Home Ekonomi Di Kopi Lali Pakem, Makan Sepuasnya dan Bayar Seikhlasnya

Di Kopi Lali Pakem, Makan Sepuasnya dan Bayar Seikhlasnya

1986
0
Ny Sujarwo (kanan) ikut melayani pengunjung mengambilkan menu makanan yang diinginkan pengunjung di Kopi Lali Pulowatu, Pakem, Minggu (27/9/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM – Usaha atau bisnis rumah makan di mana pun pasti bertujuan untuk mencari keuntungan, meski besarnya bervariasi. Karena untuk mencari keuntungan maka rumah makan di mana pun menetapkan harga menu yang disediakan yang tercantum dalam daftar menu. Dan harga yang ditetapkan tentu sudah diperhitungkan untuk mengembalikan modal beserta keuntungan yang didapat.

Namun, tidak demikian dengan rumah makan/minum Kopi Lali di Dusun Beneran Jalan Pulowatu, Purwobinangun, Pakem, Sleman. Pemilik rumah makan tersebut tidak menetapkan harga menu makanan dan minuman yang disediakan. Konsumen membayar harga menu makanan dan minuman yang dikonsumsi secara sukarela atau seikhlasnya. Bahkan tidak membayar pun tidak apa-apa.

Suasana rumah makan Kopi Lali sangat ramai, Minggu (27/9/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

“Konsep kami adalah makan sepuasnya dan bayar seikhlasnya. Artinya, makan dan minum sampai kenyang atau sepuasnya dan bayarnya sukarela, seberapa pun, dengan ikhlas. Bahkan tidak membayar pun tidak apa-apa,” kata Sujarwo, pemilik rumah makan Kopi Lali saat ditemui Bernasnews.com, Minggu (27/9/2020) pagi.

Bagi pebisnis tulen konsep seperti ini tentu tidak menguntungkan. Sebab, dengan membayar seikhlasnya, apalagi sama sekali tidak membayar, usaha tersebut-cepat atau lambat-pasti bangkrut. Karena jangankan untung, modal yang dikeluarkan pun bisa-bisa tidak kembali sehingga usaha bisa berhenti di tengah jalan.

Namun, bagi Sujarwo, dengan konsep makan sepuasnya dan bayar seikhlasnya tidak akan membuat usaha tersebut merugi apalagi bangkrut. Ini terbukti, selama dua bulan usaha tersebut berjalan, modal yang dikeluarkan untuk membeli bahan-bahan makanan dan minuman serta biaya operasional termasuk membayar gaji 6 karyawan bisa tertutup bahkan lebih.

Suasana rumah makan Kopi Lali Pakem, Minggu (27/9/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

“Karena saya yakin ada subsidi silang. Yang makan dan minum dengan membayar seikhlasnya sedikit atau bahkan yang tidak membayar, bisa ditutupi oleh mereka yang membayar berlebih atau lebih besar dari harga sebenarnya. Karena mengetahui konsep ini untuk tujuan mulia yakni untuk membantu sesama, pasti ada yang membayar lebih dari harga sesungguhnya. Dan setidaknya hal ini sudah terbukti selama dua bulan usaha ini berjalan dimana semua modal dan biaya operasional bisa tertutupi, bahkan berlebih,” kata Sujarwo, pensiunan dari sebuah lembaga sejak 17 tahun lalu (ia menyebut nama lembaga tersebut tapi diminta untuk tidak ditulis/disebutkan, red).

Sujarwo mengaku membuka usaha tersebut memang bertujuan untuk berbagi. Bukan hanya ia sebagai pemilik rumah makan yang berbagi kepada sesama, tapi juga mereka yang berkunjung untuk makan dan minum di Kopi Lali, juga ikut berbagi. Karena mereka yang membayar seikhlasnya bisa membantu dan berbagi kepada mereka yang tidak membayar. Sementara mereka yang membayar seikhlasnya besar tentu berbagi dan membantu mereka yang membayar sedikit atau tidak membayar. Dan dari pengalaman dua bulan usaha tersebut berjalan, hampir semuanya membayar.

“Ada memang mahasiswa yang tidak membayar, namun mereka harus bantu cuci piring. Begitu pula ada anak-anak kecil yang datang hanya membawa uang Rp 2.000 boleh makan dan minum sepuasnya. Itu hampir setiap sore,” kata ayah tiga anak yang semuanya sudah berkeluarga ini.

Sebagian pengunjung berfotoria di depan baliho Kopi Lali Pakem, Minggu (27/9/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Sujarwo mengaku, dengan konsep ini ia memang ingin berbagi dan menjadi saluran berkat bagi sesama. “Mereka yang makan dan minum dengan membayar juga menjadi saluran berkat bagi sesama,” kata Sujarwo seraya menambahkan bahwa bukan keuntungan yang dicari tapi kebahagiaan dan kepuasan batin karena telah membantu sesama melalui usaha tersebut.

“Saya sudah selesai dengan diri saya sendiri. Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk berbagi kepada sesama lewat rumah makan ini,” katanya.

Rumah makan berbentuk joglo dengan lahan parkir yang cukup luas tersebut setiap hari ramai pengunjung. Mereka datang dari berbagai wilayah di DIY maupun luar DIY, dengan sepeda motor maupun mobil. Di rumah makan tersebut, makanan diambilkan oleh pelayan termasuk oleh isteri Sujarwo sendiri sesuai menu yang dipilih/diinginkan pengunjung/konsumen. Dan bila porsi pertama habis, bisa tambah lagi dengan menu yang berbeda atau menu yang sama sebelumnya.

Menu yang disediakan antara lain nasi cakalang, oseng-oseng keong, oseng-oseng salak, jambal, oseng-oseng kulit tela dan sebagainya dengan rasa yang enak. Selain itu ada tela goreng, tempe mendoan, kopi asli, jahe dan minuman tradisional lainnya.

“Boleh nambah berapa kali, silahkan. Pokoknya sampai kenyang dan puas,” kata Sujarwo yang sekali-kali membantu melayani pengunjung mengambilkan menu makanan yang diinginkan bila suasana agak ramai.

Setelah makan dan minum, pengunjung dipersilahkan meletakkan piring/gelas bekas makanan/minuman di meja yang telah disediakan lalu memasukkan uang seikhlasnya ke kotak yang disediakan. Dan pengunjung juga boleh mengisi kotak untuk grup musik yang menghibur pengunjung di rumah makan tersebut.

Bukan sekadar usaha sebagai tempat orang untuk berbagi, namun rumah makan tersebut juga sebagai tempat untuk mengajarkan toleransi. Sehingga meski Sujarwo seorang Muslim, namun dari 6 karyawannya, 3 orang beragama Islam dan 3 orang beragama Katolik. Mereka berbaur dan menyatu seperti saudara.

“Saya ingin menunjukkan bahwa meski kita berbeda agama tapi sesungguhnya kita adalah saudara, karena diciptakan oleh Tuhan yang sama. Dan konsep rumah makan ini juga sebenarnya merupakan wujud dari ajaran agama apa pun, yakni semangat berbagi dan wujud dari cinta kasih,” kata pria asal Magelang yang baru dua bulan tinggal di Pakem membuka usaha tersebut.

Ketika ditanya lahan dan rumah makan tersebut sebenarnya milik siapa, Sujarwo hanya menjawab : milik Tuhan. Karena semua yang ada sebenarnya adalah titipan Tuhan, manusia hanya berhak mengelola untuk kepentingan sesama. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here