Home News Cara Ki Hadjar Dewantara Menenangkan Anak yang Ribut di Kelas

Cara Ki Hadjar Dewantara Menenangkan Anak yang Ribut di Kelas

661
0
Ketua Yayasan Sarjanawiyata Tamansiswa Prof Dr Adi Susanto (depan) usai memberikan sambutan pada pembukaan PKKBM UST 2019 di JEC, Selasa (27/8/2019). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM —Sudah menjadi kebiasaan anak-anak mulai dari tingkat SD hingga SMA bahkan perguruan tinggi selalu ramai ngobrol yang menimbulkan kebisingan atau ramai di ruang kelas ketika mata pelajaran kosong tak diisi oleh guru atau dosen. Dan hal ini tentu sangat mengganggu kelas-kelas lain yang sedang mengikuti pelajaran/mata kuliah dari guru/dosen. Kondisi ini pasti membuat siswa/siswi atu guru/dosen di kelas lain merasa terganggu, sehingga ada yang marah-marah.

Namun, tidak demikian bagi Ki Hadjar Dewantara. Ketika suatu saat lewat di depan kelas yang ramai ketika pelajaran sedang kosong karena guru tidak masuk, ia menanyakan kepada para siswa kenapa ribut dan mengganggu teman-teman di kelas di sebelahnya. Para siswa pun mengaku karena tidak ada guru. Dan ketika ditanya sedang pelajaran apa dan dijawab oleh siswa pelajaran berhitung.

Mahasiswa baru UST wakil dari seluruh provinsi di Indonesia tampil di panggung mengenakan jaket almamater pada acara PKKBM UST 2019 di JEC, Selasa (27/8/2019). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

“Ki Hadjar pun tidak marah, tapi memberikan soal berhitung kepada siswa yakni cara baru berhitung perkalian dengan bilangan ratusan. Setelah memberi soal, Ki Hadjar meninggalkan ruang kelas sambil meminta semua siswa/ siswi agar mengejarkan soal tersebut dan satu jam kemudian ia akan kembali lagi ke kelas itu. Dengan mengerjakan soal tadi, praktis semua siswa di kelas itu tenang dan diam karena konsentrasi mengerjakan soal. Itulah cara Ki Hadjar menenangkan siswa. Ia tidak marah, tapi memberi solusi yang tepat dan efektif untuk mengatasi suatu masalah,” kata Prof Dr Adi Susanto, Ketua Yayasan Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta yang menjadi salah satu murid Ki Hadjar Dewantara saat masih duduk di Kelas 3 Taman Muda/SD, dalam acara Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) UST 2019 di Jogja Expo Center (JEC) Banguntapan, Bantul, DIY, Selasa (27/8/2019).

Prof Adi Susanto mengaku, setiap kali ada acara istimewa di UST, termasuk PKKMB, ia selalu merasa sebagai orang yang paling bahagia. Pertama, karena ia mengalami langsung diajar oleh Ki Hadjar Dewantara saat Kelas 3 Taman Muda/SD Tamansiswa. Dan salah satu pengalaman menarik ia ingat sampai sekarang adalah seperti yang diceritakan di atas.

Kedua, menurut Prof Adi Susanto, ketika ayahnya mendengar Ki Hadjar Dewan mendirikan Tamansiswa di Yogyakarta karena ingin melihat rakyat Indonesia dapat pendidikan yang lebih baik pada zaman penjajahan Belanda, lalu mendaftarkan anaknya ke Tamansiswa. Sebab, saat itu (Tamansiswa didirikan tahun 1922, red), anak-anak Indonesia hanya boleh sekolah sampai angka loro (kelas dua) sampai bisa membaca, menulis dan berhitung.

Wakil Rektor I UST Dr Imam Gozali memukul gong tanda dibukanya PKKMB UST 2019 di JEC, Selasa (27/8/2019). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Karena aktif di bidang politik, Ki Hadjar Dewantara pun tak disukai oleh orang Belanda saat itu sehingga ia diasingkan ke negeri Belanda. Dan saat di Belanda, Ki Hadjar baru sadarbahwa Belanda yang negaranya kecil dan tidak punya sumber daya alam apa-apa, tapi kok bisa menjajah Indonesia.

“Itu berarti karena kecerdasannya dan kecerdasan itu karena pendidikan. Sehingga Ki Hadjar pulang ke Indonesia tapi tidak berpolitik lagi. Ia mendirikan Perguruan Tamansiswa dan kini berkembang jauh hingga perguruan tinggi, menghasilkan doktor-doktor baru bagi masyatakat. Karena itu anak-anak (mahasiswa baru, red) bisa ikut bahagia karena bisa belajar/kuliah di UST dan Tamansiswa yang didirikan oleh pemimpin kita, Ki Hadjar Dewantara, di bidang pendidikan. Anda belajar di UST dengan baik karena semakin banyak yang didapat maka makin banyak pula yang dimiliki,” kata Prof Adi Susanto dalam pesannya kepada 2.200 mahasiswa baru UST yang ikut PKKMB 2019 dari total 2.300 mahasiswa baru UST yang registrasi hingga 23 Agustus 2019. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here