Home Ekonomi Bisnis Unik, Ekspor Peti Mati dengan Omset Miliaran Rupiah

Bisnis Unik, Ekspor Peti Mati dengan Omset Miliaran Rupiah

57
0
Seorang pekerja sedang menyelesaikan pengerjaan peti mati untuk ekspor yang terbuat dari bahan ramah lingkungan. Foto: Dok Pribadi

BERNASNEWS.COM – Selama ini kita hanya mengenal komoditi ekspor berupa gas dan non migas seperti produk pertanian, perkebunan, pertambangan dan kehutanan. Namun, tidak demikian bagi Purwanto (42 tahun) dan teman-temannya. Ia mempunyai bisnis yang unik dan menarik, yakni ekspor peti mti/jenazah.

Bahan peti mati pun tergolong unik karena bukan dari kayu seperti umumnya peti mati, tapi dari bahan yang ramah lingkungan, seperti rotan, eceng gondok, mendong, rami, pelepah pisang dan aneka bahan alam lain yang ramah lingkungan. Purwanto menyebutnya green coffin.

Menurut Purwanto, produk seperti itu diminati pasar Eropa hingga Amerika Serikat, yang merupakan negara-negara dengan kesadaran terhadap lingkungan yang relatif sudah tinggi. Sementara kayu-kayu sebagai rangka penguat peti menggunakan kayu yang sudah memiliki sertifikat SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu)sebagai syarat untuk bisa masuk ke pasar Eropa.

Dari bisnis ini, Purwanto bisa mempekerjakan kurang lebih 100 orang di pabriknya di Desa Trangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah. Usahanya yang bernama Eco Green ini punya pasar tetap di Eropa dan Amerika Serikat.

“Saya memulai bisnis ini pada tahun 2002. Permintaannya terus naik dari tahun ke tahun. Apalagi setelah kami mendapat pendampingan dan pembinaan, juga dibantu mencari pasar dan permodalan,” ujar Purwanto seperti dkutip Chesna F Anwar, Corporate Secretary Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, dalam rilis yang dikirim kepada Bernasnews.com pada Jumat, 14 Januari 2022.

Menurut Chesna F Anwar, melalui APIKRI (Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Indonesia), asosiasi di mana Purwanto bergabung, tiap bulan setidaknya 3 kontainer berisi peti mati dikirim ke luar negeri. Tiap kontainer bisa memuat 80 peti, sehingga tiap bulan setidaknya terjual 240 buah peti.

Seorang pekerja sedang menyelesaikan pengerjaan peti mati untuk ekspor yang terbuat dari bahan ramah lingkungan. Foto: Dok Pribadi

APIKRI tidak cuma menampung produksi peti buatan Purwanto. Sebagai asosiasi pengrajin, asosiasi ini juga menjadi penampung produk sejenis buatan produsen seperti Purwanto. Dari bisnis ini, setidaknya sudah ada 3 klaster usaha di Kabupaten Gunung Kidul, Bantul dan Kulon Progo.

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang membuat ekspor peti ramah lingkungan atau green coffin ini bisa terwujud. “Sejak tahun 2017 kami mendampingi para pengrajin melalui APIKRI dan alhamdulillah sejak tahun 2019 para pengrajin sudah bisa mengekspor,” kata Chesna F Anwar.

Purwanto menunjukkn produk peti mati untuk ekspor yang terbuat dari bahan ramah lingkungan. Foto: Dok Pribadi

Menurut Chesna Anwar, ekspor perdana ke Belanda tahun 2019 senilai sekitar Rp 150 juta, disusul ekspor ke Amerika Serikat. Sekarang ini, jika dihitung rata-rata per bulan ekspor 3 kontainer senilai Rp 450 jta, sehingga dalam setahun nilai ekspor mencapai lebih dari Rp 5 miliar.

Yang lebih menggembirakan, menurut Chesna, pekerja langsung yang terserap dari bisnis ini ikut meningkat. Ketua APIKRI Kemiskidi mengatakan, yang ikut menikmati manisnya bisnis peti ini sangat banyak, mulai dari pengumpul eceng gondok, pelepah pisang, sampai dengan tukang pembuatnya.

“Ini bisnis yang prospeknya menjanjikan. Apalagi pasar luar negeri mencari produk ramah lingkungan, termasuk memikirkan persiapan ketika kelak menutup usia, maka mereka membutuhkan peti,” ujar Chesna.

Chesna mengatakan, lembaganya berkomitmen membukakan pasar yang lebih luas bagi pengrajin, termasuk menyediakan permodalan untuk pengembangan usaha ini. “LPEI memiliki mandat dari Pemerintah untuk mendorong ekspor. Jadi, kami sangat serius membantu para pengrajin melalui asosiasi. Kami optimis produk yang unik ini punya pasar yang sangat besar di luar negeri,” kata Chesna F Anwar. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here