Sunday, August 14, 2022
spot_imgspot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniDi Balik Kunjungan Jokowi ke China

Di Balik Kunjungan Jokowi ke China

bernasnews.com – Hari ini, Presiden Jokowi rencananya akan diterima oleh Presiden China, Xi Jinping di Beijing. Kedekatan Jokowi dan Xi Jinping terbilang istimewa, mereka sudah melakukan pertemuan lebih dari sepuluh kali. Selain itu, sejak Covid-19 mereka kerap berhubungan lewat telepon sebanyak enam kali. Terakhir, di tahun ini saja, Januari sampai Maret 2022 mereka sudah berkomunikasi sebagai dua kali. Demikian catatan intensitas hubungan mereka yang dicatat oleh Duta Besar China untuk Indonesia Lu Kang saat konferensi pers bulan Maret lalu.

Jokowi memang mengakui punya kedekatan hubungan dengan Xi Jinping, bukan hanya sekedar soal China adalah mitra dagang terbesar yang mencapai US$ 110 miliar pada tahun 2021, atau juga bukan hanya karena Beijing investor terbesar ketiga dengan total nilai investasi US$ 3,2 miliar di tahun 2021. Lebih dari itu, saat Kongrensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), Jokowi mengaku belajar banyak dari rahasia kesuksesan China termasuk belajar cara membangun infrastruktur dan konektivitas.

Keseriusan Jokowi belajar dari China memang sudah ada sejak awal dia menjadi Presiden. Negara pertama yang dia kunjungi setelah dilantik adalah China. Saat itu Jokowi bercerita ketika makan malam bersama Xi Jinping, dia meminta saran agar Indonesia juga bisa seperti China yang maju dalam sekejap. Diawali dengan sistem kepartaian “zhongguo Gongchandong lingdao de duo hezuo” gotong royong banyak partai di bawah satu kepemimpinan. Ini dibuktikan Jokowi dengan merangkul Jenderal Prabowo Subianto rival sengitnya untuk menjadi menteri, Sebuah upaya meminimalisir oposisi. Bahkan Jokowi secara terbuka mengatakan “bahwa di Indonesia ini tidak ada yang namanya oposisi kayak di negara lain. Demokrasi kita adalah demokrasi gotong royong.”

Xi Jinping juga memberi saran agar menyusun perencanaan jangka panjang. Atas saran ini, Jokowi langsung menguraikan mimpi Indonesia yang harus dicapai di tahun 2025 saat kemerdekaan Indonesia berusia 100 tahun. Patokan waktunya juga sama. Xi Jinping saat dilantik jadi presiden 2013 mengobarkan semangat “Zhongguo meng” atau “mimpi China” dengan tenggat waktu 100 tahun kemerdekaan China.

Terakhir, Xi Jinping memberi saran soal infrastruktur. Ada pepatah China “yao zhi fu, xian xiu lu” bangunlah dulu jalan jika kamu ingin kaya, dan ini diterapkan Jokowi.

Di hadapan peserta Program Pendidikan Lemhanas di Istana Negara (18/11/2014) dia bercerita, “Saya bertanya, saya bertemu wakil Partai Komunis China (PKC).Pada saat mereka membuka negaranya besar-besaran untuk investasi asing apa mereka tidak takut?” lantas perwakilan PKC itu menjawab, sama sekali tidak takut karena hasil investasi langsung mereka akan bertahan selamanya di China. Pemerintah China tidak mempermasalahkan asal modal yang digunakan untuk membangun berbagai infrastruktur yang dibutuhkan untuk membangun konektivitas perekonomian. Jokowi lantas mengatakan pola pikir serupa harus dimiliki pemerintah Indonesia. Pembangunan infrastruktur harus diutamakan karena merupakan faktor penggerak ekonomi rakyat yang paling efektif.

Tak heran, sejak itu pembangunan infrastruktur digencarkan, bagi Jokowi infrastruktur merupakan pondasi penting suatu negara. Dalam enam tahun terakhir telah terbangun 1.640 jalan tol dan 4.600 kilometer jalan bukan tol. Terbangun 15 bandara baru dan 38 perbaikan bandara lama. Juga telah terbangun 124 pelabuhan dan 22 bendungan. Bahkan untuk pegembangan pelabuhan, Jokowi sampai melakukan studi banding ke Tianjin yang memiliki pelabuhan tersibuk di dunia, Pacific International Container Port.

Lantas apakah ada yang salah jika Jokowi berguru ke negeri China? Bisa jadi Jokowi mengamalkan ajaran agama Islam, “tuntutlah ilmu, walau ke negeri China”atau bisa jadi Jokowi juga bersikap pragmatis dalam melakukan pertemanan dengan negara lain. Seperti dia pernah katakan, “Iya dong harus berteman dengan negara yang menguntungkan. Kalau enggak menguntungkan ya enggak mau. Buat yang tidak menguntungkan ya ketemu tetapi sedikit saja ya, hehehe. Enggak usah dekat-dekat” canda Jokowi. (O. Gozali)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments