Sunday, May 22, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeNewsDi Forum Debriefing, 3 Dubes RI Ungkapkan Peluang Bisnis di Negara Mereka...

Di Forum Debriefing, 3 Dubes RI Ungkapkan Peluang Bisnis di Negara Mereka Pernah Bertugas

bernasnews.com – Tiga Duta Besar (Dubes) RI yang pernah bertugas di Bangladesh, Republik Tunisia dan Sri Lanka merangkap Republik Maladewa mengungkapkan kondisi ekonomi dan peluang bisnis di negara-negara tempat mereka pernah bertugas. Hal itu mereka sampaikan dalam Forum Debriefing Kepala Perwakilan RI Seri II tahun 202 yang diadakan Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN), Kementerian Luar Negeri RI bekerja sama dengan Program Studi Hubungan Internasional (PSHI) UII secara virtual, Selasa 22 Maret 2022.

Dalam Forum Debriefing yang mengangkat tema Diplomasi Ekonomi pada Pasar Non-Tradisional itu, Duta Besar Rina P Soemarno, Deputi Bidang Koordinasi Politik Luar Negeri Kemenko Polhukam/ Duta Besar LBBP RI untuk Republik Rakyat Bangladesh merangkap Nepal Periode 2017-2021 mengungkapkan, ekonomi Bangladesh berkembang dengan pesat di bawah pemerintahan Syekh Hasyina. GDP nasional Bangladesh adalah kedua terbesar di Asia Selatan.

Duta Besar Rina P Soemarno, Deputi Bidang Koordinasi Politik Luar Negeri Kemenko Polhukam/ Duta Besar LBBP RI untuk Republik Rakyat Bangladesh merangkap Nepal Periode 2017-2021. Foto: Humas UII

Dikatakan, sejak 2011, Bangladesh berhasil mempertahankan GDPnya. Bangladesh sudah memperlihatkan karakter sebagai negara dengan ekonomi berkembang. Seperti negara-negara lain, perekonomian Bangladesh cukup terpengaruh pandemi.

Pada tahun 2018, Bangladesh telah memenuhi kriteria untuk menjadi negara dengan ekonomi bisnis. Bangladesh dikategorikan sebagai negara the next 11 yakni emerging markter bersama Indonesia dan Mesir dan negara lain. Pada 2017-2021, babak peningkatan kerjasama bilateral antar kedua negara.

PM Bangladesh beberapa kali mengunjungi Indonesia, sementara Presiden Jokowi hadir dalam KTT G8 di Bangladesh. Indonesia mengirim bantuan kemanusiaan berupa tenda, ambulance dan lain-lain untuk membantu Bangladesh menampung pengungsi Rohingya pada tahun 2017.

Menurut Rina P Soemarno, ada beberapa hal yang patut dicatat dari keberhasilan Indonesia dengan kerjasama Bangladesh, yakni ekspor bus. KBRI untuk pertama kalinya menyelenggarakan Business Forum di Indonesia Fair 2018 dan berhasil mengundang 93 perusahaan Indonesia dari sektor bisnis. Potensi 297 juta US Dollar. Pada 2019, hadir 75 pengusaha yang menghadirkan bisnis forum dan transaksi real.

Kegiatan tersebut sampai saat ini ditindaklanjuti. Banyak perusahaan Indonesia yang masuk ke Bangladesh seperti dari Pertamina. Terdapat 127 persen nilai perdagangan Indonesia-Bangladesh. Setiap tahun, 95 persen surplus bagi Indonesia dari Bangladesh. Bangladesh merupakan penyumbang surplus terbesar kedua dari Asia Selatan dan kedelapan di dunia bagi Indonesia dari sektor sawit, ban mobil dari Gajah Tunggal dan batu bara.

Dikatakan, ada tantangan untuk bermitra dengan Bangladesh karena harus bersaing dengan India sebagai negara tetangganya. Selain itu, sistem perbankan yang cukup sulit, kurang transparan dan sulitnya kepastian hukum, kurangnya penghormatan terhadap hak cipta. Harus perlu merealisasikan jalur kedatangan langsung Indonesia-Bangladesh.

