Home News Berkunjung ke Sungai Gendol, Titah Sri Sultan HB X : Gunung Harus...

Berkunjung ke Sungai Gendol, Titah Sri Sultan HB X : Gunung Harus Kembali ke Gunung

84
0
Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama GKR Hemas dan cucunya RM Gusti Lantika Marrel Suryokusumo melihat secara langsung dampak penambangan pasir di Sungai Gendol, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (11/9/2021). Foto: Istimewa

BERNASNEWS.COM – Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X GKR Hemas dan cucunya RM Gusti Lantika Marrel Suryokusumo melihat secara langsung dampak penambangan pasir di Sungai Gendol, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (11/9/2021).

Di hadapan sejumlah warga, kelompok tani, Lurah Hargobinangun dan Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa saat beranjangsana di Aula Kalurahan Hargobinangun, Pakem, Sleman, Sabtu (11/9/2021) Sri Sultan HB menyampaikan titah. “Ingsun kagungan kersa : Gunung bali gunung, kuwi opo sing bisa tak andhareke marang sliramu kabeh, muga-muga bisa kelaksanan,” kata Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwano X dikutip Putut Prabantoro dalam rilis yang dikirim kepada Bernasnews.com, Minggu (12/9/2021). .

Titah yang jika diterjemahkan secara bebas berarti Sultan HB X menginginkan gunung harus dikembalikan sebagaimana mestinya gunung yakni bentang alam lereng Merapi yang tadinya gunung harus kembali menjadi gunung. Hal itu diucapkan Sultan HB X selepas berkeliling meninjau dampak kerusakan lingkungan akibat penambangan pasir secara sembrono di Sungai Gendol.

Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X melihat secara langsung dampak penambangan pasir di Sungai Gendol, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (11/9/2021).Foto: Istimewa

Dalam kunjungan yang dilakukan tanpa protokoler itu, Sri Sultan HB X mengajak GKR Hemas, putri keduanya GKR Condrokirono dan cucunya RM Gusti Lantika Marrel Suryokusumo berkeliling di sejumlah lokasi penambangan.

Menggunakan mobil berpenggerak empat roda, rombongan keluarga Kraton Yogyakarta itu menjelajah masuk hingga ke lokasi-lokasi yang rusak dan selama ini tersembunyi. Di antara lokasi yang dikunjungi adalah Sungai Gendol, Sungai Opak, Sungai Kuning dan wilayah Umbulharjo, Argomulyo, Glagaharjo, Kepuharjo, Kepanewonan Cangkringan.

Selama lebih dari empat jam berkeliling, Sultan menemui berbagai elemen masyarakat terdampak pertambangan. “Warga sudah lama mengalami kesulitan air akibat muka air tanah yang turun karena penggalian lokasi tambang. Apalagi yang ditambang ini statusnya adalah Sultan Ground, kami nyuwun dhawuh Ngarsa Dalem,” ungkap seorang warga yang hadir.

Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama cucunya RM Gusti Lantika Marrel Suryokusumo melihat secara langsung dampak penambangan pasir di Sungai Gendol, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (11/9/2021). Foto: Istimewa

Senada, warga Hargobinangun, Argomulyo dan Glagaharjo juga mengeluh kesulitan mengakses air bersih. Sejumlah perwakilan kelompok tani Hargobinangun bahkan secara tegas memohon Sultan untuk menutup penambangan, terutama yang ada di Kali Kuning.

“Penambangan pasir dengan alat berat di lereng Merapi mohon segera dihentikan, Ngarso Dalem,” pinta perwakilan Paguyuban Peduli Kali Kuning Nur Ahmad kepada Sultan.

Menurut Nur, semula pihaknya bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kalurahan Hargobinangun mengajukan surat keberatan ke Pemkab Sleman atas aktivitas penambangan pasir di kali Kuning pada 20 Agustus 2020 yang lalu.”Setelah kami mengajukan keberatan ke pemerintah Sleman, memang ada tindak lajut, sehingga air di kali Kuning berangsur jernih kembali. Namun, beberapa waktu berselang air di kali Kuning kembali keruh, Ngarso Dalem,” katanya.

Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama GKR Hemas dan cucunya RM Gusti Lantika Marrel Suryokusumo melihat secara langsung dampak penambangan pasir di Sungai Gendol, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (11/9/2021). Foto: Istimewa

Untuk itu, tambah Nur, pihaknya bersama Gapoktan kembali mengajukan surat keberatan yang kedua kepada pemkab Sleman pada 21 Agustus lalu. Kepada Sultan, Nur menambahkan bahwa fungsi air kali Kuning bagi beberapa padukuhan di Hargobinangun tidak hanya untuk irigasi, tetapi juga sebagai pemasok sumur resapan komunal di setiap padukuhan.

Sementara, warga Kalurahan Argomulyo, Cangkringan melaporkan rencana pembukaan lokasi tambang pasir baru di sepanjang Sungai Gendol yang disebut dibekingi oleh oknum aparat keamanan. “Kami sebagai rakyat kecil mohon perlindungan, Ngarsa Dalem. Baik keselamatan diri kami maupun kelestarian lingkungan kali Gendol. Kami takut kalau diancam oleh oknum aparat tersebut,” kata perwakilan warga yang enggan disebut namanya itu.

Menanggapi berbagai keluhan warga tersebut, Sultan HB X yang pada kesempatan tersebut didampingi GKR Hemas, GKR Condrokirono dan sang cucu RM. Gustilantika Marrel Suryokusumo menegaskan pihaknya berkomitmen untuk mengembalikan kelestarian lingkungan di lereng Gunung Merapi dan menutup seluruh praktik tambang pasir ilegal.

“Dari yang sudah kita saksikan selama ini, para penambang (ilegal) tersebut tidak pernah melakukan reklamasi. Yang ada hanyalah bentuk keserakahan,” kata Sultan geram

Di hadapan perwakilan warga Pakem maupun Cangkringan serta Lurah Hargobinangun yang hadir, Sultan menjelaskan pihaknya sudah melakukan penutupan titik tambang pasir yang selama ini menempati tanah Kasultanan atau Sultan Ground (SG) secara ilegal. “Tanah SG sudah ditutup, harapan saya (dinas) ESDM segera menutup penambangan yang di luar SG. Karena barangnya (portal) sudah ada, kalau besok Senin belum dipasang, pasti saya tegur,” kata Sultan HB X. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here