Home Opini Dampak Positif di Balik Pandemi

Dampak Positif di Balik Pandemi

423
0
Monica Ika Mahar Anggraeni, Tenaga Kepustakaan SD Marsudirini Santa Theresia Boro, Kulon Progo. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Tepat satu tahun yang lalu virus ini masuk ke Indonesia. Siapa yang menyangka bahwa virus ini akan menjadi sebuah wabah yang menyebar hampir di seluruh wilayah dunia. Wabah ini ditemukan pertama kali di Wuhan, China pada bulan Desember 2019 hingga pada akhirnya menyebar ke seluruh negara-negara di dunia.

Segala upaya pemerintah untuk mencegah penyebaran dilakukan. Ditutupnya akses keluar masuk negara asing, semua aktifitas di luar rumah dihentikan, sampai-sampai anjuran untuk tetap di rumah saja hampir dirasakan oleh semua warga di dunia tak terkecuali Indonesia. Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah di Indonesia menyebabkan beberapa usaha menjadi gulung tikar dan memilih untuk menutup usahanya, kesulitan untuk mencari nafkah bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah menjadikan roda ekonomi sempat memburuk.

Banyaknya PHK menyebabkan pengangguran dimana-mana dikarenakan usaha yang tidak dapat berjalan semestinya akibat dampak dari mewabahnya virus ini. Tidak hanya itu, para siswa-siswi mulai dari tingkat TK-SMA/ SMK, bahkan mahasiswa pun tidak dapat melakukan proses pembelajaran secara tatap muka. Pembelajaran dilakukan secara Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang mengharuskan setiap siswa untuk menggunakan koneksi internet agar dapat mengikuti pembelajaran secara daring. Banyak masyarakat yang mulai mengeluhkan kondisi ini.

Melihat hal ini, pemerintah pun kembali menerapkan kebijakan New Normal pada, 1 Juni 2020. Hal ini ditujukan agar roda ekonomi tidak mati dan masyarakat tetap dapat melakukan aktifitasnya, meski tetap ada batasan waktu tertentu seperti diberlakukannya Work Form Home (WFH) secara bergantian, pengurangan jam bekerja dan lain sebagainya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Himbauan untuk melaksanakan 5M protokol kesehatan untuk mendukung kebijakan New Normal diberikan agar menekan penularan Virus Corona di masyakat. 5M ini adalah mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Tetapi meski sudah digembor-gemborkan gerakan ini, apakah masyarakat sudah patuh dan melaksanakannya? Lonjakan kasus terkonfirmasi nyatanya dari hari ke hari justru semakin bertambah. Tidak sedikit pula tenaga kesehatan yang gugur karena terjangkit virus ini. Lalu jika sudah begini salah siapakah? Tidak semua melulu pemerintah yang harus selalu disalahkan. Tetapi nyatanya masih banyak masyarakat yang abai dan cenderung menganggap “sepele” Virus Corona ini.

Gerakan 5M tidak sepenuhnya dilaksanakan. Sebagai contoh adalah penggunaan masker. Masih banyak masyarakat yang menggunakan masker secara kurang benar bahkan ada yang tidak menggunakan masker sama sekali. Acap kali jawaban yang diberikan apabila ditanya mengapa tidak memakai masker adalah “lupa”, “pengap”, “sesak”, “tidak enak pakai masker”, dan masih banyak lagi alasan yang diberikan.

Belum lagi jika memberikan jawaban “Corona itu apa, Corona itu tidak ada, itu hanya akal-akal orang untuk menjual obat”. Hal-hal yang seperti inilah menyebabkan program pencegahan penularan Virus Corona oleh pemerintah menjadi terkendala. Begitu pula dengan mencuci tangan. Kebiasaan baik yang semestinya dilakukan setelah memegang benda yang berpotensi sebagai tumbuh dan berkembangnya bakteri juga tidak dilaksanakan dengan tertib. Larangan untuk bergerombol, berkerumun dan lain sebagainya juga tidak diindahkan.

Haruskah kita menyalahkan pemerintah lagi apabila virus ini tidak terkendali jika diri sendiri sulit untuk mengubah pola hidup sehat? Padahal Virus Corona ini tidak selalu membawa dampak negatif. Virus Corona ini juga membawa dampak positif. Dampak positif yang dibawa oleh Virus ini adalah kita diajak untuk menerapkan hidup sehat. Mengapa demikian? Sebelum Virus ini ada, kita mungkin bermalas-malasan untuk mencuci tangan, mandi setelah bepergian jauh, memakai masker saat kita sakit.

Kita cenderung lebih acuh tak acuh. Tetapi dengan adanya virus ini, kita dituntut untuk hidup sehat dengan rajin mencuci tangan, memakai masker, mandi setelah bepergian, menjaga jarak apabila ada yang sakit dengan tujuan kita tidak tertular begitu sebaliknya, serta makan makanan yang bergizi untuk mempertahankan imun tubuh. Belum lagi karena PSBB, polusi udara karena asap kendaraan juga menurun, kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga juga lebih banyak karena kebijakan Work Form Home dari kantor. Bukankah masih ada sisi positif yang dapat kita ambil dari Virus Corona ini?

Beruntunglah karena pemerintah yang bertindak cepat, kita dapat menerima vaksinasi. Meski pada awal pelaksanaan vaksinasi masih terjadi pro dan kontra. Tetapi pada akhirnya vaksin didistribusikan kepada masyarakat secara gratis sebagai upaya untuk mencegah penularan Virus Corona. Semoga dengan adanya vaksin ini, diharapkan Virus Corona ini dapat segera teratasi sehingga kita dapat kembali melakukan aktifitas seperti sedia kala. Tanpa rasa takut dan waspada serta dapat kembali melihat senyuman setiap orang disekeliling kita tanpa terhalang masker. Salam sehat, tetap semangat dan jangan lupa bahagia. (Monica Ika Mahar Anggraeni, Tenaga Kepustakaan SD Marsudirini Santa Theresia Boro, Kulon Progo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here