Home Opini Bencana Alam: Penciptaan Belum Berakhir? (II-Habis)

Bencana Alam: Penciptaan Belum Berakhir? (II-Habis)

70
0
Ben Senang Galus, Umat Paroki St Paulus, Pringgolayana, Bantul, Yogyakarta

BERNASNEWS.COM – Ada artikel yang cukup bagus di The Age Australia. Isinya kira-kira mempertanyakan: apakah Tuhan yang harus disalahkan? Selanjutnya dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa di kalangan Kristen abad ke-18, memang ada pendirian semacam itu juga.

Filsuf Leibnitz misalnya mengatakan, Tuhan selalu mempunyai alasan yang cukup untuk suatu bencana. Tuhan itu selalu sempurna, dan ciptaanNya itu tidak pernah sempurna. Jadi, kalau ada yang tidak sempurna, pasti akan ada alasan yang cukup untuk menyempurnakannya. Dan, pasti pada akhirnya di situ ada hikmahnya.

Alasan semacam ini kemudian digugat oleh filsuf lain, Voltaire, sewaktu dia mendengar bencana yang terjadi di Lisabon, karena bencana itu amat mengerikan. Voltaire ketika itu marah. Dan kemarahan Voltaire ditunjukkan oleh salah satu sajak yang mengatakan, “Coba tunjukkan, apa adilnya tata ini kalau ada orang yang tidak bersalah justru mati, dan orang yang tidak berdosa dihukum seperti orang yang berdosa.”

Namun memang harus dimengerti, sukar untuk tidak mencari alasan ketika bencana dahsyat terjadi. Terlalu berat bagi korban untuk mengatakan bahwa ini sama sekali tidak ada alasan, ini hanya kesewenang-wenangan nasib. Itu terlalu berat. Makanya, dicarilah alasan. Apakah betul Tuhan punya alasan dalam peristiwa-peristiwa menyakitkan seperti itu, saya kira itulah persoalannya nanti. Tapi bahwa ada dorongan orang untuk demikian (mencarai alasan Tuhan) adalah fakta, karena absurditas nasib cenderung untuk mencari jawab.

Albert Camus juga pernah menulis suatu esai besar berjudul Mitos Sisipus yang mengatakan bahwa manusia itu seperti sisipus. Sisipus itu dikutuk dewa-dewa untuk mengangkat batu dari bawah ke puncak gunung. Sampai di atas, dia jatuh lagi. Dia turun untuk mengangkut lagi, dan begitu seumur hidupnya. Tapi dalam esai itu disebut juga bahwa lama-kelamaan ada pertautan antara sisipus dan batu. Lama-kelamaan, dia merasakan bahwa dia harus menguasai hukuman ini dan menjadi di atas hukuman ini. Dia mempertahankan penderitaan itu dengan gagah berani sampai melakukan protes pada dewa-dewa.

Jadi di situ ada dua sikap yang diambil, yang satu negatif dengan cara bunuh diri, yang lainnya adalah afirmatif, yaitu hidup berharga meskipun kita di dalam hukuman. Kalau dalam filsafat Eropa, sikap kedua ini adalah gema dari pandangan Nietzsche mengenai amor fati, atau cintailah nasibmu. Ada kegagahan di situ.

Cuma problemnya adalah, memang bukan satu-satunya alternatif ketika orang memerlukan harapan. Alternatif lain adalah menjadi budak, melihat kesengsaraan orang mati, orang sakit, orang yang sudah tua, dan akhirnya mengatakan bahwa hidup adalah samsara dan dia mencoba membebaskan diri dari keinginan, karena keinginan pada hakikatnya adalah awal dari penderitaan.

Nirwana adalah satu taraf ketika tidak ada lagi keinginan. Kalau kita pergi ke Borobudur, puncak yang paling tinggi di stupa itu, tidak ada ukiran apapun. Yang paling bawah malah penuh dengan ukiran. Ini menunjukkan bahwa kurnia pancaindera hilang ketika kita mencapai nirwana. Keinginan, hasrat dan sebagainya, tidak ada lagi pada saat manusia mencapai kesempurnaan.

Kemampuan ilmiah hanya bisa menjawab sejauh mana metode ilmiah yang terpakai (dipakai) secara hakiki diterapkan untuk memprediksi dan menjawab kegalauan alam. Walaupun telah berkembang dengan cepat teknologi yang sophisticated dan sains telah dibanjiri oleh teori-teori yang spektakuler akan tetapi alam tanpa kompromi secara dinamis memberikan dampak error di dalam penerapannya. Para modeler seperti Jay Forrester sendiri menulis Don’t predict the future, create it!…, perlu dimaknai secara global bahwa kenyataannya demikian.

Penciptaan Belum Berakhir?

Eben Nuban Timo (2010) mengatakan sebagai gereja kita belum bisa dan tidak boleh membanggakan diri sebagai yang suci dan tanpa dosa. Gereja memang datang dari kebangkitan. Tetapi kebangkitan itu bukan akhirat. Ia adalah permulaan masa baru yang masih akan datang.

Dalam perjuangan itu kita masih mengalami banyak pencobaan, bahkan ada pengkhianatan. Bencana masih muncul dan menggerogoti hidup dunia yang sudah selamatkan Kristus. Itu terjadi karena beberapa alasan. Salah satunya, seperti yang sudah kita sebut tadi, dunia yang sudah dibenarkan Allah masih terus dibentuk untuk menjadi dunia yang layak bagi kedatangan kerajaan Allah (Wah. 21:1-2).

Tepatlah apa yang dikatakan S Kierkegaard: “Kita belum (meng)gereja. Kita sedang menjadi gereja”. Mengapa bencana tetap ada? Jawabannya kita dapat merujuk teologis Karl Barth yang mengatakan “Penciptaan sudah terjadi tetapi belum selesai”. Artinya ciptaan yang keluar dari tangan Allah masih terus berada dalam proses menjadi. Apa yang kita lihat dan alami saat ini, termasuk hidup kita adalah satu keberadaan yang sementara. Akan tiba masanya, di mana keadaan yang sementara ini akan diganti dengan keadaan yang sempurna (Church Dogmatics II/1, 15).

Yesus berkata: Bapa-Ku bekerja sampai sekarang (Yoh. 5:17). Allah terus bekerja untuk membenahi ciptaan-Nya sesuai dengan rencana-Nya yang kekal: menjadikan mereka sebagai umat-Nya. Pekerjaan Allah pasca penciptaan itulah yang dikenal dalam ilmu teologi dengan nama Providentia Dei. Ciptaan Allah dipelihara. Pemeliharaan itu tidak dilakukan seorang diri oleh Allah. Dalam melakukan pekerjaan penciptaan Allah lakukan itu sendiri, tanpa manusia, tetapi dalam karya pemeliharaan ciptaan Allah mau lakukan bersama-sama manusia.

Salah satu alasan teologis yang diberikan adalah demikian. Dalam dunia ciptaan Allah ada kuasa jahat. Kuasa-kuasa itu tidak disangkali Alkitab. Apa yang Allah buat pada waktu menciptakan langit dan bumi adalah menaruh batas kepada kuasa-kuasa itu. Kuasa-kuasa itu dimetaforakan dengan khosek, kegelapan dan tehom, samudera raya. Kita bisa lihat itu dalam kisah penciptaan yang dilakukan Allah pada tiga hari pertama: Pada hari pertama Allah menciptakan terang (ha or) untuk menghalau kegelapan (ha khosek).

Tetapi karena terang yang adalah ciptaan itu tidak sepenuhnya dapat menghalau kegelapan itu, maka Allah memisahkan saja terang itu dari gelap. Ya, Allah menaruh batas. Ini berlaku juga pada hari kedua dan ketiga. Di mana Allah memisahkan air yang di atas dan air yang di bawah. Kemudian menaruh batas bagi air yang ada di bumi. Mereka disuruh berkumpul di laut.

Banjir atau gempa bumi atau bencana alam apa pun adalah bukti bahwa batas itu seringkali dilangkahi. Penyakit (Covid-19) yang kita derita juga adalah bentuk-bentuk dari pelanggaran batas itu oleh kegelapan. Dalam penciptaan Allah belum menghancurkan musuh dari ciptaan Allah secara total. Allah hanya menaruh batas kepadanya. Daya rusak dari si jahat itu dibatasi dan dikendalikan oleh Allah. Akan ada waktu di mana Allah secara total dan definitif menonaktifkan daya rusak dan menghalau si jahat dari muka bumi. Itu baru akan terjadi nanti, belum sekarang (Wah. 21:1, 22:5).

Dari sudut pandang ini, bencana terjadi karena dunia masih terus ada dalam proses terjadi. Ia terus dibentuk ke arah wujudnya yang sempurna dan final. Di sini bencana serta penderitaan perlu agar manusia yang menjadi partner Allah dalam pekerjaan Providentia Dei menyadari tanggung jawab dan tugasnya.

Melihat semakin kritisnya alam, khususnya di Indonesia maka Gereja harus terpanggil memberikan kontribusi. Kita harus sadar, bahwa kerusakan lingkungan bersumber dari perilaku manusia. Perilaku kolektif manusia yang konsumtif telah mengakibatkan kerusakan lingkungan. Kita memahami bahwa bumi ini menjadi tanggungjawab kita kepada Tuhan.

Oleh sebab itu, pelestarian bagi umat Kristus semestinya bagian yang tidak terpisahkan dari Penginjilan. Jikalau kita telah menerima Injil Yesus Kristus, semestinya kita menjadi pelopor untuk melestarikan lingkungan hidup dengan cara memulai diri sendiri, komunitas Kristen yang kemudian bersama-sama dengan umat lain untuk melestaraikan lingkungan hidup. (Ben Senang Galus, Umat Paroki St Paulus, Pringgolayana, Bantul, Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here