Home Opini Bencana: Bukti Kealaman Makhluk Ciptaan Tuhan

Bencana: Bukti Kealaman Makhluk Ciptaan Tuhan

419
0
Ben Senang Galus, penulis buku "Kosmopolitanisme Satu Negeri Satu Jiwa", tinggal di Yogyakarta)

BERNASNEWS.COM – Beberapa waktu lalu Whatsapp (WA) Group ramai mendiskusikan bencana alam yang sedang melanda Indonesia. Beberapa pertanyaan teologis pun muncul dalam diskusi itu, seperti: jika Allah menciptakan alam semesta sedemikian sempurna dan yang menempatkan manusia selaku kawan sekerja untuk mengelola alam semesta, mengapa Allah membiarkan bencana memporak-porandakan ciptaanNya yang berbuntut pada penderitaan umat manusia? Tegakah Dia yang penuh cinta kasih dan kerahiman itu membiarkan umatNya menderita? Atau lebih ekstrim lagi, sedemikian jahatkah Allah sehingga Ia membiarkan manusia yang tidak berdaya itu dimusnahkan oleh bencana?

Pertanyaan klasik ini tidak dapat disangkal, malah justru telah menjadi pertanyaan yang sangat eksistensil dan sudah populer di kalangan agama-agama. Harold Kushner, seorang rabbi Yahudi,misalnya, menuangkan apa yang dialaminya sendiri dalam karyanya Suffering, Curses, and Grace (2003).

Melalui bukunya yang terkenal ini, Kushner berpendapat bahwa penderitaan memang termasuk di dalam kemanusiaannya manusia. Sebagai manusia, kita harus menderita, dan karena itu maka penderitaan haruslah dipahami dan dijalani sebagai kemanusiaannya manusia sebagai yang memiliki keterbatasan dalam usahanya untuk memahami kemahakuasaan Sang Pencipta. Hal yang sama dapat kita katakan mengenai alam: karena disebut alam, maka ia harus menimbulkan bencana; Sebab jika tidak demikian, maka ia tidak dapat disebut alam.

Bahkan Kushner dengan tegas mengatakan, “dengan demikian maka bencana merupakan bagian hakiki dari alam”. Dari sisi antropologis, dapat dikatakan bahwa alam memiliki “hukum”-nya sendiri dan bahwa manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari hukum itu. Tugas manusia adalah mengelola alam secara seimbang bertanggungjawab dengan merujuk pada hukum-hukum tersebut, dan bukan berusaha mengendalikan alam sesuai hukum-hukum manusia yang lebih cenderung kepada pemuasan keinginannya.

Dengan merujuk pada gagasan-gagasan di atas, maka cukup beralasan bagi kita untuk merekonstruksi teologi-teologi tentang bencana. Konstruksi teologi yang saya maksudkan di sini adalah corak teolog(i) yang dapat diterima secara universal, atau paling tidak bisa menjembatani sekaligus menjadi sumber inspirasi bagi agama-agama dan kepercayaan untuk secara intens melakukan refleksi dan praksis, sebagai tanggapan imannya terhadap bencana.

Dengan demikian maka yang hendak direkonstruksi bukan hanya satu teologi atau teologi satu agama tertentu saja, apalagi kekristenan; melainkan teologi yang tidak hanya “berkata-kata” tetapi yang berdimensi praksis-melalui keberpihakan pada mereka (manusia dan lingkungannya) yang dikorbankan tanpa mempersoalkan latar belakang sosial, agama dan suku-demi kemanusiaan yang utuh serta keberlangsungan segenap ciptaan Allah.

Merekonstruksi teologi-teologi tentang bencana merupakan keharusan sekaligus sebuah tantangan bagi komunitas agama-agama di Indonesia, yang selama hampir satu dekade terakhir mengalami berbagai bencana, baik yang alamiah maupun sosial-politis.

