Monday, August 8, 2022
spot_imgspot_imgspot_img
spot_img
HomePendidikanBudaya Riset Siswa di Sekolah Perlu Terus Dikembangkan

Budaya Riset Siswa di Sekolah Perlu Terus Dikembangkan

BERNASNEWS.COM – Budaya riset atau penelitian siswa di sekolah perlu terus dikembangkan. Dengan kegiatan riset yang diwadahi melalui ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), para siswa dibimbing melakukan investigasi secara aktif, tekun dan sistematis yang bertujuan untuk menemukan, menginterpretasikan, dan merevisi fakta-fakta. Di sisi lain, Yogyakarta memiliki potensi yang besar para peneliti siswa di sekolah, bahkan ada yang berprestasi sampai tingkat internasional

Demikian rangkuman pembicaraan singkat Dewan Pembina Yayasan Sagasitas Indonesia R Gunawan Susilowarno MPd dan Pendamping KIR SMA Negeri 4 Yogyakarta Dra Cecilia Endang Purwatiningsih sebelum memberikan Workshop KOPSI-FIKSI di aula SMA Negeri 4, Jalan Magelang, Karangwaru Lor, Kemantren Tegalrejo, Yogyakarta, Kamis (2/12/2012). KOPSI singkatan dari Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia, sedangkan FIKSI adalah Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia.

Pelatihan penelitian karya ilmiah remaja selama dua hari (Kamis dan Jumat 2-3/12) yang diikuti 100-an orang siswa ini dibuka oleh Kepala SMA Negeri 4 Yogyakarta Jaka Tumurana MPd. Selain Gunawan Susilowarno dan Endang Purwatiningsih, tampil pula sebagai narasumber Maria Rina Kurniasari S.Si dan Sinta Ikawisudawati S.Si.   

Bangkitkan semangat meneliti

Guru Bahasa Indoenesia dan Pendamping KIR SMA Negeri 4 Yogyakarta Dra Cecilia Endang Purwatiningsih mengatakan, peserta ekstra kurikuler KIR di sekolah ini tercatat 12 orang. Namun sempat fakum kegiatan karena pandemi Covid 19. Untuk membangkitkan lagi semangat meneliti, sekolah mengadakan pelatihan penelitian KIR yang ternyata diminati cukup banyak siswa.

“Tahun lalu, siswa KIR kami antara lain pernah meneliti bagaimana meminimalkan dampak negatif minyak goreng yang umumnya dipakai berkali-kali. Juga pernah meneliti sosial ekonomi para penambang pasir di Kulonprogo, meneliti bagaimana meningkatkan nilai ekonomi kulit pisang supaya tidak hanya dibuang. Peneliti siswa terdiri tim dua orang. Pada pelatihan kali ini, siswa kelompok IPA dan kelompok IPS dibimbing membuat proposal. Harapannya, tahun 2022 dapat menjadi KIR untuk diikutkan pada KOPSI dan FIKSI mulai dari tingkat kota, provinsi sampai nasional,” kata dia.          

Narasumber Gunawan Susilowarno yang telah lama menekuni pendampingan penelitian para siswa sekolah di DIY mengatakan, observasi dan identifikasi masalah sangat penting dalam pelaksanaan riset. Observasi adalah sebuah cara yang dilakukan untuk menemukan atau identifikasi permasalahan yang akan diteliti dan memberikan suatu gambaran kepada penelitian terkait tujuan awal melalukan penelitian.

“Dengan melakukan observasi, peneliti dapat menentukan langkah apa saja yang sebaiknya dilakukan saat mulai masuk dalam penelitian yang sesungguhnya. Langkah-langkah observasi adalah menentukan objek yang akan diamati, mengumpulkan fakta terkait objek dan menyiapkan laporan untuk mencatat data hasil observasi,” kata guru pembimbing penelitian siswa yang turut menerbitkan jurnal ilmiah Musyawarah Guru Pembimbing Penelitian (MGPP) Kota Yogyakarta ini.

Menurut dia, visi misi Yayasan Sagasitas Indonesia adalah mencerdaskan siswa Indonesia melalui kegiatan penelitian siswa. Kemudian meningkatkan kualitas pendidikan agar lebih bermartabat.  (YB Margantoro, wartawan senior)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments