Home News Cegah Lonjakan Kasus, Pemerintah Melakukan Upaya Tanggap Darurat

Cegah Lonjakan Kasus, Pemerintah Melakukan Upaya Tanggap Darurat

60
0
Prof Wiku Adisasmito, Juru Bicara Satgas Covid-19. Foto: covid19.go.id

BERNASNEWS.COM – Untuk mencegah lonjakan kasus Covid-19 setelah ditemukannya varian Omicron di Indonesia, pemerintah melakukan upaya tanggap darurat. Apalagi saat ini Indonesia tengah memasuki periode libur Natal dan Tahun Baru sehingga ada potensi terjadinya lonjakan kasus.

Wiku Adisasmito, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, mengatakan, dengan melihat pengalaman penanganan Covid-19 selama ini, Indonesia belum berhasil melewati periode libur panjang tanpa kenaikan kasus. Karena itu, sangat diharapkan Indonesia tidak mengulangi kesalahan seperti yang dialami saat lonjakan kedua pada Juli 2021.

Untuk itu, menurut Wiku Adisasmito, guna mempertahankan kondisi pandemi yang saat ini cenderung terkendali setelah bersusah payah menurunkan lonjakan kedua, perlu kerjasama semua pihak untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 dengan tidak bepergian selama masa libur Natal dan Tahun Baru.

Wiku Adisasmito yang dikutip Bernasnews.com dari keterangan pers tetang perkembangan penanganan Covid-19, Kamis (16/12/2021) mengatakan, untuk membuat Indonesia terhindar dari lonjakan ketiga pasca libur Natal dan Tahun Baru, ada 2 upaya kunci yang harus dilakukan yakni mengantisipasi meluasnya varian baru dan mempertahankan terkendalinya kondisi kasus di Indonesia saat ini.

Untuk mengantisipasi meluasnya varian baru, menurut Wiku, kebijakan terkini terkait pelaku perjalanan luar negeri adalah menutupn sementara pelaku perjalanan dari negara dengan transmisi Omicron dan negara sekitarnya. Sedangkan untuk Warga Negara Indonesia (WNI) tetap diperbolehkan masuk dengan syarat ketat yaitu 14 x 24 jam untuk WNI dari negara dengan transmisi omicron.

Sementara untuk WNI dari negara lain wajib karantina 10 x 24 jam. Masyarakat juga diminta mempelajari kebijakan yang berlaku dan menaatinya. “Kebijakan dibuat tidak pandang bulu dan ditegakkan kepada seluruh lapisan masyarakat sesuai dengan yang tertera pada Surat Edaran Satgas Nomor 23 tahun 2021 dan adendumnya serta surat edaran Satgas Nomor 25 tahun 2021,” kata Wiku.

Menurut Wiku, kita tidak boleh lengah apalagi sebentar lagi memasuki periode libur Natal dan Tahun Baru yang cenderung meningkatkan mobilitas dan aktivitas masyarakat serta berpotensi meningkatkan penularan Covid-19.

Sementara dalam mempertahankan kondisi kasus di dalam negeri yang tengah terkendali, menurut Wiku, ada 4 hal yang perlu diperhatikan dan menjadi langkah kunci. Pertama, mobilitas masyarakat. Data Google Mobility menunjukkan adanya peningkatan sejak Juli hingga Desember 2021 seperti di terminal, stasiun, bandara dan pelabuhan, pusat perbelanjaan retail, rekreasi taman atau ruang terbuka publik serta perkantoran.

Upaya pengendalian dan pengetatan mobilitas memiliki efek yang cukup besar bagi kondisi perekonomian masyarakat. Karena itu, masyarakat perlu bersama-sama mempertahankan mobilitas yang aman Covid-19 dengan mematuhi kebijakan dan disiplin protokol kesehatan.

Kedua, cakupan vaksinasi dosis lengkap. Karena cakupan yang tinggi menunjukkan perlindungan terhadap masyarakat juga maksimal. Sayangnya, baru 3 provinsi yang cakupannya mencapai 70 persen yaitu Kepulauan Riau, DIY dan Bali. Sementara 31 provinsi lagi capaiannya di bawah 70 persen atau setidaknya ada 19 provinsi yang capaiannya masih di bawah target WHO yaitu 40 persen.

“Pemerintah telah berupaya keras memenuhi kebutuhan vaksin nasional dengan mengamankan stok vaksin melalui berbagai kerjasama. Partisipasi dan peran aktif masyarakat dibutuhkan untuk turut serta dalam program vaksinasi dan tidak membeda-bedakan jenis vaksin. Semua vaksin yang tersedia sudah dipastikan aman dan efektif bagi masyarakat,” kata Wiku. 

Ketiga, protokol kesehatan. Hal ini paling penting, karena selama Covid-19 masih ada, penerapan protokol kesehatan adalah harga mati dan perlu secara disiplin. Beberapa lokasi menunjukkan kedisiplinan cukup baik memakai masker. Namun, masih ada beberapa lokasi yang kepatuhannya rendah, seperti pemukiman penduduk, kedai makanan, stasiun dan Terminal serta pasar rakyat.

Keempat, testing dan tracing. Keduanya hal utama mendeteksi kasus secara masif. Pendeteksian yang semakin cepat dan masif dapat mencegah meluasnya penularan dan dapat meningkatkan potensi kesembuhan karena segera ditangani. Saat ini angka testing terus meningkat melebihj 1,6 juta orang per minggu. Namun, jumlah ini didominasi pemeriksaan antigen sebesar 88 persen dan PCR sebesar 12 persen.

“Testing dan tracing menjadi kunci paling dini dalam mengidentifikasi dan mencegah kasus yang sudah temukan agar tidak menimbulkan dampak lebih luas. Pemerintah daerah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan segera melakukan upaya trasing begitu orang positif teridentifikasi,” kata Wiku. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here