Home Pendidikan Desain Dashboard Memudahkan Perusahaan Retail Menganalisa Kinerja Supplier

Desain Dashboard Memudahkan Perusahaan Retail Menganalisa Kinerja Supplier

85
0
Mahasiswi Program Studi Teknik Industri, Program Magister FTI UII Aletia Nurul Aisyah (knan) bersama Dr Taufiq Immawan ST MM, Ketua Program Studi Teknik Industri, Program Sarjana FTI UII/Dosen Pembimbing. Foto: Jerri Irgo

BERNASNEWS.COM – Perusahaan ritel memiliki orientasi pada kepuasan konsumen yaitu mampu menentukan kebutuhan-kebutuhan dan dapat menyediakan kebutuhan tersebut semaksimal mungkin. Konsumen akan merasa puas apabila mereka dapat menemukan barang yang diinginkan,.

Hal ini menjadi tujuan dari perusahaan ritel. Mereka harus memiliki pemasok yang akan menyediakan permintaan untuk membantu menyediakan kebutuhan konsumen. Karena itu, evaluasi kinerja pemasok (supplier) untuk membantu perusahaan dalam memilih pemasok yang tepat dengan harga yang tepat, pada waktu yang tepat, dalam jumlah yang tepat dengan kualitas yang tepat (Mavi et al, 2016) sngt penting dilakukan.

Namun, kerjasama perusahaan dengan banyak pemasok membuat perusahaan mengalami kesulitan dalam melakukan penilaian kinerjanya. “Perusahaan kesulitan dalam melihat kinerja pemasok yang bagus, sedang dan jelek karena harus melakukan kontrol secara manual. Apabila terjadi kesalahan dalam kinerja pemasok, perusahaan hanya mengingat tanpa ada catatan dan history data,” kata Ir Winda Nur Cahyo ST MT PhD IPM, Ketua Program Studi Teknik Industri, Program Magister FTI UII, kepada wartawan secara virtual, Sabtu 6 November 2021.

Untuk mengatasi kesulitan perusahaan ritel menganalisa kinerja para supplier, menurut Winda, Mahasiswi Program Studi Teknik Industri, Program Magister FTI UII Aletia Nurul Aisyah melakukan penelitian berjudul Desain Dashboard Kinerja Supplier dengan Pendekatan Key Risk Indicator (Kri) pada Perusahaan Retail dengan Dosen Pembimbing Dr Taufiq Immawan ST MM yang jug Ketua Program Studi Teknik Industri, Program Sarjana FTI UII.

Menurut Aletia Nurul Aisyah, dashboard yang dibutny memungkinkan pengguna untuk menganalisis akar penyebab masalah dengan menjelajahi informasi yang relevan dan tepat waktu dari berbagai perspektif dengan detail. Sistem kinerja dashboard dapat mengintegrasikan data dari berbagai sumber yang diperlukan, dimana perusahaan dapat mengelola data dan menyajikan dalam bentuk laporan informasi yang berkualitas.
 
“Penyusunan dashboard menggunakan pendekatan key risk indicator (KRI) akan ditampilkan pada indikator-indikator yang ada disesuaikan dengan penilaian kinerja pemasok. Penelitian ini membantu perusahaan untuk melakukan kontrol terhadap kinerja pemasoka dengan beberapa indikator yang dirasa penting oleh perusahaan untuk menilai kinerja pemasok,” kata Aletia.

Dikatakan, tujuan dari penyajian data berupa dashboard menggunakan pendekatan KRI akan membantu perusahaan dalam melakukan early warning system yaitu membantu perusahaan mengetahui permasalahan pemasok di awal proses sehingga dapat diambil tindakan untuk mengatasi risiko-risiko yang akan terjadi pada kinerja pemasok dalam melakukan pasokan barang ke perusahaan.
 
Menurut Aletia, visualisasi dari penilaian kinerja pemasok dibuat dengan program berbasis web dengan PHP dan Java script sehingga dapat menampilkan halaman dashboard dan chart.
 
Berdasarkan hasil pengolahan data dan perencanaan desain dashboard pada TB Basuki Jaya Grup diperoleh kesimpulan, pertama, beberapa permasalahan yang terjadi pada kegiatan pemasokan barang semen, triplex, pipa, kayu dan bata. Kedu, indikator penilaian kinerja pemasok pada produk semen, triplex, pipa, kayu dan bata yaitu kualitas produk, ketepatan jumlah pengiriman barang dan ketepatan waktu pengiriman barang.

Ketiga, usulan desain dashboard kinerja pemasok untuk perusahaan ritel; keempat, tmpilan dashboard menunjukkan per-PO karena tujuan awal perusahaan menampilkan penilaian supplier adalah untuk memberikan early warning system.


Maka penilaian dilakukan setiap kali PO agar perusahaan dapat mengetahui risiko secepat mungkin dan dapat melakukan koordinasi dengan supplier agar tidak terlalu lama menghambat kinerja pasokan barang ke konsumen.

Dari masalah tersebut, menurut Aletia, beberapa usulan tindakan yang dapat dilakukan perusahaan untuk pemasok, yakni membuat traffic light berupa warna hijau. Artinyaa, tetap melakukan komunikasi secara rutin agar dapat dilakukan monitoring kinerja pemasok dan mempertahankan kinerja yang bagus. Komunikasi yang baik dengan pemasok harus dipertahankan.

Warna kuning artinya adanya koordinasi rutin dengan pemasok untuk melakukan win win solution seperti mengusulkan cara agar tidak terjadi kesalahan ataupun keterlambatan ketika melakukan kinerja dan melakukan rencana mitigasi agar dapat meminimalisir kesalahan yang ada dan tidak mengakibatkan kinerja menjadi buruk/bergerak ke area merah.

Dan warna merah, ykni adanya perhatian khusus dan komunikasi yang ketat dengan pemasok melalui surat peringatan mengenai kesalahan pemasok dan melakukan brainstorming dengan pemasok lain yang memiliki performa kinerja lebih bagus. Menerapkan rencana mitigasi agar dapat meminimalisir kesalahan yang ada dan tidak terjadi dikemudian hari. “Selain itu, dilakukan monitoring berkala hingga terjadi peningkatan kinerja pemasok atau memasuki area hijau,” kata Aletia. (lip)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here