Home News Cerita Mahasiswa IPB Tak Jadikan Pandemi Sebagai Penghalang untuk Kuliah

Cerita Mahasiswa IPB Tak Jadikan Pandemi Sebagai Penghalang untuk Kuliah

207
0
Kuliah online yang harus dijalani selama pandemi corona. (Foto: istimewa)

BERNASNEWS – Pandemi covid-19 menjadi salah satu fenomena yang memaksakan banyak masyarakat untuk melakukan adaptasi guna mendapatkan kualitas hidup terbaik selama dua tahunan ini. Sektor pendidikan menjadi salah satu sektor yang dengan cepat mengalami perubahan.

Di tingkat perguruan tinggi, mulai dari ujian saringan masuk hingga metode pembelajaran dengan cepat mengalami penyesuaian. Tidak hanya itu, masalah-masalah yang dihadapi oleh mahasiswa pun kian datang. Tak hanya terbatasnya paket internet, soal sinyal pun jadi perhatian.

Hal serupa dialami oleh salah satu mahasiswa, La Ode Abdul Farid. La Ode sapaan akrabnya salah satu mahasiswa telah memasuki semester empat di IPB University telah mengalami kisah yang dapat dijadikan mahasiswa lainnya sebagai motivasi kuliah di kala pandemi.

La Ode merupakan anak ketiga dari enam bersaudara pasangan La Ode Hamsida dan Juna Dehe yang saat ini tinggal di Halmahera Timur, Maluku Utara. Sang Bapak bekerja sebagai buruh bangunan bersama anak kedua, sementara ibu sebagai ibu rumah tangga. Tak terbayangkan bagi seorang La Ode diberikan kesempatan untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama IPB University jurusan Agribisnis.

“Alhamdulillah saya penerima Bidikmisi yang saat ini KIP-Kuliah. Sama sekali tidak terbayangkan bisa kuliah karena ekonomi keluarga sangat tidak stabil apalagi saat pandemi,” ucap La Ode.

Satu tahun mengikuti proses kuliah daring di rumah membuat La Ode sempat mengalami down, lantaran hasil indeks prestasi yang didapat belum sesuai yang diharapkan. Hal ini disebabkan lingkungan rumah yang belum kondusif saat itu, keterbatasan paket internet, keterbatasan perangkat yang dimiliki dan sinyal yang sesekali kurang mendukung.

“Sempat down. Sempat berpikir untuk tidak lanjut kuliah karena IP saya 1.89 dan 2.13 di satu tahun perkuliahan. Saat itu saya tidak memiliki laptop, paket terbatas, kondisi ekonomi keluarga yang sulit, tidak ada teman saat itu dan sempat beberapa kali kondisi sinyal tidak bagus,” tuturnya.

La Ode Abdul Farid, mahasiswa IPB University yang merupakan seorang anggota Pondok Inspirasi. (Foto: istimewa)

Menjadi Bagian dari Pondok Inspirasi

Memasuki semester tiga, La Ode memberanikan diri untuk mendaftar Pondok Inspirasi. Pondok Inspirasi merupakan salah satu lembaga sosial pendidikan yang salah satunya memberikan kesempatan mahasiswa untuk tumbuh berproses bersama melalui program pembinaan asrama atau non asrama.

Juni 2021 La Ode dinyatakan sebagai salah satu penerima Pondok Inspirasi berasrama dari lima ratus pendaftar setelah melalui rangkaian proses seleksi. Tahu Pondok Inspirasi dari pelatihan menulis esai yang diselenggarakan oleh Pondok Inspirasi. Awalnya minder karena IP kan kecil, tapi setelah saya lihat persyaratan untuk mendaftar Pondok Inspirasi tidak membutuhkan syarat IP atau IPK, ungkap La Ode. Hal ini semakin kuat keyakinan La Ode untuk mendaftar sekaligus ingin mendapatkan banyak teman dan lingkungan yang mendukung.

“Benar, masuk di Pondok Inspirasi tidak ada syarat IP atau IPK. Kami yakini setiap mereka bisa bertumbuh bersama, setara, tidak ada sekat dan tentunya memiliki kesempatan sama untuk bergabung. Tak hanya mahasiswa yang memiliki kendala perekonomian saja yang saat ini dapat bergabung di Pondok Inspirasi, mahasiswa dari keluarga ekonomi yang berada pun juga memiliki kesempatan yang sama,” tutur Agus Harianto, Ketua Yayasan Pondok Inspirasi.

La Ode menjadi salah satu bagian Pondok Inspirasi setelah mengikuti berbagai seleksi mulai dari seleksi berkas, wawancara duka kali dan diakhiri psikotes oleh psikolog. Kami melihat La Ode memiliki daya juang yang tinggi. Bertumbuh untuk bermimpi dan memiliki sosok pemelajar yang kuat, tutur Tanti Mantily Dewi, Talent Advisor Corporate Coach dan Psikolog PT Paragon Technology and Innovation sekaligus sebagai pembina dan tim seleksi Pondok Inspirasi.

Bertekad ke Bogor saat pandemi dan Prestasi Gemilang

Semakin kuat tekad La Ode memutuskan harus segera ke Bogor walaupun pandemi. Namun kondisi ekonomi belum memungkinkan lantaran saat itu La Ode juga baru saja bisa membeli laptop dari uang KIP-Kuliah dan tabungannya. Bersyukur bagi seorang La Ode karena saat itu Pondok Inspirasi membantu biaya keberangkatannya.

“Senang rasanya mendapat kesempatan bergabung di Pondok Inspirasi sekaligus bisa terbang ke Bogor dengan gratis. Tentunya saat itu pun dengan protokol yang ketat bahkan sampai asrama pun harus swab dan karantina dahulu,” ungkapnya.

Kegembiraan La Ode semakin terpancar lantaran tidak hanya mendapatkan fasilitas tiket keberangkatan, makan selama di asrama, internet memadai, bantuan kesehatan ketika sakit, fasilitas stasiun televisi berkualitas, tentunya pembinaan yang yang membuatnya saat ini jauh berkembang.

“Di asrama dibudayakan coaching. Saya masih asing dengan coaching. Apa sih itu? Setelah Saya dapatkan, sangat luarbiasa memberikan nilai lebih dari diriku. Aku sangat menghargai diriku,” tuturnya.

Selama di Pondok Inspirasi La Ode mengaku telah mendapatkan pencapaian yang luarbiasa. Selain bakat seni yang terus berkembang dan menjuarai beberapa perlombaan, La Ode juga menjadi Juara 1 Lomba Esai Nasional di Oktober 2021. Lebih membanggakan lagi, baru-baru ini La Ode mendapatkan nilai akademik indeks prestasi sebesar 3.77.

“Alhamdulillah Allah SWT mudahkan. Bangga dengan proses yang Saya lalui. Hal yang tidak terbayangkan menjuarai lomba esai yang saya idamkan ternyata Saya bisa. Ditambah lagi sangat bersyukur dengan hasil IP yang sangat melesat,” tutur La Ode dengan wajah berbinar.

Coaching di Pondok Inspirasi. (Foto: istimewa)

Budaya Coaching di Pondok Inspirasi

Pondok Inspirasi berdiri sejak 2013 dan memulai untuk membudayakan coaching bagian dari pembinaan sejak akhir 2020. Salah satu metode yang diaplikasikan saat ini mengikuti perkembangan gaya hidup dan pola pikir milenial yang tidak melulu telling.

“Akhir 2020 kami menyadari bahwa coaching sangat dibutuhkan anak-anak muda saat ini. Kami sangat menyadari setiap mereka bisa tumbuh dan berhak atas potensi dirinya, sehingga baik coaching antara mereka dengan beberapa coach di Pondok Inspirasi, coaching sebaya antara mereka, atau selfcoaching menjadi kebutuhan rutinan di Pondok Inspirasi. Intinya trust the process,” tutup Rico, Founder Pondok Inspirasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here