelang. Pihaknya bersama jajaran kepolisian juga sempat menegaskan akan menindak bagi supir truk pasir yang melanggar dengan melewati jalur yang tak semestinya.

“Truk-truk yang tetap sengaja melintas di jalur yang bukan untuk angkutan pasir maka akan dilakukan penindakan tegas,” pungkas Sulton pada 10 Februari 2013.

Sementara itu, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pakem, Beja Wiryanto mendukung protes yang termuat dalam spanduk meski tak tahu siapa yang memasang. Beja beranggapan jika truk pasir melewati Jakal dan overtonase atau kelebihan muatan maka bisa merusak kondisi jalan. Selain itu acapkali truk malah menimbulkan kemacetan di jalur wisata terutama saat menjelang libur akhir pekan dimana banyak kendaraan yang melewati Jalal.

Tak hanya itu, keberadaan truk pasir menurutnya juga dianggap bisa membahayakan keselamatan pengendara lain. Sering truk pasir yang lewat tak ditutup dengan terpal sehingga material pasir beterbangan dan bisa mengganggu keselamatan pengendara lain.

Beberapa truk melewati Jalan Kaliurang. Foto: Twitter VisitKaliurang

Ia memprediksi setidaknya ada 200 truk pengangkut pasir yang lalu lalang setiap hari. Hal tersebut jutru ironis sebab dana kompensasi penambangan justru dinikmati oleh masyarakat Kecamatan Cangkringan karena lokasi tambang ada di wilayah tersebut. Padahal, infrastruktur jalan yang rusak sebagian besar ada di luar daerah Cangkringan.

Atas dasar itulah Beja meminta Pemkab Sleman mengeluarkan kebijakan supaya lalu lintas truk pasir dialihkan ke Jalan Cangkringan agar tak mengganggu kenyamanan wisatawan.

“Prinsipnya, saya bukan mengkritisi soal penambangan pasir, toh mereka sudah mendapat izin resmi dari pemerintah. Hanya, saya berharap persoalan lalu lintas ini diperhatikan karena berdampak pula terhadap kenyamanan wisatawan,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here