Home Pendidikan Bicara Buku Benjamin Mangitung dan BJBR

Bicara Buku Benjamin Mangitung dan BJBR

267
0
DUA buku tentang Benjamin Mangitung dan BJBR (Bee Jay Bakau Resort) : Satu Koper Menuju BJBR dan Mengubah Sampah Jadi Emas. Foto : Kiriman YB Margantoro

BERNASNEWS.COM – Setiap buku pasti bicara tentang sesuatu. Mulai dari buku itu bicara tentang apa, bicara tentang siapa, bicara tentang di mana, bicara tentang kapan, bicara tentang mengapa dan bicara bagamana buku itu diterbitkan. Karena peran dan kemanfaatannya bagi pengetahuan, buku diibaratkan sebagai jendela dunia. Artinya, kalau ingin melihat dunia dan menjadi bagian dari masa depan dunia, kita harus banyak membaca buku. Kita harus gemar membaca.

Sebagai salah satu produk budaya manusia, baik format cetak maupun elektronik, buku diharapkan memberikan pencerahan bagi pembaca khususnya dan masyarakat umum. Hampir tidak ada tokoh Indonesia dan dunia yang mengabaikan buku. Mereka semua umumnya gemar membaca buku.   

Buku kini menjadi bagian tidak terpisahkan dari Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang terdiri dari Gerakan Literasi Keluarga (GLK), Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan Gerakan Literasi Masyarakat (GLM). Juga bagian dari Gerakan Indonesia Membaca, Gerakan Indonesia Menulis, dan sebagainya. Untuk penumbuhan inspirasi dan motivasi pentingnya membaca bagi masyarakat, dikukuhkan Duta Baca Indonesia di tingkat nasional sampai Duta Baca Provinsi dan Kota/Kabupaten.

Foto salah satu pemandangan sebuah Masjid di Kawasan Bee Jay Bakau Resort Probolinggo, Jawa Timur yang dimuat di buku Mengubah Sampah Jadi Emas. Foto: kiriman YB Margantoro

Harapan secara umum, dengan membaca dan menulis, kita menjadi insan dan bangsa yang cerdas dan Negara yang semakin maju. Seiring dengan semangat HUT ke-76 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2021, melalui keberhasilan gerakan membaca dapat mewujudkan Indonesia Tangguh dan Tumbuh.

Buku inspiratif dan motivatif

Buku bertajuk Satu Koper Menuju BJBR-Catatan Benjamin Mangitung, karya Stebby Julionatan (2021), yang saya terima dari sahabat Grace M dari Surabaya, hari Selasa (31/8/2021) dan kiriman buku sebelumnya Bee Jay Bakau Resort Mengubah Sampah Jadi Emas karya Dr Yuyung Abdi (2019) sungguh menarik. Dua buku itu memberikan inspirasi dan motivasi pentingnya menjaga kelestarian alam bagi anak cucu. Tentu saja juga literasi keluarga yang istimewa.

Buku Satu Koper Menuju BJBR setebal 146 halaman cukup banyak berisi teks dengan desain layout yang artistik. Juga ada foto-foto pendukung yang bagus. Ada sepuluh bab di buku ukuran 20 x 19 cm ini yakni : Berbekal Satu Koper;  Hoki; Idola Kampus Biru; Terbaik dan Pertama; Aku Bukan Pulau; Cintaku di Belanda; Pengembara; Rezeki dari Ikan; Proyek Gila; Pesan Pak Harto, We Love You Ben,Tentang Benjamin Mangitung.

Buku BJBR Mengubah Sampah Jadi Emas setebal 212 halaman dengan 12 chapter, memberikan kemanjaan kepada pembaca. Kemanjaan itu berkat sajian sangat banyak foto berwarna tentang keelokan kawasan wisata yang semula sarat dengan sampah yang sangat tidak menyenangkan. Bahwa lahan itu sekarang menjadi tempat edukasi. Edukasi pelajar dan mahasiswa yang datang untuk mempelajari fauna laut. Mereka bertanya apa manfaat hutan bakau. Ada yang datang untuk menikmati alam, belajar tentang alam, ecotourism, ekowisata dan eduwisata.

Bagian dari buku ini adalah Talk about Bee Jay, Hutan bakau, Jembatan kayu, Matahari terbit dan tenggelam, Bangalow di konservasi bakau, Kuda cipta wilaha, Satwa dan biota laut, Warga dan lingkungan sekitar bakau, Wahana dan fasilitas, Seafood di rest-o-tent dan Cahaya di laut.       

Menurut Benjamin Mangitung (lahir di Makassar 27 Agustus 1956) yang merupakan lulusan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 1980 dengan cumlaude,  tentang BJBR di Probolinggo Jawa Timur bagi dia hanya sebuah keinginan kita semua agar tidak pernah tercerabut dari alam.

“Aku ingin anak-anak tahu berbagai jenis burung yang biasa tinggal dan mencari makan di ekosistem bakau. Aku ingin anak-anak tahu bahwa ketika laut surut ada ikan peloncat dan biawak.

Aku tanya: ‘Apakah anak-anak sering melihat kunang-kunang?’ Nah aku ingin mereka lebih sering melihat bintang-bintang di malam hari. Itulah inti dari pembangunan BJBR. Mengonservasi alam sekaligus mengambil manfaat ekonominya bagi semua orang,” kata Benjamin, anak bungsu dari enam bersaudara keluarga ayah Petrus Demmalino Mangitung dan ibu Rachel Budi.

Sebagai penggagas dan pengembang ekowisata pasang surut BJBR, sebagaimana menjadi judul buku ini, (hanya dengan) Satu Koper Menuju BJBR. Ini menjadi sebuah kilas balik bagi suami Grace Elisabeth Nicolina Mangitung serta ayah dari Juda Mangitung dan Thirza Mangitung.

Setelah lulus dari SMAK Cendrawasih Makassar pada awal tahun 1975, remaja Benjamin berbekal satu koper berangkat dari Pangkalan Soekarno-Hatta di Makassar naik kapal kargo KM Paliat menuju Surabaya untuk studi lanjut di Pulau Jawa, tepatnya UGM Yogyakara. Sekian tahun kemudian, hanya dengan membawa satu koper lagi dia lakukan ketika merantau ke Belanda.   

Hal menarik dari buku Satu Koper Menuju BJBR adalah adanya lima kunci semangat ala Ben. Pertama : Semakin banyak yang kita lakukan semakin banyak lagi yang kita bisa lakukan. Kedua: Seimbangkan hidup antara berkarya dan menikmati karyamu. Ketiga : Buat batasan tegas sejauh apa  akan melangkah dan tidak melampaui apa yang telah ditargetkan. Keempat : Jangan memaksakan diri untuk berjalan jinjit agar terlihat lebih tinggi dari yang lain. Kelima : No man is an island. Semua makhluk yang bernama manusia pasti saling membutuhkan.

 Dua buku tentang Benjamin Mangitung dan BJBR-nya itu bukan hanya menambah kekayaan literasi nasional, namun juga menambah kekayaan jiwa, inspirasi, motivasi, wawasan dan cinta tanah air Indonesia. (YB Margantoro, Praktisi Media dan Pegiat Literasi).    

    

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here