Cara Membuat Si Kumis Sehat, Kesat dan Lezat

    689
    0
    Vikep DIY Romo Adrianus Maradiyo dan Albertus Budi Setiawan (berkaos merah), bersama para aktivis Kevikepan DIY dari FMKI dan KKPKC di kebun dan kolam UPH Budi Fish and Farm, Rabu (13/5/2020). Tempat pembudidayaan ikan lele, patin, sidat, mujair dan nila ini melayani pembelian bibit dan ikan yang siap konsumsi. Budi juga memberi pelatihan tentang cara-cara pembudidayaan berbagai jenis ikan. Foto: Anton Sumarjana

    BERNASNEWS.COM – Seorang doktor lulusan Amerika siang itu merasakan surprise. “Saya baru kali ini makan ikan lele, setelah beberapa tahun stop makan lele,” tutur lelaki berambut pendek lurus dan berkulit putih itu. Rupanya, ia tidak makan ikan lele bukan karena tidak menemukan ikan lele selama delapan tahun tinggal di Amerika. Ia mengaku trauma pada lele goreng. Lalu berkisahlah dia tentang pengalaman buruknya, terkait ikan yang berkumis itu.

    “Suatu hari saya disuguh makan dengan lauk ikan lele. Saya pun makan dengan lahap. Beberapa waktu kemudian, saya ke belakang. WC nya ada di atas kolam. Sedang asik-asiknya, saya mendengar kecipak-kecipak ramai sekali di bawah saya. Saya melihat ke bawah. Wo, rupanya ikan-ikan tengah berpesta,” tuturnya, disambung ngakak. “Saya bertanya kepada tuan rumah, apakah lauk yang saya makan tadi berasal dari kolam di belakang rumah?” Rupanya benar adanya.

    Pengalaman pahit itu, membuat dia kapok mengonsumsi ikan lele. Si Kumis pun tak pernah dan tak bakal hadir dalam daftar menunya.

    Para pengunjung melihat-lihat kolam dan ikan-ikan yang ada di dalamnya, sambil mendengarkan penjelasan Budi Setiawan tentang pembudidayaan berbagai jenis ikan, Rabu (13/5/2020). Foto: Anton Sumarjana 

    Trauma sang Ph.D lulusan Amerika itu, beralasan. Pada Rabu (13/5/2020) siang, beberapa orang dari Kevikepan DIY berkunjung ke UPH Budi Fish Farm, yang berlokasi di Jalan Tentara Pelajar Palagan Km 12 Donolayan RT 03 Rw 22 Donoharjo, Ngaglik, Sleman, DIY. Kunjungan yang dipimpin Vikep DIY Romo Adrianus Maradiyo Pr itu bermaksud memahami serba-serbi budidaya ikan lele (Latin: Clarias). Sekaligus mencari cara-cara pemberdayaan masyarakat dengan salah satunya melalui budi daya ikan l

    Pemilik UPH Budi Fish Farma Albertus Budi Setiawan adalah seorang pembudidaya ikan lele yang sudah berpengalaman sejak 2012. Dia menjelaskan panjang lebar, sambil mengajak para pengunjung berkeliling kolam. Salah satu hal yang menarik, Budi Setiawan mengatakan, bagi ikan lele, apa yang masuk ke perutnya itu yang jadi daging. Ibarat pepatah Inggris garbage in, garbage out. Apa yang masuk, itu yang keluar. Maka, jenis makanan apa yang diberikan kepada Si Kumis itu, akan menentukan kualitas dagingnya.

    Budi menjelaskan, daging ikan lele yang baik sehingga sehat dikonsumsi adalah yang dagingnya kering jika digoreng. Sedangkan daging ikan lele yang tidak sehat, meskipun digoreng sampai kering, tetap ada bagian yang tidak kering. Dalam Bahasa Jawa dibilang, ngecemek. “Biasanya ikan lele yang ngecemek itu, karena dikasih makan limbah, dan terlalu banyak pelet. Yang dimaksud limbah, misalnya sisa-sisa makanan dan ayam tiren. (tiren: mati kemaren).

    Ikan lele yang sehat dikonsumsi, kata Budi, adalah ikan lele yang kalau dipegang tubuhnya terasa kesat, tidak gembur. Ikan lele dengan kualitas seperti ini jika digoreng akan berasa gurih. Budi menjelaskan, untuk menghasilkan daging ikan lele yang sehat seperti itu, para pembudidaya ikan lele bisa memberi makan ikan lele dengan daging ayam sisa dari pabrik sosis, lalu dicampur sedikit pelet. “Daging ikan lele akan kesat, sehat dan nikmat dikonsumsi,” ujar Budi Setiawan.

    Nah, itulah cara membudidayakan ikan yang berbentuk agak pipih memanjang, licin dan berkumis itu. Dijamin hasilnya tidak akan membuat konsumen trauma mengonsumsi ikan lele. Mau mencoba? (Anton Sumarjana, Penulis lepas, tinggal di Nologaten, Caturtunggal, Depok,Sleman, DIY)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here