Home News BPKSF Sosialisasi Yogyakarta Warisan Dunia: “Sumbu Filosofi Sangkan Paraning Dumadi”

BPKSF Sosialisasi Yogyakarta Warisan Dunia: “Sumbu Filosofi Sangkan Paraning Dumadi”

197
0
Lurah Panembahan RM. Murti Buntoro, SH MIP saat menyampaikan sambutan dalam giat Sosialisasi Yogyakarta Warisan Dunia, dengan tajuk ‘Sumbu Filosofi Sangkan Paraning Dumadi’ diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY melalui Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Fisologis (BPKSF), Rabu (20/10/2021). Foto: Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com.

BERNASNEWS.COM — Wilayah Kelurahan Panembahan merupakan salah satu bagian dari sirip-sirip terkait keberadaan Sumbu Filosofi yang keberadaannya telah dicatatkan pada UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda. Sehingga masyarakat harus paham atau setidaknya dapat menjelaskan apabila ada wisatawan yang menanyakan tentang Sumbu Filosofi itu.

Hal itu disampaikan oleh Lurah Panembahan RM. Murti Buntoro, SH MIP dalam sambutan pembukaan kegiatan Sosialisasi Yogyakarta Warisan Dunia, Rabu (20/10/2021), di Pendapa Mandira Loka, Kelurahan Panembahan, Jalan Langenastran Lor, Yogyakarta.

“Masyarakat atau warga Kelurahan Panembahan setidaknya paham soal Sumbu Filosofi karena berada di bagian siripnya. Rencana pada tahun 2022 pihak UNESCO akan melakukan kajian dan survai turun langsung pada masyarakat Yogyakarta,” terang Murti Buntoro.

Ir. Edy Harjanto selaku narasumber dan Hj. Sri Herawati, MSi selaku moderator dalam giar sosialisasi Yogyakarta Warisan Dunia, Rabu (20/20/2021), di Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Yogyakarta. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Sumbu Filosofi, lanjut Murti Buntoro, tidak lepas dari berdirinya Kraton Yogyakarta dengan tokoh sentralnya sebagai arsitek pembangunannya yaitu Pangeran Mangkubumi, yang kemudian sebagai raja bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. “Sumbu Filosofi yang merupakan garis imajiner ini juga terkait dengan kehidupan manusia dari lahir hingga akhir hayatnya,” katanya.

Kegiatan bertajuk ‘Sumbu Filosofi Sangkan Paraning Dumadi’ diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY melalui Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Fisologis (BPKSF), dengan pembiayaan Dana Keistimewaan Tahun Anggaran 2021. Menghadirkan nara sumber Ir. Edy Harjanto, Tim Laboratorium Antropologi FIB – UGM (LAURA) dan moderator Hj. Sri Herawati, SH, MSi yang juga selaku Ketua LPMK Panembahan.

Edy Harjanto selaku nara sumber dalam kesempatan tersebut memaparkan, bahwa Yogyakarta adalah sebuah kota yang istimewa yang pembangunannya tidak sembarangan pada tahun 1755 oleh Pangeran Mangkubumi. Penilaian dari UNESCO pada tahun 2022 bukanlah dari sisi phisik bangunan melainkan sebagai konsep Sumbu Filosofi Sangkan Paraning Dumadi.

“Dalam membangun ibu kota baru, Pangeran Mangkubumi memasukan unsur Jawa berupa konsep kosmologis yang memadukan aninisme, Hindu, Buda dan Islam ke dalam seluruh desain kraton, termasuk letak kraton berdasar ekologis, antara gunung berapi, laut dan sungai,” kata Edy.

Kendal perwakilan dari Tim Laboratorium Antropologi FIB – UGM (LAURA) saat menyampaikan paparan. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Menurut Edy, pembangunan kraton itu berawal adanya Perjanjian Giyanti yang membagi kerjaan Mataram menjadi dua yaitu, Surakarta dan Yogyakarta. Sedangkan pilihan waktu itu Mangkubumi ke arah barat hutan Bering, tepatnya di Desa Pacethokan yang ada umbul (sumber mata air) yang ditengarai kemudian menjadi Taman Sari.

Sementara itu, Tim LAURA dari FIB – UGM yang dipandu oleh Kendal dalam giat sosialisasi itu lebih pada mengkesplorasi peserta yang hadir dengan pertanyaan, bahwa dalam kehidupan sehari-hari apakah masih melakukan laku budaya yang berhubungan dengan Sangkan Paraning Dumadi, atau berdasar norma-norma lain dalam budaya yang berlaku di wilayah Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton.

Kegiatan Sosialisasi Yogyakarta Warisan Dunia di Kelurahan Panembahan dilaksanakan 4 sesi guna mengatur kehadiran peserta dalam rangka mematuhi protokol kesehatan, dengan target peserta Ketua RT, RW, Ketua PKK dan Ketua Kampung, serta tokoh masyarakat setempat yang diharapkan setelah mengikuti kegiatan dapat mensosialisasikan tentang Sumbu Filosofi Sangkan Paraning Dumadi kepada warga lainnya. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here