Home News Bisnis Ayam Kampung Tetap Eksis di Tengah Krisis Covid-19

Bisnis Ayam Kampung Tetap Eksis di Tengah Krisis Covid-19

3311
0
Ayam kampunh/Jawa di salah satu kandang milik Y Sriyono MM di Dusun Cupuwati, Desa Purwomartani, Kecamatan, Kalasan, Kabupaten Sleman, Rabu (15/4/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM – Hampir semua sektor usaha atau bisnis saat ini mengalami krisis di tengah merebaknya wabah virus Corona atau Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Hal ini terjadi karena adanya kebijakan pemerintah yang meminta warga untuk tetap tinggal atau bekerja di rumah (stay at home atau work from home) atau bila terpaksa keluar rumah atau bepergian harus menjaga jarak sosial dan fisik (social distancing dan physical distancing).

Seorang petugas memberi daun kelor untuk pakan ayam kampung/Jawa di salah satu kandang milik Y Sriyono MM di Dusun Cupuwatu, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Rabu (15/4/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Dengan kebijakan ini warga lebih banyak berdiam di rumah atau kalau pun bepergian harus menjaga jarak. Sejumlah acara dan aktivitas pun dibatasi, seperti pertemuan, rapat-rapat dan aktivitas yang melibatkan atau diikuti banyak orang sehingga praktis sejumlah usaha terhenti bahkan “lumpuh”, seperti rumah makan atau warung makan tutup, pesta-pesta tertenti, rapat-rapat yang melibatkan banyak orang ditiadakan dan sebagainya.

Daun kelor untuk pakan ayam kampung/Jawa. Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

Namun, di tengah kondisi seperti itu, sejumlah usaha atau bisnis tetap jalan secara normal, meski tidak seperti dalam keadaan normal seperti sebelum wabah virus Corona merebak. Salah satu bisnis yang masih eksis di tengah krisis ini adalah peternakan ayam kampung atau ayam Jawa, seperti yang dilakukan Y Sriyono MM, warga Cupuwatu, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman.

Dengan 4 kandang yang total berisi 4.000 ekor ayam kampung/ayam Jawa, ia tetap memenuhi kebutuhan pembeli yang menjadi pelanggan tetap, baik di DIY maupun di Jakarta. “Kemarin ada yang datang mengambil 350 ekor. Biasanya memang diambil seluruhnya setiap panen. Namun, dengan adanya kasus Covid-19, pengambilannya tidak sekaligus seperti sebelumnya,” kata Sriyono yang mengantar Bernasnews.com melihat 4 kandang berisi ayam kampung yang berada di sekitar rumahnya di Cupuwatu, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Rabu (15/4/2020).

Ratusan ayam kampung/Jawa berebutan makan magot. Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Menurut Sriyono, pembeli ayam kampung miliknya merupakan pelanggan tetap sehingga setiap panen tidak lagi sulit memasarkan atau menjualnya. Setiap dua bulan, ayam-ayam miliknya sudah bisa diambil atau dibeli para pelanggan dengan harga pasar.

“Saat ini harga jual Rp 29.000 per kilogram. Setiap dua bulan sekali dipanen dan kalikan saja 4.000 ekor dengan berat rata-rat 1 kilogram per ekor dengan harga Rp 29.000. Jadi setiap dua bulan dapat segitu,” kata Sriyono yang juga Komisaris BPR Bank Pasar Patma Klaten dan Komisari BPR Sejahtera Klaten ini.

Dikatakan, kunci lancarnya usaha tersebut karena sistem jejaring. Ia membeli DOC ayam (Day Old Chicken) yakni anakan ayam berusia di bawah 10 hari hingga 14 hari kepada seorang penyedia DOC, lalu ketika ayam sudah bersar atau usia panen dijual kembali kepada penyedia tersebut sesuai yang dibutuhkan dengan harga pasar. Selebihnya dijual kepada pelanggan tetap dengan jumlah yang sudah disepakati.

Kandang lalat penghasil magot. Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

“Dengan sistem jejaring, ayam yang dipelihara pasar atau pembelinya sudah pasti, sehingga tidak bingun lagi untuk mencari pasar atau pembeli,” kata Siryono yang telah membina 10 peternak ayam kampung dengan pelanggan/pembelinya masing-masing.

Menurut Sriyono, kualitas ayam yang dipelihara sangat bagus dan terjamin sehat. Ini bisa dilihat dari bulu dan alis yang merah cerah. Hal ini terjadi karenan makanan yang diberikan juga memenuhi standar kualitas, perawatan dan pemeliharaan dilakukan tenaga yang profesional.

Tempat lalat bertelur untuk menghasilkan magot. Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Bahkan ke depan, menurut Sriyono, ayam Jawa miliknya akan diberi makanan organik berupa magot yang memiliki protein yang bagus untuk ayam. Untuk mewujudkan hal itu, saat ini Sriyono sudah menyediakan kandang penghasil magot di salah satu kendang ayam miliknua.

“Saya menargetkan bisa menghasilkan 15 kilogram magot setiap hari agar bisa memenuhi kebutuhan pakan 4.000 ekor ayam miliknya. Bila ini sudah terealisasi maka tidak perlu lagi memberi pakan produksi pabrikan,” kata Sriyono yang juga mengembangkan usaha ternak ikan gurameh di sekitar rumahnya. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here