Dikatakan sebagai keharusan, karena setiap bencana selalu memberikan dampak tidak hanya bersifat fisik dan psikis, tetapi juga teologis, artinya mempengaruhi hubungan setiap individu dan komunitas dengan Tuhannya. Seiring dengan itu disebut sebagai tantangan, oleh karena teologi dan bahkan agama-agama-meminjam istilah Moltmann (2001), akan diperhadapmukakan dengan dua macam krisis yakni krisis relevansi dan krisis identitas: bahwa semakin teologi dan agama berusaha mempertahankan dogma-dogmanya yang tradisional dan kaku, maka teologi dan agama-agama akan semakin tidak berpihak pada konteks dan karenanya semakin tidak dipercaya.

Sebaliknya, semakin teologi dan agama-agama menempatkan diri sebagai obat mujarab untuk menyelesaikan penderitaan demi menjaga relevansinya dengan konteks–celakanya apabila teologi dan gereja itu sendiri gagal dalam tugasnya-maka dengan sendirinya teologi dan agama-agama kehilangan identitasnya.

Dengan demikian, maka kedua krisis ini pada akhirnya berpotensi untuk melahirkan sikap ketidakpercayaan kepada agama. Dalam rangka menyelamatkan teologi dan agama-agama dari kemungkinan ini, maka menurut saya tugas bahkan keharusan bagi agama-agama adalah terus berusaha untuk menafsirulangkan (mereinterpretasi) imannya, melakukan auto-kritik bahkan membuka ruang yang seluas-luasnya bagi kritikan terhadap kehadirannya, sambil secara terus-menerus mempertanyakan apakah masih berpihak kepada mereka yang dikorbankan serta sama sekali tidak berdaya mengatasi penderitaan yang disebabkan oleh bencana?

Jika demikian, teologi macam apakah yang hendak direkonstruksi di sini? Hemat saya, corak teologi bencana yang dimaksudkan mesti mengacu pada dua tema substantif-universal saling berkaitan: Geo-teologis dan sosio-antropologis dan politis.

Pembaharuan Ciptaan

Bencana alam mesti dilihat dari perspektif tindakan ilahi yang kadang-kadang sulit dipahami oleh manusia. Artinya bahwa memang benar Allah itu Mahakasih, namun dalam hakikatNya yang demikian, Ia juga bebas untuk “mengizinkan” terjadinya bencana alam untuk maksud-maksud tertentu, misalnya menghukum sekaligus sebagai media pembelajaran bagi manusia, dengannya manusia tidak bersikap tamak dan sekehendak hati mengeksploitasi isi alam untuk memenuhi keinginannya sendiri.

Namun demikian, pada saat yang sama pula bencana alam harus dilihat dari aspek creatio continou (penciptaan yang terus-menerus atau suatu proses pembaharuan ciptaan), yaitu bahwa karya Allah dalam penciptaan bukanlah sesuatu yang sekali jadi, tetapi bahwa Allah Pencipta yang bekerja dalam sejarah itu terus-menerus memperbaharui alam semesta. Pendekatan teologis semacam ini (yang lebih dipengaruhi teologi proses) cukup menarik untuk dijelaskan dalam konteks bencana sebagai bagian integral dari sebuah proses.

Yang dimaksudkan ialah bahwa bumi ciptaan Allah yang berada dalam sebuah proses “menjadi” selalu memberikan implikasi bagi umat manusia. Andaikata pembaruan itu terjadi (kendatipun melalui bencana alam), jikalau tidak ada gerakan yang mengangkat tanah baru maka sudah lama tanah dan gunung terkikis oleh erosi sampai permukaan bumi menjadi rata; semuanya lautan dan tidak ada lagi tempat yang kering bagi makhluk hidup terutama manusia; maka bisa dibayangkan bahwa miliaran umat manusia dan binatang buas akan saling memperebutkan tanah yang kering, dan bahwa peperangan yang tak terlukiskan keberingasannya sangat mungkin terjadi (lihat Zakaria J Ngelow dkk, dalam Teologi Bencana, Zakaria J Ngelow dkk, BPK Gunung Mulia).

Implikasi teologis dari cara pandang seperti ini adalah bencana alam, dalam hal ini tsunami, gempa bumi dan letusan gunung, tanah longsor, banjir dan lain-lain, perlu dilihat dan dipahami meminjam Zakaria J Ngelow sebagai sebuah proses pembaharuan ciptaan yang diprakarsai oleh Allah.