Seharusnya mulai dilakukan tahun 2020 namun terhalang pandemi. Penting bagi Bangladesh karena akses langsung bagi produk mereka. Belum dapat persetujuan terkait cost tariff antar kedua negara untuk melanjutkan kerjasama bisnis. Karena itu, perlu adanya promosi agar masyarakat Bangladesh lebih mengenal Indonesia, tidak hanya Bali. “Harus memperkenalkan fisibilitas Indonesia yang GDPnya sudah masuk triliun dan peringkat 16 besar dunia,” kata Rina P Soemarno.

Duta Besar Prof Dr Ikrar Nusa Bakti, yang menjadi Duta Besar LBBP RI untuk Republik Tunisia periode 2017-2021. Foto: Humas UII

Sementara Duta Besar Prof Dr Ikrar Nusa Bakti, yang menjadi Duta Besar LBBP RI untuk Republik Tunisia periode 2017-2021 mengatakan, fungsi ekonomi mencapai 120 juta USD. GDP Tunis hanya 38,4 juta USD per tahun. Sektor ekonomi di manufacture, agriculture. Produk unggulan mereka adalah minyak zaitun dan kurma.

Nilai impor Tunisia jauh lebih besar dibandingkan ekspornya. Jumlah ekspor Tunisia ke Indonesia sangat kecil yakni 83 juta Dinar Tunisia tahun 2021. Impor terbesar Indonesia adalah kurma Tunisia. Sedangkan ekspor kita mencakup mesin, sepatu dan organic chemical product, paper dan alat musik termasuk furnitur.

Menurut Ikrar, sampai saat ini KBRI Tunisia belum menyelesaikan Preferential Trade Agreement (PTA) yang diluncurkan pada 2017. Awalnya berharap selesai 2020, namun karena Covid-19 PTA belum selesai dan kan dilanjutkan bulan Mei 2022. “KBRI selalu mengikuti pameran dagang sebagai bagian dari diplomasi bisnis, salah satunya mengundang pebisnis Indonesia dan Tunisia. Pada 2018, acara diplomatic Bazar Indonesia menjadi pemeran terbesar di dalam acara tersebut,” kata Ikrar.

Dikatakan, bukan karena jumlah Kedubes tapi karena jumlah eksporter dari Indonesia yang cukup banyak hadir. Diselenggarakan bisnis to bisnis meeting antara importir dan eksportir yang menjadi lonjakan ekspor Indonesia ke Tunisia tahun 2021 yang mencapai lebih dari 100 juta USD.

Di Tunisia hanya ada kadin regional sehingga KBRI mendatangi kadin-kadin tersebut sebagai bagian dari diplomasi perdagangan. Indofood akan membuat pabrik di wilayah Nahl yang akan semakin meningkatkan perdagangan Indonesia-Tunisia. Hasil pabrik ini akan diekspor ke Libya dan Aljazair.

Selain melakukan pendekatan kepada mitra-mitra ekonomi lewat kamar dagang regional, juga melalukan kerjasama dengan kadin Tunisia- Belanda yang membantu meningkatkan kerjasama kedua negara. PTA, kerjasama pertahanan menjadi PR kerjasama Indonesia-Tunisia. Perdagangan dengan menggunakan Tunisia Dinar menjadi salah satu tantangan dalam perdagangan kedua negara.

Duta Besar I Gusti Ngurah Ardiyasa, yang menjadi Duta Besar LBBP RI untuk Sri Lanka merangkap Republik Maladewa periode 2017-2021. Foto: Humas UII

Sedangkan Duta Besar I Gusti Ngurah Ardiyasa, yang menjadi Duta Besar LBBP RI untuk Sri Lanka merangkap Republik Maladewa periode 2017-2021 mengungkapkan, investasi diharapakan untuk membangun infrastruktur dan memperkuat indsutri. Pada 2017-2021, surplus besar neraca perdagangan kedua negara. Komoditas ekspor utama Sri Lanka terdiri dari kopi, teh dan lain-lain. Sementara Indonesia merupakan negara tujuan ekspor Sri Lanka ke-46 dengan nilai ekspor 53 jutaan USD.

Regulasi tarif dan non tarif menjadi halangan lain bagi ekspor Indonesia ke Sri Lanka. Pelarangan ekspor pupuk kimia dan penggantian ke pupuk organik menjadi hambatan akses pasar kedua negara. Hal ini menjadi pertanyaan pebisnis Indonesia mengenai ketidakkonsistenan kebijakan ini.

Sementara kegiatan promosi pariwisata kerap dilakukan di Sri Lanka. Produk potensial di pasar Sri Lanka selain produk furnitur, semen, spare part motor, makanan, ada 15 produk lainnya. Tantangan pasar yang dihadapi di Sri Lanka adalah ketidakkonsistenan kebijakan negara tersebut. Strategi pasar di Sri Lanka adalah menyediakan komoditas baik, mampu bersaing dan memiliki agen kredibel.

Banyak produk bagus yang tidak bisa masuk karena agen yang tidak kredibel. Indofood dan Indomie masuk ke Sri Lanka. Sementara Maladewa merupakan sebuah pasar yang potensial namun karena rendahnya jumlah penduduk, sehingg pasarnya masih kecil. Dengan angka yang ada, pasar Maladewa cukup potensial bagi komoditas Indonesia. Indonesia telah menginisiasi PTA dengan Sri Lanka namun helum terealisasi karena masih harus mengevaluasi yang baru.

Menanggapi semua itu, Hasbi Aswar S.IP MA PhD, Dosen Program Studi Hubungan Internasional UII, mengatakan bahwa faktor utama kerjasama adalah pemimpin, seperti Presiden Joko Widodo yang sangat mengedepankan kerjasama ekonomi di era pemerintahannya. Keberhasilan kerjasama tidak hanya dari pemimpin pusat tapi juga dari Dubes.

Dikatakan, respon dari negara mitra juga sangat menentukan bagaimana kedua negara bisa saling bekerjasama, contohnya respon dan kebijakan yang berbeda dari Bangladesh dan Sri Lanka. Respon yang terbuka dan kondisi ekonomi Indonesia memungkinkan hal itu bisa terjadi.

“Diplomasi ekonomi pada pasar non-tradisional merupakan salah satu pilihan bagi negara yang ada hari ini. Panasnya kondisi Asia Pasifik akan menentukan bagaimana hubungan dagang kepada negara-negara tradisional yang tertarik ke dalam isu high politics seperti US, China, Russia, Jepang, Aussie dan negara EU. Hal ini bukan hanya tantangan, tapi juga peluang. Indonesia harus melibatkan budaya, pariwisata dan Diaposra dalam hal diplomasi bisnis,” kat Hasbi Aswar.

Dr Teuku Faizasyah, Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kementerian Luar Negeri RI. Foto: Humas UII

Dr Teuku Faizasyah, Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kementerian Luar Negeri RI, mengatakan, melalui forum ini, publik memperoleh informasi langsung dalam penyelenggaraan bilateral dan multilateral. Ajang ini menjadi upaya dalam memperkaya kebijakan yang disampaikan kepada BSKLN Kemenlu.

Selain itu, forum ini juga menjadi ajang silaturahmi. Pada tahun ini, forum diselenggarakan dengan pendekatan berbeda dan mengusung tema tertentu. “Forum ini merupakan forum De Briefing pertama tahun 2022. Forum ini merupakan forum kedua di UII yang merupakan bagian dari nota kesepahaman antara Hubungan Internasional UII dan BSKLN Kemenlu,” kata Teuku Faizasyah.

Prof. Fathul Wahid ST MSc PhD, Rektor UII. Foto: Humas UII

Sementara Prof. Fathul Wahid ST MSc PhD, Rektor UII, menyampaikan terimakasih kepada BSKLN yang telah memberikan kepercayaan kepada UII dalam menyelenggarakan acara ini.

“Saya percaya forum ini akan sangat bermanfaat bagi banyak khalayak yang peduli akan pentingnya membangun kerjasama internasional melalui diplomasi. Betul globalisasi telah memudarkan batas antar negara namun tidak akan menghilangkan keunikan setiap negara. Saya melihat forum De Briefing ini serupa dengan Ar rihlah karya Ibnu Batutah yang akan memperluas wawasan pesertanya,” kata Prof Fathul Wahid. (lip)




spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments