Home News Cucu Sultan HB X Khawatirkan Masa Depan Alam di Lereng Merapi

Cucu Sultan HB X Khawatirkan Masa Depan Alam di Lereng Merapi

9211
0
Cucu Sri Sultan Hamengku Buwono X, Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusumo, saat berdialog dengan warga di lereng Merapi. (Foto: Istimewa)

BERNASNEWS.COM – Kondisi alam di lereng Merapi memberikan kekhawatiran tersendiri bagi Cucu Sri Sultan Hamengku Buwono X Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusumo. Pria yang akrab disapa Marrel ini mengungkapkan jika kelestarian lingkungan di lereng Merapi harus diperhatikan.

“Ada hajat hidup warga masyarakat yang saling berkait, misalnya persoalan air,” kata Marrel saat ditemui saat menjajal lintasan All Terrain Vehicle (ATV) Watugede, Bronggang, Argomulyo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (5/9).

Sebagai kerabat dari Keraton Yogyakarta, Marrel mengemban tugas untuk ikut memikirkan kelangsungan hidup masyarakat yang bermukim di sekitar Merapi. Ia pun berkomunikasi dengan warga di lereng Merapi terkait kelestarian alam.

Kali ini, Marrel berkunjung ke ATV Watugede dan menjalin komunikasi dengan pengelola di sana. Pasalnya, warga berhasil mengelola kawasan tersebut menjadi kawasan wisata tanpa mengubah lingkungan di sana. Warga memilih memanfaatkan bantaran sungai untuk lintasan ATV, daripada menambang pasir dan batunya, meskipun secara ekonomi hasilnya tidak terlalu sebanding

“Ternyata bisa, industri jasa wisata berdampingan dan mempertimbangkan fungsi ekologis. Jadi tidak mengancam pasokan air untuk petani di bawahnya,” ujar Marrel.

Marrel pun didaulat untuk menghijaukan lereng Merapi dengan melakukan penanaman Pohon Beringin di Bantaran Sungai Gendol. Marrel mengaku bersedia untuk menjadi bagian dari kerja Suhartono dan Komunitas Pagar Merapi yang berupaya menanami lahan kritis di lereng Merapi. Sekitar 1200 pohon beringin disiapkan oleh komunitas untuk ditanam secara berkala di beberapa lokasi rawan.

“Selain akarnya dapat menahan erosi, pohon beringin juga memiliki kemampuan menyerap air yang baik,” kata Suhartono.

Persoalan air jadi hal yang penting lantaran berdampak pada lahan pertanian. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) belum lama ini merilis hasil penelitian yang menyebut Pulau Jawa diperkirakan akan kehilangan air pada tahun 2040. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara terkaya dalam sumber daya air karena menyimpan 6% potensi air dunia.

Berdasarkan penelitian para ahli LIPI yang dipublikasikan dalam kajian lingkungan hidup strategis dalam rangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Bappenas tahun 2019 itu, krisis air dan bencana kekeringan mengancam dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi itu dipicu perubahan iklim, pertambahan penduduk hingga alih fungsi lahan.

Marrel pun bertemu dengan masyarakat yang tinggal di Kaliurang Timur untuk menggali permasalahan yang terjadi. Marrel diajak untuk mengunjungi program rintisan pengelolaan pariwisata tanpa mengubah fungsi lahan.

Di sana, Marrel berdialog dengan Agus Kampala, pegiat kultivasi kopi di wilayah Kaliurang Timur. Disampaikan bahwa masyarakat tak ingin lahan mereka berubah jadi hotel maupun bangunan penunjang wisata lainnya.

Apabila ingin dibangun fasilitas akomodasi, warga lebih memilih untuk membangun bangunan semi permanen. Hal ini tidak merusak lingkungan, dan menjadi kemasan wisata itu juga dapat dijadikan contoh bagi masyarakat di daerah lain di Yogyakarta bagaimana cara berdampingan dengan alam dan tetap berpenghasilan.

“Ide, inovasi dan usulan pengelolaan potensi tanpa merusak ini menjadi masukan buat saya. Terimakasih, karena kalau tidak disampaikan langsung begini, keraton sering hanya dapat kabar yang baik-baik saja,” ungkap Marrel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here