Sunday, August 14, 2022
spot_imgspot_imgspot_img
spot_img
HomeSeni BudayaBorobudur Dibuat “Ngakak” Kartun Subro

Borobudur Dibuat “Ngakak” Kartun Subro

bernasnews.com — Melalui pintu masuk 7, wisatawan Candi Borobudur dapat memasuki Museum Borobudur. Tempat bernuansa klasik terdapat joglo yang tengah-tengahnya terdapat dua perangkat gamelan komplit. Suasananya sedikit berbeda, karena bukan suara gamelan yang terdengar, melainkan suara gitar akustik yang dimainkan oleh  muda-mudi mengiringi hingar bingarnya pembukaan pameran kartun Ngakak Gojekan Subro, Sabtu (16/7/2022).

Lebih dari 300 karya kartun FX Subroto dipajang di Pendopo Museum Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, hingga 19 Juli 2022. Karya-karya tersebut sebelumnya telah sukses digelar di Balai Budaya, Jalan Gereja Theresia, Gondangdia, Menteng, Jakarta, tanggal 24 hingga 30 Juni 2022. Rencananya karya-karya koleksi Subroto atau lebih terkenal dengan inisial Subro tersebut akan dipamerkan marathon ke berbagai kota besar.

“Setalah di Borobudur, kami mengagendakan karya Mas Subro dipamerkan di Yogyakarta dalam waktu dekat, dengan mengolaborasikan karya para kartunis Paguyuban Kartunis Yogyakarta (PAKYO),” kata Ketua Persatuan Kartunis Indonesia (PAKARTI) Agoes Jumianto.

Kartunis Subro telah wafat Sabtu, 18 Juni 2022  di RS Panti Rapih Yogyakarta. Kartunis legendaris tersebut meninggalkan warisan kekayaan intelektual dalam bidang seni kartun. Karyanya bertebaran dimuat di berbagai media massa cetak daerah maupun nasional sejak tahun 1970-an hingga akhir hayatnya. Karya baik kartun maupun kartun editorial telah dimuat di koran Kedaulatan Rakyat, Berita Nasional (Bernas), Suara Pembaruan,Wawasan, majalah bahasa Jawa Djaka Lodang, Panjebar Semangat, Gatotkaca, Senang, Detektif & Romantika, dan lain-lain.

Dinamika kartun di Yogyakarta tak dapat dilepaskan peran Subroto. “Mas Subro adalah salah satu sosok pendiri PAKYO yang dibentuk 5 Desember 1979, dan telah menginspirasi paguyuban atau kelompok kartunis di berbagai kota: Semarang Cartoonist Club (Secac), Kelompok Kartunis Kaliwungu (Kokkang), Ikatan Kartunis Banjarmasin (Ikanasin), Wadah Kartunis Semarang (Waksemar), Persatuan Kartunis Solo (Pakarso), Solo Kartunis Indonesia (Sloki), dan komunitas di Wonogiri,  Bali, Makasar, Medan, dan kota lainnya,” kenang kartunis Agoes Jumianto.

Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si mengawali goreskan spidol diteruskan kartunis lainnya saat pembukaan pameran kartun Ngakak Gojekan Subro, di Museum Borobudur, Magelang, Sabtu 16/07/2022. (Foto: Kiriman Hayuning Dewi D)

Kabidbin Gakkum Korlantas Polri, Brigjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si melalui Kampoeng Semar mendorong dan memfasilitasi event pameran dan dialog para kartunis di Indonesia. Dia sekaligus sebagai moderator, acara berlangsung dengan meriah, diselingi canda tawa. “Pokoknya kartun kita buat koplak-koplakan, tidak lurus-lurus saja,” katanya.

Pantas saja kemeriahan acara tersebut mengundang pengunjung Borobudur untuk  menyaksikan lebih dekat karya-karya kartun strip karya Subro. Hadir dalam dialog tersebut kartunis asal Bali I Made Arya Dwita (Dedok), Yere Agusto (Balica), kartunis asal Semarang Yehana SR, kartunis Yogyakarta Agoes Jumianto, Praba Pangripta, Alex Pracaya, kartunis Magelang Priyo Puji R, kalangan jurnalis, dan pecinta seni.

Pameran dibuka oleh Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si dengan mengawali menorehkan spidol di atas kertas, lalu dilanjutkan oleh Ketua PAKARTI, Agoes Jumianto, dilanjutkan para kartunis dari berbagai kota. Momen langka tersebut diisi demo menggambar karikatur wajah di tempat (on the spot) oleh kartunis Poejiyanto dan I Made Arya Dwita. Tampak antrian pengunjung Borobudur yang mampir di pameran untuk digambar wajahnya.

Tema-tema kartun Subro yang dipamerkan mencakup permasalahan marginal, permasalahan rakyat yang kadang luput dari pengamatan kacamata awam. Karena kepekaan  humor, kemampuan menggambar, pemahaman kode etik jurnalistik, kartunis Subro yang juga seorang jurnalis mampu menghasilkan karya yang menghibur bagi siapa saja. Karya-karyanya yang sudah dibukukan setebal 600  halaman dapat menjadi referensi dan berliterasi secara visual maupun verbal. (Praba Pangripta, Kartunis asal Yogyakarta)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments