Home Pariwisata Dampak Virus Corona di Lereng Merapi, Pelaku Wisata Jip Kehilangan Pekerjaan

Dampak Virus Corona di Lereng Merapi, Pelaku Wisata Jip Kehilangan Pekerjaan

189
0
Suasana berkeliling lereng Gunung Merapi dengan menggunakan mobil jip. (Foto: Istimewa)

BERNASNEWS.COM – Imbauan pemerintah untuk membatasi kegiatan di luar rumah akibat COVID-19 rupanya berdampak pada kehidupan ratusan pelaku wisata di sekitar lereng Merapi. Tak sedikit masyarakat yang harus kehilangan mata pencaharian di sektor pariwisata akibatnya.

Sejak Senin (23/3/2020) kegiatan pariwisata di lereng merapi yang salah satunya juga melibatnya banyak pelaku usaha jip terhenti. Tidak ada lagi rombongan jip-jip yang menyusuri jalan menanjak di Kaliurang hingga ke merapi. Bahkan riuhnya keseruan orang yang biasanya melintasi jalur wisata dengan jip mendadak senyap lantaran banyak warga yang berdiam diri di rumah akibat virus corona.

Suasana berkeliling lereng Gunung Merapi dengan menggunakan mobil jip. (Foto: Istimewa)

Slamet, salah satu supir jip dalam sebuah pengakuannya mengatakan dampak dari virus corona ini begitu berdampak pada penghasilannya. Bukan lagi hanya turun sepersekian persen saja, namun ambruk bahkan nyaris nol rupiah yang bisa ia kantongi.

“Terdampak, langsung terdampak (penutupan akibat wabah COVID-19). Dampaknya ekonomi. Ekonomi kita langsung (terdampak). Intinya penghasilannya pengurang pendapatan hampir 100 persen. Kita (tutup) sejak tanggal 23 Maret. Iya tidak ada pemasukan sama sekali,” kata Slamet atau yang akrab disapa Ndomo, Senin (30/3/2020) malam.

Kini tidak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan Ndomo selain makan dan tidur. Tak sendirian, Heri, seorang supir jip yang lain juga merasakan hal yang sama. Mata pencahariannya dari jasa membawa penumpang wisata jip hilang. Ia bahkan kini cemas lantaran harus membayar angsuran hutang ke bank.

Para pelaku wisata jip sedang berkumpul dan berdiskusi. (Foto: Istimewa)

Bambang Sugeng, seorang yang dituakan di Asosiasi Wisata Lereng Merapi mengatakan bahwa dampak virus corona ini memang menjadi pukulan bagi penggiat wisata di daerah tersebut. Sektor wisata yang sudah menghidupi warga lokal sejak 7 tahun terakhir mandeg.

“Ya terdampak sekali bukan hanya perkemahan, bukan hanya jip, tapi segala ruas (sektor pariwisata) kita bersama,” ujar pria yang akrab disapa Babe.

Diperkirakan ada sekitar 800 hingga 900 usaha jip dari wilayah lereng merapi yang tidak beroperasi. Penutupan wisata tersebut agaknya begitu mendadak. Tidak ada pilihan lain bagi mereka selain mengindahkan anjuran pemerintah.

Suasana berkeliling lereng Gunung Merapi dengan menggunakan mobil jip. (Foto: Istimewa)

“Nah kemarin akhirnya begitu mendadak bahasanya. Mendadak akhirnya ditutup aktivitas untuk wisata. Padahal ya termasuk tamu dari sebagian besar kita mengandalkan dari luar daerah. Termasuk kita yang di bawah (lereng Merapi) ini bener-bener akhirnya tidak ada tamu. Akhirnya mengikuti juga anjuran pemerintah kita harus berhenti,” katanya.

“Sebetulnya dari asosiasi ini ada kesepakatan juga karena ada dua wilayah. Jadi ada (wilayah) timur barat dan sebagainya, tapi itu tetep satu atap Asosiasi Lereng Merapi. Itu bersama-sama mulai hari Senin tanggal 23 langsung kita bersama-sama karena ada perintah dan sebagainya itu bahasanya ngawekani (berjaga-jaga) dampak daripada ya penyebaran covid-19 itu sehingga kita sudah bersama-sama yaudah mari kita bersama-sama berhenti,” sambungnya.

Berhenti beroperasi, artinya berhenti segalanya. Begitulah Babe menggambarkan situasi mereka saat ini. Jika biasanya menarik penumpang dengan jip bisa mendatangkan keuntungan, kini tidak lagi.

Suasana berkeliling lereng Gunung Merapi dengan menggunakan mobil jip. (Foto: Istimewa)

“Sama sekali (tidak ada jip) yang biasanya bersliweran banyak sekali, keramaian seperti itu. Sehingga terdampak bukan hanya jip saja tapi terdampak pada warung, tukang foto, onderdil, bengkel. Semuanya terdampak dan itu juga merupakan lingkaran ekonomi yang sudah cukup lama dan sudah menghidupi untuk warga lereng Merapi dari jip ini. Bisa dikatakan jip itu bisa menghidupi isti, anak, keluarga,” tandas Babe.

Total saat ini ada 900 jip yang tersedia untuk perjalanan wisata. Seluruh jip tersebut merupakan swadaya milik warga. Kini para penggiat wisata seperti mereka hanya bisa berharap agar wabah ini bisa segera berlalu.

“Jadi itunganya gini kalau mikirnya kayak gini (wisata mandeg akibat corona) berkepanjangan mungkin dua bulan, tiga bulan, sampai setahun kayak gini, ya mungkin selain nggak bisa ngansur ya isa edan juga. Jadi itungannya senenge kalau ngobrol kayak gini. Kalau udah di rumah itu tidur aja susah. Ngitungin ternit, mikir ‘besok mau gimana, langkahnya gimana’. Karena kita juga memang mengandalkan wisata jip yang di lereng Merapi,” cerita Heri. (adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here