Thursday, June 30, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniBerkabar Yogyakarta Melalui Buku

Berkabar Yogyakarta Melalui Buku

bernasnews – Bicara tentang Kota Yogyakarta, paling tidak ada dua momentum istimewa yang diperingati setiap tahun. Yakni HUT Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta setiap tanggal 7 Juni dan HUT Kota Yogyakarta setiap tanggal 7 Oktober.

Untuk HUT Pemkot Yogyakarta pada 7 Juni 2022 genap 75 tahun. Sedangkan pada tanggal 7 Oktober 2022, Kota Yogyakarta akan berusia 266 tahun. Sebuah perjalanan sebuah kota dan pemerintahan yang cukup lama. Telah banyak hal terjadi, dialami, dilakukan dan dihasilkan oleh kota (dan warga) ini bagi warga setempat, nasional maupun internasional.

 Setiap kota pasti memiliki arti, makna dan kebermaknaan bagi seseorang atau bangsa dan Negara. Tidak terkecuali Yogyakarta. Dari hal-hal yang kecil atau sederhana, sampai hal-hal besar yang berbobot peradaban. Dari yang mengesan secara pribadi, sampai mampu mengubah perjananan sejarah.

Perjalanan seseorang dan apalagi sebuah kota, supaya monumental dan menjadi bahan kajian pertumbuhan di masa depan, sebaiknya didokumentasikan dalam karya tulis, foto, rekam, atau karya budaya lainnya. Salah satu karya monumental itu adalah buku. Buku ditulis seseorang atau sekelompok orang, kemudian diterbitkan, didokumentasikan, dipasarkan, dibaca, didiskusikan, difilmkan, dan sebagainya.

Penulis sebagai pembelajar literasi beruntung memiliki sejumlah buku berkaitan dengan Yogyakarta. Buku-buku itu sering dibaca di saat longgar waktu, laksana “berwisata” literasi dari masa ke masa. Sedikit banyak menambah wawasan, referensi, inspirasi dan motivasi, sampai menambah kecintaan terhadap Yogyakarta. Kali ini, kita bahas sedikit tujuh buku tentang kota ini.

Refleksi tentang toleransi

Buku Guru Itu Bernama Jogja (2012) misalnya, merupakan refleksi 41 mahasiswa Prodi Komuniksi FISIP UAJY . Mereka adalah mahasiswa asli Yogyakarta dan dari luar kota. Beberapa judul tulisan menunjukkan aspek kebermaknaan kota ini bagi mereka. Seperti misalnya, Yogyakarta Memberi Inspirasi, Jogja Berfasilitas Lengkap, Sejuta Keindahan Yogyakarta, Di Jogja : Nrimo ing Pandum, Miniatur Kebhinekaan Indonesia, Setiap Pribadi di Jogja Berarti, Jogja Orangtua Kedua, Tapak Kaki Kuda dan Gending Jawa, Toleransi Yogyakarta.

Ketika Yogyakarta mampu memberi inspirasi, memberikan pemahaman tentang kebhinekaan dan toleransi, sampai Jogja sebagai orangtua kedua, paling tidak, kota ini akan mendidik insan di sini sebagai pribadi yang utuh.

Buku Menjadi Jogja – Memahami Jatidiri dan Transformasi Yogyakarta (2016), diterbitkan oleh Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta dan Pusat Studi Kebudayaan UGM. Buku yang dicetak luks dengan sajian foto artistik ini terdiri delapan bab, dengan prolog dan epilog. Untuk prolog bicara tentang Membangun Trajumas, dan epilog bicara tentang : Gempa, Kraton, Kampung, Menghadapi Dunia.

Delapan bab itu masing-masing membahas Yogyakarta dari sisi sejarah dan dinamika masyarakat, arsitektur dan ruang kota, bahasa-sastra-media, seni rupa dan kerajinan, pendidikan, agama dan spiritualitas, hidangan dan kuliner.

Dari judul buku ini, dengan informasi, refleksi dan visi para penulis, pembaca terbantu untuk menjadi (pribadi yang) Jogja. Jogja memang bukan tanpa kekurangan dan kesalahan, namun selebihnya memberikan pengayaan yang luar biasa bagi siapa saja yang bermukim, berkarya dan berkunjung ke kota istimewa ini.         

Buku Yogya Bercerita (2017) adalah catatan 40 wartawan ala Jurnalisme Malioboro, yang diterbitkan oleh Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) dengan pengantar Ashadi Siregar. Buku ini bercerita banyak tentang kota ini, mulai dari Saya Wartawan “Clingus” yang Bahagia sampai Menghidupi Nyala “Lilin Kecil” Wartawan. Para wartawan yang biasa menulis di media massa masing-masing, memang “dipaksa” PWS untuk bercerita tentang Yogyakarta.   

Ashadi Siregar dalam prawacananya mengajukan beberapa pertanyaan, antara lain : Apa makna kehadiran institusi pers tempatmu berkiprah di tengah masyarakat, apakah dapat menjadi lembaga/institusi dalam kehidupan masyarakat, apa makna surat kabar lain, apa makna institusi pers bagi wartawannya, apa makna tanggungjawab bagi waratwan, apa makna hati nurani bagi wartawan, dan sebagainya. 

Buku Yogya – Ragam Ekspresi Budaya Kumpulan Esai oleh Purwadmadi (2018) memperkaya pembaca dari Istimewa Kandungan Yogya, Ekspresi Istimewa Yogya, dan Ragam Persona Yogya. Masing-masing diisi lebih dari sepuluih esai yang ditulis dalam rentang waktu berbeda. Total tulisan 108 esai. Sebuah karya buku setebal 476 halaman yang inspiratif.

Melalui karya novel

Yogyakarta ditulis sebagai novel, mengapa tidak? Kali ini novelis Herry Gendut Janarto menghadirkan Yogya Yogya (2020) sebagai ungkap syukur dan terima kasih pernah tinggal di kota ini dan kemudian berkarta di Jakarta.

Bisakah rasa kangen diurungkan atau setidaknya ditangguhkan? Dalam novel setebal 243 halaman ini, Gendut menulis, begitu terlintas kata Yogya di tirai benaknya, Hasrat hati Gayuh kontan menggembung untuk sesegera mungkin pulang. Ya ini sebentuk ikatan batin antara Gayuh dan Yogya.

Bukan hanya hasrat gelombang hati lelaki yang kangen pulang, barangkali juga kota itu seolah selalu ingin dia sapa, sambangi, dan akrabi dengan hangat. Ada timbal-balik antara kota dan manusianya. “Di Yogya, bolehlah aku numpang bahagia,” gumam Gayuh dalam-dalam.   

Buku Yogya Masa Datang – Impian-impian Wartawan Sepuh (2021), kembali  dihadirkan oleh Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS). Buku yang diterbitkan Dinas Kebudayaan DIY ini menyajikan 34 tulisan wartawan sepuh. Mulai dari Yogyakarta Benteng Budaya dan Bahasa Jawa sampai Yogyakarta Kota Buku. Pengantar disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Ketua PWS, dan Editor.

Akhirnya buku ketujuh tentang Yogyakarta dikado oleh Satupena DIY lewat karya perdana mereka Kabar dari Yogyakarta (2022). Ini adalah sebuah buku antologi puisi karya sebagian anggota perkumpilan penulis tersebut. Satu hal yang harus dipahami, kata editor buku, puisi adalah suara hati penyair atau penulisnya.

Ketua Satupena DIY Dhenok Kristianti mengemukakan, tak kurang dari 41 penyair bergabung dalam buku ini. Puisi-puisi yang terhimpun menunjukkan beragam tema. Mulai dari yang memprotes situasi zaman, ada yang memuja peradaban dan budaya Jawa, sampai ada yang mengharukan dan membuat geram. Intinya, buku ini memuat berbagai persoalan dengan berbagai gaya. Bagaimana (mencoba) merangkum tujuh buku koleksi penulis di atas? Pinjam ungkapan Gayuh dalam novel Yogya Yogya, di Yogya bolehlah aku numpang bahagia. (Y.B. Margantoro, Wartawan dan Pegiat Literasi)   

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments