Monday, June 27, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeNewsBuya Syafii Maarif Meninggal, Pesan dalam Buku : Cintailah Ayah-Bunda Sepanjang Hidup...

Buya Syafii Maarif Meninggal, Pesan dalam Buku : Cintailah Ayah-Bunda Sepanjang Hidup Kita

bernasnews.com – Jika boleh saya berpesan sebagai seorang warga negara sepuh, generasi muda yang datang silih berganti, sebaiknya sikap mencintai ayah bunda harus berlanjut sepanjang hidup kita. Kenang segala yang baik, lupakan segala keterbatasan mereka. Senantiasa doakan mereka sebagaimana mereka telah menyayangi dan mendidik kita tanpa pamrih. Tanpa orangtua, kita tak akan pernah hadir di bumi yang sarat tantangan ini.

Demikian tulis esai pendek Ayah-Bunda dan Aku karya A. Syafii Maarif dalam buku berjudul Berkah Kehidupan (editor Baskara T. Wardaya, 2011). Rentang waktu 11 tahun kemudian, penulis esai itu dipanggil Tuhan yang Maha Pengasih untuk bahagia bersama ayah bundanya. 

Sebagaimana diberitakan bernasnews.com, Buya Syafii meninggal dunia di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, Yogyakarta, Jumat (27/5/2022) pukul 10.15 WIB. Banyak ucapan duka cita dan merasa kehilangan salah satu Bapak Bangsa mengalir dari berbagai pihak, antara lain melalui media sosial.

“Hanya kebiasaan membaca sang Ayah yang sampai setua ini telah saya warisi. Dengan hanya berbekal SR (sekolah rakyat), pengetahuan Ayah di atas rata-rata orang desa,” demikian tulis A. Syafii Maarif dalam buku antologi itu.

Berkah Kehidupan adalah buku istimewa. Isinya kisah relasi anak dan orangtua sejumlah pemikir dan aktivis publik yang sudah akrab kita kenali kiprahnya, namun jarang kita dengar kisah pribadinya. Mereka antara lain : Syafii Maarif, Ayu Utami, Benedict Anderson, Franz Magnis Suseno, Ery Seda, Asvi Warman Adam, Djoko Pekik, P.M. Laksono.  

Buku setebal 417 halaman dengan 32 orang kontributor ini dibagi lima bagian yakni : Orangtuaku, Sahabatku; Orangtuaku, Guruku; Orangtuaku, Inspirasiku; Orangtuaku, Motivasiku; dan Orangtuaku, Penopangku. Tulisan Buya Syafii masuk di bagian 5 : Orangtuaku, Penopangku. “Ini Mungkin yang pertama kali dilakukan oleh manusia,” tulis Buya Maarif di cover buku.

Buku bertajuk Berkah Kehidupan – 32 kisah inspiratif tentang orangtua dengan editor Baskara T. Wardaya (2011), antara lain terdapat tulisan A. Syafii Maarif. Dia menulis esai dengan judul AyahBunda dan Aku. Foto : Y.B. Margantoro/bernasnews.com

Paling dicintai

Di relung hati yang terdalam, Buya Syafii merasakan kedekatan manis dan syahdu dengan kedua orangtua, sekalipun sang Bunda telah menghadap kepada-Nya saat dia berusia 18 bulan,tanpa meninggalkan foto kenangan apapun. Drama itu terjadi pada tahun 1937,ketika Bunda baru berusia 32 tahun.

Ayah wafat pada tahun 1955, ketika Buya masih belajar di Madrasah Mu’allimin Yogyakarta, dalam usia sekitar 55 tahun. Dengan perginya kedua orangtua yang paling dia cintai itu, secara psikologis dia sempat oleng. Namun dengan mengembara ke Lombok setahun dan di Surakarta selama beberapa tahun sambil bekerja dan sekolah dengan topangan hidup seadanya, rasa duka itu berangsur pulih bersamaan dengan bergulirnya waktu.

“Sekarang usia saya sudah berkepala tujuh (tahun 2011, pen), punya seorang istri, seorang anak, dan seorang cucu, namun ingatan terhadap Ayah-Bunda (Ma’rifah Rauf – Fathiyah) yang telah tiada tak pernah hilang. Sekali-sekali saya berkunjung ke pusara keduanya yang terletak agak berjauhan di dua kabupaten. Sering benar air mata ini meleleh tak tertahankan bila keduanya masuk ke dalam ingatan. Saya tidak tahu mengapa perasaan rindu kepada Ayah-Bunda tetap saja mendalam. Mungkin karena masa bergaul dengan keduanya tidak cukup lama, terutama dengan Bunda,” kata Buya.      

Di kolom kontributor buku tertulis, Prof. Dr. A. Syafii Maarif lahir di Sumpur Kudus, Sumatera Barat 31 Mei 1935. Dia pernah menempuh pendidikan sejarah di Northern Illinois University (1973) dan memperoleh gelar M.A. dalam ilmu sejarah dari Ohio University, Athens, Amerika Serikat (1980). Ia meraih gelar Ph.D. dalam bidang pemikiran Islam dari University of Chicago, Amerika Serikat (1983).

Di bidang sosial, dia aktif dalam organisasi sosial Muhammadiyah dan menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah (1995-1999) serta menjabat sebagai Pejabat Ketua Umum PP Muhammadiyah (2000). Di dunia internasional dia adalah Presiden International Conference on Religion for Peace (ICRP) yang berpusat di Amerika.

Kegiatan lainnya termasuk menjadi pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia, Pemimpin Redaksi Majalah Suara Muhammadiyah Yogyakarta (1988-1990), anggota staf ahli jurnal Ulummul Qur’an (1988).

 Selamat jalan Buya Syafii Maarif. (mar)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments