Bikin Sapu Lidi, Pengisi Waktu Luang Para Lansia Desa Sindang

    128
    0
    Bu Kartinah salah satu pengrajin sapu lidi di Desa Sindang, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah sedang memisahkan daun blarak dari pelepah daun kelapa. (Foto: Kiriman Syarifatun)

    BERNASNEWS.COM — Ternyata pembuatan sapu lidi ada proses tertentu yang harus dilalui yaitu, setelah memisahkan antara lidi dengan daun, kemudian lidi tersebut direndam dalam air beberapa hari. Tujuannya agar lidi mudah dibersihkan dari sisa janur juga agar tahan lama dan tidak mudah patah.

    Hal itu disampaikan oleh Bu Kartinah seorang pengrajin sapu lidi, dari Desa Sindang, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Banyak warga dari desa tersebut, yang kebanyakan para lanjut usia dan nenek-nenek menjadi pengrajin sapu lidi.

    “Daripada sehari-hari gak ada kegiatan, ya digunakan untuk membuat sapu lidi. Lumayan juga dapat penghasilan, tidak terlalu melelahkan juga,” ujar Bu Kartinah, di rumahnya, Sabtu (18/9/2021).

    Kegiatan produksi sapu lidi kebanyakan dilakukan oleh para lanjut usia yang memiliki banyak waktu luang, dengan bermodalkan pisau dan tenaga, keseharian mereka digunakan untuk membuat sapu lidi. Sedangkan bahan bakunya cukup melimpah berhubung di Desa Sindang masih banyak terdapat kebun kelapa.

    Kebanyakan dari para lansia pengrajin sapu lidi, mengambil lidi pada blarak yakni janur yang sudah kering warna coklat yang biasanya jatuh dari pohon. Sebenarnya janur yang muda pun bisa digunakan sebagai bahan baku, tetapi mereka lebih memilih janur yang sudah kering atau bisa dikatakan memanfaatkan bahan yang telah tersedia.

    Kalau tidak ada blarak yang jatuh dan ditemukan, mereka akan mencari lidi di rumah-rumah tetangga yang biasa memasak di pawon atau rumah pembuat gula merah. Karena sudah dipastikan mereka memiliki stok janur kering sebagai bahan pembuatan api (bahan bakar). Para lansia tersebut akan meminta bagian lidinya saja, sedangkan lembar daun janur dikembalikan.

    Namun sayang alat pembersih yang penuh dengan nilai filosofi ini dihargai sangat murah sekitar Rp 1.500,- per ikat sapu lidi berukuran setara segenggam tangan orang dewasa. Biasanya mereka para pengrajin akan menjual sapu lidi tersebut setelah terkumpul banyak untuk dijual pada pengepul sapu lidi. (Syarifatun, Mahasiswa Prodi Public Relations ASMI Santa Maria Yogyakarta)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here