Home Pendidikan Cinta dan Kangen Yogya Melalui Buku

Cinta dan Kangen Yogya Melalui Buku

117
0
Herry Gendut Janarto (kanan) dalam sebuah acara bedah buku "Yogya Yogya" di Jakarta, belum lama ini. Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Yogyakarta, Yogya, Jogja atau Ngayogyakarta Hadiningrat adalah ibukota Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kota yang relatif kecil ini kaya sebutan dan sarat makna, kisah dan kenangan. Mulai dari Kota Perjuangan, Kota Pendidikan, Kota Pariwisata, sampai Kota Toleransi. Dari sisi makna, ada filosofi Memayu Hayuning Bawana sampai laksana Indonesia Mini karena hampir semua suku di tanah air ada di kota ini.

Kecintaan terhadap Yogya sungguh dirasakan oleh warga kota yang lahir di sini dan memilih tetap di sini atau mereka yang pernah belajar dan bekerja di sini kemudian menetap di Yogya. Mereka cinta Yogya. Mengapa? Ya, karena kota ini dirasakan adem ayem, damai dan memberikan layanan yang cukup bagi kehidupan sehari-hari. Mereka yang pernah tinggal di sini dan pindah ke tempat lain, juga memiliki rasa kangen terhadap kota ini. Kangen atas keramahtamahan warga, aneka seni budaya, aneka kuliner, sampai Malioboro.

 Rasa cinta dan kangen terhadap Yogya banyak diungkapkan orang atau para pihak melalui berbagai cara dan produk budaya. Ada karya lagu, film, lukisan, tari, gamelan, tulisan, buku dan aneka karya kreatif lainnya. Salah satu warga Yogya yang kini menetap di Jakarta dan tetap cinta dan kangen Yogya adalah penulis Herry Gendut Janarto (64). Mantan wartawan, kemudian menjadi penulis puluhan buku biografi, dan penulis puisi itu kini menggandrungi novel. Novel terbarunya adalah Yogya Yogya (2020) yang merupakan buku perdana dari trilogi tentang Yogya.

Buku “Yogya Yogya” karya penulis Herry Gendut Janarto. Foto: Istimewa

“Buku Yogya Yogya itu jujur saja saya perjuangkan selama 40 tahun. Ini bukan waktu yang pendek. Saya yang lahir di Yogya ingin memberikan sesuatu kepada kota ini. Saya memang banyak menulis tentang Yogya, tentang beberapa tokoh di sini dalam bentuk karya jurnalistik. Ada juga biografi tokoh di sini, seperti Mas Didik Nini Thowok. Tapi dalam bentuk novel, itu sebuah perjuangan, dan sesuatu banget……,”kata Herry Gendut Janarto seperti dikutip sahabatnya yang juga wartawan senior YB Margantoro di Jogja, Jumat (16/7/2021).

Sejak buku Yogya Yogya itu diluncurkan di Jakarta, pada 12 Desember 2020 dalam sebuah acara peluncuran daring cukup meriah melibatkan banyak pihak, kemudian cukup sering dibedah kembali secara daring dan luring terbatas.

Menurut Herry, buku itu dibedah Voice of America (VOA) Bahasa Indonesia pada 26 Januari 2021, kemudian Obral Obrol Proses Kreatif Mengarang Novel bersama Tanoto Foundation Jakarta pada 12 April 2021, dan diskusi buku Yogya Yogya bersama Balai Bahasa Indonesia ACT Canberra, Australia, 11 Juni 2021 yang menampilkan pembicara Herry Gendut, Dr George Quinn (Pengarang The Novel in Javannese dan Bandit Saint of Java) dan Dacvd Rawson (Peneliti dan penerjemah sastra Indonesia kontemporer) dengan moderator Amrih Widodo (penggemar sastra).

“Buku Yogya Yogya selain menggugah rasa kangen, barangkali juga menandai bagaimana merawat kewarasan lewat kesinambungan jati diri yang tercederai akibat meruyaknya modernitas,” kata Herry Gendut yang alumni SMA Kolese de Britto dan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini.

Kapan seri kedua buku Yogya Yogya akan terbit? Apakah masih bernuansa mundur 40 tahun silam dengan pernak-pernik tentang dinamika saat sekolah, kuliah, perkawinan antaretnik, sampai enggan memiliki bisnis atau rumah hari tua di Yogya?

Penggemar teater, lawak dan bakso ini sambil tersenyum manis mengatakan, “Ya semoga Natal akhir tahun 2021 ini sudah terbit. Seperti penulis dan para insan profesi apa pun di saat pandemi Covid 19, saya harus tetap berkarya. Saya sungguh bersemangat untuk menyelesaikan trilogi tentang Yogya ini tanpa harus menanti puluhan tahun lagi.” (YB Margantoro, wartawan senior)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here