Home Pendidikan Butuh Rasionalitas dan Spiritualitas dalam Menuju Era New Normal

Butuh Rasionalitas dan Spiritualitas dalam Menuju Era New Normal

565
0
Keluarga Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Widya Mataram (UWM), Sabtu (13/6/2020), gelar Syawalan Virtual menghadirkan penceramah Ustad Dr. Khamim Zarkasih, M Ag. (Istimewa)

BERNASNEWS.COM — Dalam masa pandemi Covid-19 ini, masyarakat di dunia sedang mengalami kondisi yang tidak normal. Ada dua tahapan yang perlu diperhatikan yakni potensi untuk resisten atau melawan terhadap kondisi dan tahapan komitmen untuk menerima kondisi dengan mengikuti aturan yang diberlakukan. Keduanya sangat dipengaruhi aspek intelektual dan emosional seseorang.

Dr. AS Martadani Noor, MA, Dekan Fisipol UWM menuturkan hal tersebut dalam acara Syawalan Virtual Keluarga Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Widya Mataram (UWM), Sabtu (13/6/2020). Acara diselenggarakan melalui aplikasi Zoom Video Conference bertema Pendidikan dalam Normal Baru Menuju keunggulan Budaya, dengan menghadirkan penceramah Ustadz Dr. Khamim Zarkasih, MAg.

“Era new normal yang dipengaruhi intelektual dan emosional sangat terkait dengan visi kampus UWM yang berbasis kebudayaan. Dalam pengembangan keilmuan, UWM akan mengembangkan secara bersamaan aspek rasional dan spiritual, sehingga sangat relevan dalam menyikapi kondisi pandemi untuk menyongsong era new normal,” ucap Dani sapaan akrab AS Martadani Noor.

Sementara dalam tausiyahnya, Ustad Khamim menyampaikan pandemi Covid-19 seharusnya menjadi kesempatan bagi manusia untuk menata kehidupan normal baru sebagaimana yang diharapkan. Kondisi sebagai dampak mewabahnya virus tersebut mengingatkan manusia untuk kembali sadar pada hakikat fungsi kekhilafahan dan kerisalahan.

“Usai ibadah puasa ramadan ini semestinya manusia melakukan introspeksi diri. Hal itu dapat merujuk dari Rukun Islam. Lima pilar Rukun Islam dapat menjadi jawaban atas penyakit dan masalah yang dihadapi manusia, terutama pada masa pandemi ini,” ungkap Ustad Khamim.

Banyak manusia yang mengalami disorientasi kehidupan. Manusia modern lebih berfikir tentang materi dan kedudukan yang telah dimiliki, bukan pada tujuan hidup yang hakiki. Dalam aspek kepemimpinan, Syahadat Rasul memiliki pesan tentang sosok idola seorang pemimpin. Kehidupan akan menjadi nyaman manakala para pemimpin mampu meneladani Nabi Muhammad SAW. Sementara itu, hikmah dari Sholat ialah supaya manusia lebih mengatur waktu sehingga tidak merasa dikejar – kejar pekerjaan dan merasa selalu disibukkan oleh dunia.

“Awal waktu sholat merupakan manajemen terbaik dalam mengatasi persoalan manusia modern,”  terang Ustad Khamim. Manusia moderna saat ini juga harus mampu melakukan self control atau kemampuan mengontrol diri dalam proses memenuhi harapan dan kebutuhan hidup. Hal itu dapat dicapai melalui pelajaran puasa yang salah satunya memiliki makna menahan diri.

Ketimpangan sosial, menurut Ustad Khamim, dapat diatasi melalui berbagi sebagaimana pesan dari pelaksanaan zakat sebagai rukun Islam keempat. Sedangkan hikmah dari rukun Islam kelima Naik Haji adalah sebuah jalinan persaudaraan internasional. Tragedi kemanusiaan bermula dari perbedaan etnis. Semua etnis dihadapan Allah SWT sama, yang membedakan adalah ketaqwaannya.

Dalam menyikapi era new normal, Ustad Khamim menegaskan, bahwa masyarakat harus tetap mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan. Karena virus sebenarnya masih ada sehingga membutuhkan kesadaran dan keharusan dalam menyikapinya.

“Pendidikan di era new normal juga membutuhkan basis kecerdasan masyarakat. Cerdas tersebut terdiri dari cerdas secara intelektual, sosial, emosional, spiritual dan kinestetis,” tegasnya. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here