Wednesday, May 18, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeSeni BudayaBudaya, Nilai-nilai Keutamaan dan Kearifan Lokal  Jawa Harus Dilestarikan

Budaya, Nilai-nilai Keutamaan dan Kearifan Lokal  Jawa Harus Dilestarikan

bernasnews.com – Budaya, nilai-nilai keutamaan dan kearifan lokal Jawa harus dilestarikan dengan menyesuaikan perkembangan zaman dan teknologi informasi komunikasi. Ketiga hal tersebut penting bagi kehidupan pribadi dan bersama. Jangan sampai sebagai orang Jawa apa pun posisi dan keberadaannya tercerabut dari akar budayanya sendiri.

“Salah satu upaya untuk tetap menjaga kelestarian tiga hal tersebut dengan bincang-bincang tentang Jawa dari berbagai topik dan tentu saja dilaksanakan. Ternyata materinya banyak sekali yang dapat dibahas. Saat ini, karena kita masih dalam kondisi pandemi Covid 19, maka bincang-bincangnya melalui zoom meeting. Ini juga sebentuk penyesuaian dengan sarana komunikasi canggih, meski yang dibahas kearifan lokal,” kata Koordinator Penyebar Kautaman Dr Untoro Hariadi M.Si yang sehari-hari menjadi Dosen Fakultas Pertanian Universitas Janabadra Yogyakarta kepada bernasnews.com yang menghubungi via telepon di Yogyakarta, Minggu (13/3/2022).

Dia mengatakan hal itu sehubungan akan dilaksanakannya acara Sinau Sesarengan Nguri-uri Kabudayan Jawi bertajuk Tantangan Nglestantunaken Basa lan Sastra Jawa ing Era Milenial melalui zoom meeting, Senin (14/3) pukul 19.30 – 21.00 WIB. Pendaftaran di bit.ly/SS_Jawa. Join zoom meeting : htpps://us02web.zoom.us/j/835542003355?pwd=Y2s4M2lvZElyNjkzaDgyZjdPejVjUTO9. Meeting ID : 835 5420 0355. Passcode : Jawa.

Akan memberikan pengantar pada acara tersebut Dr. Untoro Hariadi, M.Si (Universitas Janabadra Yogyakarta), narasumber Dr Ratun Untoro, M.Hum (Balai Bahasa DIY) dengan topik Strategi Melestarikan Bahasa Jawa di Era Milenial dan R. Bambang Nursinggih, S.Sn (Lembaga Kebudayaan Jawa Sekar Pangawikan) dengan topik Praktik Baik Merawat Sastra Jawa. Bertindak selaku moderator, sastrawan Jawa KRT Dr. Akhir Lusono S.Sn MM.

Bermula keprihatinan

Menjawab pertanyaan, Dr Untoro Hariadi M.Si mengatakan komunitas Penyebar Kautaman yang beranggotakan akademisi dan budayawan ini terbentuk bermula dari keprihatinan terhadap apresiasi dan implementasi kaum muda tentang hal-hal yang bernuansa Jawa. Sebagian besar diantara mereka tidak tahu, tidak suka dan tidak melakukan.

Dalam budaya Jawa, ada kesenian tradisional seperti macapatan, wayang, seni tari dan sebagainya. Itu semua bukan hanya soal tontonan, namun ada pitutur atau pendidikannya. Kalau kebudayaan ini tidak diapresiasi, ditonton dan dilestarikan, dapat hilang. Kemudian dalam nilai-nilai keutamaan hidup, ada unggah-ungguh, ada budi pekerti yang sudah terkikis. Sudah tidak banyak lagi rasa hormat anak muda kepada orang tua dalam berkomunikasi, dalam menanggapi pemberian tugas kewajiban di rumah tangga, dan sebagainya.   

Sedangkan dalam kearifan lokal, terasa sekali saat pandemi Covid 19 masyarakat kita yang telah mengabaikan apotik hidup sebagaimana dilakukan nenek moyang kita. Para orangtua kita zaman dulu memahami dan mengusahakan apotik hidup, tanaman sayuran dari pekarangan sendiri. Imun selalu terjaga maka tubuh pun jadi sehat.

“Hal kedua yang tidak kalah pentingnya dari program Sinau Sesarengan itu adalah agar hal-hal yang kita miliki itu tidak untuk diri sendiri. Orang Jawa di mana pun berada harus dapat hidup dan berkarya bersama dengan baik. Orang Jawa itu mementingkan kesetaraan hidup dan menghormati sesama sehingga terjadi keselamatan dan harmonisasi hidup bersama,” kata dia.

Menurut Untoro Hariadi, dari beberapa kali tayangan zoom meeting dengan topik yang berbeda, sebaran pesertanya lebih dari 50 orang. Mereka dari Yogyakarta dan luar kota seperti Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Papua. Masih diusahakan agar tayangan zoom sampai ke luar negeri. (mar)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments