Home News Hampir Semua Kampung di Kabupaten Sanggau Melakukan Ritual Adat Tolak Bala

Hampir Semua Kampung di Kabupaten Sanggau Melakukan Ritual Adat Tolak Bala

1884
0
Warga Desa Kelompu, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) menggelar ritual adat tolak bala, Rabu (25/3/2020). Foto: Lusi Dianti

BERNASNEWS.COM – Hampir semua kampung di wilayah Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) menggelar ritual adat tolak bala. Selama upacara adat tersebut, seluruh warga tidak boleh keluar rumah, tidak boleh bertamu dan harus pantang.

Namun, ada pengecualian yang tidak menjalankan pantang/ larangan yakni ASN, pihak keamanan, petugas rumah sakit/Puskesmas. Dan di kota kabupaten yang melaksanakan ritual dan menjalankan pantang/ larangan hanya dua orang tukang pomang.

“Di kampung kami selama dua hari benar-benar lockdown dan pantang dua hari. Sementara di Desa Embaong pantang tiga hari. Semua warga tidak boleh keluar rumah dan bertamu. Dan jika melanggar akan dikenakan sanksi adat,” kata Lusi Dianti, warga Desa Kelompu, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) kepada Bernasnews.com melalui layanan pesan whatsapp, Rabu (25/3/2020).

Warga Desa Kelompu, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) menggelar ritual adat tolak bala, Rabu (25/3/2020). Foto: Lusi Dianti

Dalam surat Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Kapuas yang ditandatangani Ketua Umum Andreas Sisen S.Hut dan Sekretaris Umum Kamelius Tawa SKM, tertanggal 23 Maret 2020, disebutkan bahwa ritual adat tolak bala tersebut dilakukan oleh dua orang tukang pomang yang mewakili subsuku yang ada di Kecamatan Kapuas, peserta akan dibatasi dan wajib memakai masker, menjaga jarak serta ada pantangan/larangan yang harus dijalani.

Pertama, tidak boleh memotong/membunuh semua jenis hewan. Kedua, tidak boleh keluar rumah selama 3 hari mulai Rabu (25/3/2020) sampai dengan Jumat (27/3/2020). Dan ketiga, tidak boleh memetik sayur/tanam tumbuh.

Ritual adat tolak bala di Desa Kelompu, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Rabu (25/3/2020). Foto: Lusi Dianti

“Pantangan/larangan tersebut akan dijalani oleh tukang pomang dan masyarakat tidak perlu menjalani pantang,” tulis Dewan Adat Dayak Kecamatan Kapuas dalam surat nomor 17/001/DAD-Kapuas/III/2020 tersebut.

Menurut DAD Kecamatan Kapuas, ritual adat tolak bala tersebut dilakukan dalam rangka penanggulangan atau menangkal penyebaran virus Corona serta menindaklanjuti imbauan Dewan Adat Dayak Kabupaten Sanggau tentang ritual tolak bala. Upacara ritual adat tolak tersebut dilakukan di Kompleks Sabang Merah (Tribun Sabang Merah) pada Rabu (25/3/2020) pukul 14.00 WIB sampai selesai.

Ritual adat tolak bala di Desa Kelompu, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Rabu (25/3/2020). Foto: Lusi Dianti

Sementara dalam surat Ketemenggungan Hibun Panco Benuo II, Desa Kelompu, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau yang ditandatangani Temenggung Hibun Panco Benuo II ST Sudin dan Pateh Hibun Majo SE Domi yang diketahui Kepala Desa Kelompu D Gagao, tertanggal 23 Maret 2020, disebutkan bahwa ritual adat Pantong Ompu dilaksanakan dua hari dengan ketentuan, pertama, dilarang keluar rumah; kedua, dilarang keluar masuk batas yang sudah ditandai dengan hancok/rancak; ketiga, dilarang lekolayo (bekerja ke ladang/kebun sawit dan lain-laing, mencari sayur, memotong hewan, membakar/memanggang daging; keempat, dilarang memasak sayur-sayuran dan lauk pauk seperti pakis, rebung, jamur, terong, asam, udang, kepiting, tengkuyung/keong.

Kemudian, kelima, tidak boleh menerima tamu; Keenam, tidak boleh membuat gaduh, keributan dan pesta/hiburan; ketujuh, tidak boleh membuka toko, warung atau tempat usaha sejenisnya dan kedelapan, bagi masyarakat di luar Desa Kelompu yang menggunakan jalan raya hanya boleh lewat/melintas dan dilarang keras untuk singgah dengan alasan apa pun. Namun, ada yang mendapat pengecualian yakni ASN, pihak keamanan, petugas rumah sakit/Puskesmas.

Dan apabila terjadi pelanggaran terhadap larangan tersebut, maka akan dikenakan sanksi adat sebesar 3 tail dan mengganti seluruh biaya adat yang sudah dilaksanakan.

Sementara di Desa Embaong dari Simpang Embaong dari RT 17 sampai dengan RT 22, dalam surat pengumunan yang ditandatangani Ketua Adat Martinus Sulen, tertanggal 26 Maret 2020, semua warga diminta untuk menaati aturan adat istiadat dan pantangan yang telah disepakati dengan hasil rapat ketua-ketua RT dan pemutuh adat Simpang Embaong serta Lingkungan Embaong pada 25 Maret 2020.

Dalam surat itu disebutkan pantangan-pantangan yang dilaksanakan mulai 26 Maret sampai dengan 29 Maret 2020 adalah tidak boleh keluar dari rumah selama 3 hari, dilarang bertemu/berkumpul di rmah orang lain, warga luar dilarang bertamu di Simpang Embaong sampai Lingkungan Embaong, dilarang memetik tanaman yang hidup, dilarang mencari/menangkap binatang di darat maupun di dalam air.

“Setiap kampung di seluruh wilayah Kalbar melakukan ritual adat yang serupa. Dan jika melanggar akan dikenakan sanksi adat,” tutur alumni Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma ini. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here