Home Opini Bisnis Hijau, Bisnis Berkelanjutan

Bisnis Hijau, Bisnis Berkelanjutan

213
0
Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta

BERNASNEWS.COM – Bisnis hijau merupakan suatu bentuk kepedulian perusahaan di dunia dalam menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar dengan meminimalisir dampak negatif terhadap masyarakat lingkungan sekitar dan ekonomi yang kini menjadi sesuatu yang sedang trendi di dunia. Bisnis hijau itu sendiri ditunjukkan dengan berbagai bentuk di antaranya adalah green label, green product, green packaging sampai dengan green business.

Adapun yang melatar belakangi munculnya konsep bisnis hijau adalah adanya kesadaran terhadap perubahan lingkungan yang semakin tidak bersahabat yang disertai dengan majunya industri dan usaha yang tidak memiliki kepeduluian terhadap lingkungan.

Lingkungan itu sendiri merupakan suatu tantangan bagi dunia usaha, dimana bank, asuransi atau investor dapat diyakinkan bila perusahaan telah mempunyai bukti bahwa penggunaan sumber daya alam serta pembuangan limbah pada setiap tahapan aktivitas seperti perencanaan, produksi, distribusi, pemasaran sampai kepada konsumen akhir dari barang dan jasa telah berjalan dengan baik dan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak yang bersifat positif. Sehingga dalam upaya memanfaatkan sumber daya alam yang ada perlu juga diperhatikan dampaknya bagi lingkungan dengan adanya kegiatan bisnis tersebut.

Secara umum dijelaskan bahwa bisnis dikatakan hijau, jika bisnis tersebut memenuhi empat kriteria, yakni (1) Menerapkan prinsip berkelanjutan dalam setiap keputusan bisnisnya; (2) Menyediakan produk yang ramah lingkungan (environmentally friendly) yang menggantikan permintaan terhadap produk yang tidak ramah lungkungan; (3) Lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan kompetitornya, dan (4) Memiliki komitmen serta menhjalankan yang berkaitan dengan berbagai prinsip lingkungan hidup dalam setiap operasi  bisnisnya.

Oleh sebab itu perusahaan dituntut adanya penerapan Greening business management, yakni suatu strategi untuk menjadikan prusahaan tersebut “hijau” dengan menyelaraskan antara bisnis serta pengelolaan lingkungan secara terpadu, yang meliputi perngembangan struktur organisasi, sistem dan budaya kerja yang ramah lingkungan dengan menerapkan dan manaati semua peraturan tentang pengelolaan lingkungan, pengelolaan bahan baku, pengelolaan limbah, penggunaan sumber daya alam secara efisien dan efektif, serta penggunaan teknologi produksi yang menghasilkan limbah minimal serta menerapkan komitmen mengenai kesadaran lingkungan bagi seluruh karyawan dalam operasinya.

Lebih lanjut ditegaskan bahwa secara awal setiap kegiatan bisnis yang dijalankan oleh pihak mana pun harus mematuhi berbagai peraturan yang ditetapkan seperti pengelolaan limbah B3 dan limbah rumah tangga. Selanjutnya adalah selalu melakukan peningkatan efisiensi terhadap penggunaan energi.

Dalam hal ini perusahaan dapat menerapkan atau menggunakan ISO 14001, yakni tentang manajemen lingkungan, karena apa pun alasannya, setiap ada kegiatan bisnis atau perusahaan pasti akan berdampak pada dua hal, yakni dampak bio kimia phisik, seperti polusi udara, pencemaran air yang ditimbulkan karena aktivitas perusahaan, kerusakan keaneka ragaman hayati, atau juga pengurangan cadangan air tanah.

Yang kedua adalah dampak sosial yang pada dasarnya bermula dengan adanya dampak yang pertama. Sebagai contoh adanya risiko yang mempengaruhi bisnis yang dijalankan perusahaan dengan adanya pencemaran air yang ditimbulkan dari adanya aktivitas perusahaan, akan memberikan risiko pertanggungjawaban dalam bentuk tuntutan perdata dan pidana, apakah tuntutan tersebut berasal dari pemerintah, masyarakat, atau lembaga swadaya masyarakat.

Bisnis berkelanjutan

Bisnis berkelanjutan atau sering disebut Sustainable Business, yang juga disebut sebagai Bisnis Hijau, pada dasarnya merupakan perusahaan yang memiliki dampak negatif yang minimal terhadap lingkungan masyarakat, baik masyarakat ekonomi global, maupun masyarakat lokal.

Lebih lanjut disebutkan bahwa bisnis berkelanjutan merupakan usaha bisnis untuk meminimalisir dampak negatif bagi lingkungan maupun sosial, agar generasi penerus nanti memiliki sumber daya yang memadai untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini tidak hanya aman bagi lingkungan, bisnis ini juga mempunyai kualitas yang baik untuk berhasil di pasar global yang kompetitif.

Bisnis berkelanjutan sering juga diartikan sebagai suatu model bisnis yang mengelola Triple bottom line, dimana perusahaan mengelola keuangan mereka serta dampak sosial dan lingkungan.Bisnis berkelanjutan berbeda dengan kegiatan bisnis tradisional, karena bisnis tradisional perusahaan hanya berpikir dalam segi keuangan tanpa memikirkan efek atau dampak ke lingkungan maupun sosial.

Triple bottom line  yang pertama kali diperkenalkan di tahun 1997 oleh John Elkington, yakni memecah focus perusahaan menjadi 3 (tiga), yakni keuangan dalam segi ekonomi, tanggung jawab sosial, dan tanggung jawab lingkungan   Triple bottom line bertujuan untuk menjaga kesinambungan bisnis dengan memecah focus perusahaan menjadi 3 (tiga) unsur, yakni keuntungan, manusia, dan planetr sehingga perusahaan tetap mendapat keuntungan dan sosial lingkungan tetap terjaga.

Karakteristik bisnis berkelanjutan adalah Radical resource productivity yakni perusahaan mengurangi atau bahkan meninggalkan penggunaan sumber daya alam dalam proses produksinya. Perusahaan menghilangkan ketergantungan pada energy atau sumber daya yang tidak dapat diperbaharui.

Kemudian, investment in natural capital; dalam hal ini perusahaaan menjalankan dan menggunakan energy atau smber daya untuk kebutuhan bisnis, namun ikut memulihkan atau menjaga lingkungan dan sosial.

Ecological redesign akni perusahaan menggunakan system closed loop production, yakni mendaur ulang limbah hasil produksi menjadi sumber daya yang dapat digunakan lagi untuk kegiatan produksi.

Service and flow economy yakni perusahaan tidak lagi menjual produk namun menyewakannya. Ketika produk sudah using atau daya guna berkurang, maka perusahaan akan mendaur ulangnya. Hal ini akan mampu mengurangi limbah barang rusak yang tidak digunakan perusahaan.

Responsible consumption yakni mempromosikan produknya dengan cara mengedukasi konsumen agar lebih bijak dalam membeli produk yang benar-benar dibutuhkan, sehingga dapat mengurangi terjadinya konsumen asal beli yang akan membuat produk tersebut sia-sia.

Semoga beberapa catatan di atas dapat bermanfaat bagi para pengelola usaha atau bisnis dewasa ini, agar bisnis yang dijalankan merupakan suatu bisnis yang benar-benar diharapkan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat luas. Semoga. (Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here