Dan dalam konteks ini pula, bencana alamiah dapat dibahas dalam kerangka sebuah ekoteologi, yakni teologi yang alam semesta sebagai suatu keutuhan, di dalam mana Allah tidak hanya menciptakan, tetapi sekaligus aktif bekerja melalui keterlibatan manusia guna menjaga keselarasan, keseimbangan serta keberlangsungannya.

Penebangan hutan yang dilakukan tanpa mempedulikan keseimbangan ekosistem sehingga menimbulkan malapetaka seperti banjir bandang; eksploitasi kandungan bumi tanpa memperhitungkan harkat dan masa   depan masyarakat lokal, mesti dilihat sebagai bentuk kejahatan politik yang sistematis terhadap ekologi; atau meminjam bahasa Karel Erari, sebuah ecocida yang juga berarti genocide (suatu bentuk pembantaian yang sistemis terhadap kelompok etnis tertentu) dan bahwa keduanya merupakan suatu Deicida, yakni pembunuhan atau sabotase terhadap kedaulatan Allah.

Perspektif Sosio-antropologis

Tidak mungkin untuk mengkategorikan bencana sosial seperti kerusuhan massal, konflik sosial, perang saudara bahkan perang antar bangsa sebagai insiden yang diizinkan oleh Allah. Alasannya adalah bahwa Allah yang Maharahim itu justru menghendaki agar damai sejahtera dan persaudaraan yang rukun tanpa sikap diskrimi-natif itu dapat dinikmati oleh segenap ciptaanNya.

Pernyataan ini penting dalam rangka mencegah umat beragama (yang menjadi korban bencana) jatuh ke dalam sikap melegitimasi setiap bencana sosial sebagai hal yang dikehendaki oleh Allah. Kecenderungan berpikir semacam ini memperoleh bentuknya yang aktual melalui sikap terhadap serangkaian kerusuhan berbau Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) di mana masing-masing kelompok agama mengklaim bahwa apa yang sedang terjadi di sana adalah pelaksanaan kehendak Allah dan karenanya Allah sungguh hadir melalui perjuangan mereka.

Implikasi yang lebih membahayakan eksistensi agama-agama itu sendiri adalah bahwa keyakinan yang sama pun dapat dipakai untuk menjustisfikasi kekerasan struktural di bidang sosial-politik dan ekonomi. Sejalan dengan itu, dari perspektif sosio-politis dan antropologis, hendaknya digarisbawahi bahwa kekera-san yang terencana dan sistematis sering terjadi sebagai akibat ulah manusia, baik secara individual maupun melalui negara atau kelompok-kelompok radikal dalam agama tertentu.

Di sini, faktor human error harus mendapat prioritas; dan itu berarti bahwa tugas teologi dan agama-agama adalah tidak tergesa-gesa untuk mencari afirmasi-afirmasi teologis dalam kitab suci guna membenarkan sebuah kekerasan struktural yang tersis-tematisasi demi melayani kepentingan ideologi politik maupun agama tertentu. Namun sebaliknya lagi-lagi harus dicatat bahwa Allah tidak bersikap masa bodoh manakala korban nyawa berjatuhan. Kita yakin bahwa Dia Mahahadir itu sedang berada di tengah umatNya-siapapun dan agama apapun dia-sembari mengungkapkan keberpihakanNya dengan mereka yang tidak berdaya dan yang disingkirkan.

Dengan demikian, bersikap mawas diri dan proaktif mengantisipasi bencana serta komitmen untuk keluar dari lingkaran penderitaan yang disebabkan oleh bencana alam dan bencana sosial mencegah kita untuk jatuh ke dalam kepanikan-kepanikan. Sebaliknya, budaya pasrah, tabah dan menerima setiap penderitaan dengan tulus ikhlas malah justru menjerumuskan kita ke dalam sebuah fatalisme yang tidak seharusnya terjadi, apalagi memahami penderitaan karena bencana sebagai perbuatan amal yang mesti dijalani dengan sukarela. (Ben Senang Galus, pemerhati masalah sosial tinggal di Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here