Sunday, May 22, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeCara Mudah Mengurangi Volume Sampah di TPST Piyungan

Cara Mudah Mengurangi Volume Sampah di TPST Piyungan


berrnasnews.com – Masalah sampah di TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu) Piyungan, Bantul, DIY tidak akan pernah selesai bila tidak ada solusi yang tepat. Solusi yang tepat bukan sekadar berpindah tempat atau mencari lokasi yang baru, tapi bagaimana mengurangi volume sampah agar TPST di mana pun tidak menjadi beban penampungan sampah.

Solusi paling efektif tentu dimulai dari rumah tangga karena rumah tangga merupakan sumber utama penghasil sampah. Bagaimana caranya? Pengalaman Ketua Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS) AG Irawan ini bisa menjadi inspirasi bagaimana mengolah sampah rumah tangga untuk mengurangi sampah yang dibuang ke TPST, termasuk TPST Piyungan.

Menurut AG Irawan kepada bernasnews.com pada Rabu 11 Mei 2022, kunci utama pengelolaan sampah adalah kemauan tiap personal atau masing-masing individu. Jika ada kemauan tiap individu maka sesungguhnya persoalan sampah bisa diatasi dengan mudah. Ia memberi contoh pengalaman pribadi atau apa yang dilakukannya selama ini sehingga jumlah sampah yang dibuang sangat berkurang atau hampir tidak ada sampah yang dibuang.

Bekerjasama dengan DLH Sleman, sampah dari bersih sungai diangkut ke TPST Piyungan, Minggu (11/10/2020) pagi. (Foto: AG Irawan)

Dikatakan, ada banyak pola dan metode untuk mengolah sampah, mulai dari yang sederhana tanpa biaya dan tak butuh properti khusus hingga metode dengan skema “rumit” dan butuh modal/biaya. Ia sendiri memilih pola/metode sederhana tanpa biaya. Hal ini dimulai dari pilah sampah, antara yang plastik (organik) dan non plastik (anorganik).

Menurut AG Irawan, cukup menyediakan 2 wadah. Yang plastik (organik) bisa menjadi produk ecobrick. Misalnya, di rumah dengan 2 anggota keluarga: 1 botol ukuran 600 militer saja tidak penuh.Jika ada botol plastik dikumpulkan, sudah ada yang menampung.

Sementara yang organik, bisa menggunakan maggot, tinggal tunggu waktu beberapa hari jadi pupuk cair. Maggotnya pun laku 1 kg basah seharga Rp.7 ribu. Jika kering hingga Rp.20 rb/kg. Tak ada sampah!

Jika ada kaca: yang pecahan (beling) dikumpulkan saja, ada operator khusus yang mengambil. Sedang botol bekas dari kaca sudah ada yang antre untuk membeli.

Lalu, jika minyak goreng sisa (jelantah) bagaimna? Gampang: panggil Tim Rapel, 1 liter siap diambil di rumah (atau dikirim ke tempat yang disepakati).

Bahkan FKSS sudah berlatih juga membuat eco-enzyme(EE). Sehingga kulit buah segar juga tak terbuang. DLH Sleman juga sudah memberi bantuan komposer & bak sampah pilah yang dibagi ke komunitas sungai di Sleman (maaf, disayangkan di sejumlah lokasi belum dimanfaatkan, malah dijadikan “pajangan”).

“Jadi, tak ada alasan untuk nyampah (membuang sampah,red).Sekali lagi, tinggal “menuntut” kemauan & disiplin pribadi dalam kelola/ olah sampah dari rumah,” kata aktivis lingkungan, terutama pegiat peduli sungai ini.

Jika bepergian cukup bawa 1 – 2 kantong plastik ukuran 5 kg dilipat  kecil. Habis pakai cuci, keringkan, pakai lagi. Bisa dipakai 3 tahun. “Ini juga sudah saya praktekkan,” katanya.

Setelah 2 tahun ia praktikkan kelola sampah dengn metode pilah, seminggu sampah yang dihasilkan kurang lebih hanya 1 kg. Bahkan bisa kurang. Itupun yang benar-benar sampah yang memang harus terbuang (residu), alias tidak bisa didaur ulang, tidak laku dijual, misalnya stereofoam, pembalut, bungkus bekas tablet obat, masker, pecahan akrilik bekas souvenir, kain bekas handuk/ kaos kaki dan sebagainya.

Khusus residu ini memang butuh alat/mesin incenerator untuk mengolah dengan emisi yang terkendali  Dan pemerintah yang harus menyediakan.

Dari ilustrasi singkat tersebut, menurut Irawan,setidaknya secara berkala kita bisa membantu mengurangi volume sampah ke TPST Piyungan. (phj)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments