Thursday, August 18, 2022
spot_img
spot_img
HomeOpiniBelajar Salah Ala Mbah Surip

Belajar Salah Ala Mbah Surip

bernasnews.com – 4 Juli 2009 Indonesia kehilangan seniman besar, Mbah Surip sesuai keinginannya akhirnya dimakamkan di Bengkel Teater milik Rendra di Cipayung. Belum lagi kering tanah makam Mbah Surip, Rendra pada tanggal 6 Juli 2009 meninggal dan dimakamkan 10 meter dari makam Mbah Surip. Ada ungkapan, kebetulan menurut manusia adalah kebenaran milik Tuhan. Kedua seniman “kebetulan” meninggal di saat yang sama dan menyisakan pelajaran untuk dimaknai oleh publik. Mbah Surip mewakili kaum gelandangan dan WS Rendra mewakili kaum intelektual budayawan.

Presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara khusus menggelar jumpa pers untuk menyampaikan belasungkawa atas kepergian Mbah Surip (Kompas 4/8/20). Tetapi ketika Rendra meninggal nyaris tidak ada kabar terdengar ucapan duka cita. Apakah ini tanda negara lebih menghormati kaum gelandangan? 

Kematian Mbah Surip saat itu mampu mengubah laporan utama hampir semua media massa, berita soal gugatan Pemilu dianggap tidak laku. Kematiannya mengagetkan semua orang, menjelma menjadi magnet berita yang sedemikian besarnya. Di pojokan kampung, di warung kopi, bahkan di kafe-kafe elit kota besar, nama Mbah Surip disebut-sebut.

Padahal sebelum meledak lagu “Tak Gendong” tahun 2009, Mbah Surip adalah gelandangan, hidup tak menentu. Negara bagi Mbah Surip hanya menambah beban hidup, tersirat dari kelakar Mbah Surip yang kerap mengaduh, ”Ampun pemerintah!” Seolah ingin berkata negara hanya hadir ketika membutuhkan rakyat saat Pemilu setelah itu dilupakan. Karena itu, saat negara menghormati seseorang yang mendadak terkenal bisa jadi itu bukan karena kepedulian kepada rakyat gelandangan, tetapi demi citra dan popularitas negara.

Teman Mbah Surip, Moenir Rahmat, pernah disuguhi lelucon soal lumpur Lapindo (Liputan6.com 4/8/09). “Menghentikan semburan lumpur Lapindo itu mudah. Tutup saja dengan sagu, maka dengan sendirinya lumpur di sana membeku,” kata Mbah Surip ketika itu seolah ingin menyindir pejabat negara yang saat itu lebih asyik masyuk mencipta lagu ketimbang mengurusi rakyatnya.

Lirik lagu Mbah Surip memang sederhana, tapi penuh makna mengkritik kita semua. Lagu “Bangun Tidur” seolah menegur bahwa bangsa kita ini pemalas yang senang tidur sehingga tidak maju-maju. Wajar jika kemudian dia bersenandung, “banyakin kopi jangan tidur terus” dan terakhir lagu “Tak Gendong” yang menurutnya itu pesan tentang belajar hidup. Menggendong siapa saja entah baik, galak, nakal, atau jahat. Menurutnya, seperti bus, tak peduli penumpangnya, entah itu copet, gelandangan, pekerja, ya siapa saja. Sebab, menggendong itu belajar hidup. 

Nama aslinya Urip Ahmad Riyanto, harusnya dipanggil Urip bukan Surip. Huruf “S” itu artinya adalah “Salah” begitu penjelasannya. Waktu itu Mbah Surip bekerja di perusahaan pengeboran minyak California dengan gaji layak. “Waktu itu, saya merasa hidup saya tidak ada yang salah, hidup saya rasanya sepi. Lalu, saya ingin belajar dari hal-hal yang salah. Akhirnya, antara 1996 dan 1997, saya memutuskan jadi seniman,” ujarnya. (Pos-Kupang.com 7/709). Mulailah dia menjadi seniman, berdandan ala rastafaria dan bergaya hidup bohemian. Hidup menggelandang sebagai pengamen jalanan antara Bulungan, Taman Ismail Marzuki, dan pasar seni Ancol. Hidup baginya tak kenal kata susah. Dunia ini hanya tempat mampir bermain, jangan gelisah dan jangan takut miskin. 

Gaya hidup gila ala Mbah Surip sulit diterima akal sehat, hidup tak beratap rumah sendiri, makan atau tidur tidak berjadwal, tetapi pada akhirnya sukses menjadi panutan banyak orang. Lagu “Tak Gendong” mendapat hasil Rp 9 miliar dan Mbah Surip kebagian royalti hingga Rp 4,5 miliar. Tapi bukan itu yang Mbah Surip kejar. Sesuai dengan lagunya, “Tak Gendong” menurut sastrawan Jose Rizal Manua yang juga sahabat Mbah Surip, “Menggendong itu maknanya menggendong beban yang dimiliki teman,” (detikcom 5/8/09). Jose melihat sendiri 3 minggu sebelum meninggal, Mbah Surip memasukkan uang ke kantong teman-temannya. Bagi Jose harta tidak mengubah hidup Mbah Surip, dia tetap Mbah Surip yang menggendong siapapun.

”Kalau belajar benar itu sudah biasa, saya sedang belajar salah….” ujar Mbah Surip (Kompas 12/8.09) seakan ingin membenarkan perkataan filsuf Perancis Albert Camus, bahwa hidup itu absurd. Kita harus merayakan absurditas itu karena pada akhirnya semua akan lenyap ketika kita mati. Ini yang disebut jalan spiritualitas melampaui batas-batas agama.

Kebenaran sebenarnya tak lebih dari kesepakatan, ketika kita bicara benar di tengah-tengah orang yang berkata salah maka kita justru yang dianggap salah. Padahal kebenaran itu lebih luas dari kesepakatan itu, jika kita percaya pada kebenaran karena kesepakatan maka sama saja kita menyerahkan kebebasan kita pada kebodohan. Itu inti pesan Mbah Surip untuk belajar salah, dan bisa jadi ajakan Mbah Surip untuk belajar salah sebenarnya adalah ajakan untuk menjadi benar. Seperti kata Picasso, “seni adalah kebohongan yang mengungkapkan kebenaran,” Sebagai seniman, Mbah Surip mungkin sedang berbohong dengan berkata belajar salah.

Mbah Surip memang menjelma menjadi “the priest of the invisible,” mengeluarkan terang dari gelap, membawa matahari kesadaran atas kebebalan kekuasaan. Ketika negara tiba-tiba peduli kepada kaum gelandangan justru kita harus hati-hati, bisa jadi itu tumpangan popularitas sementara lalu dikubur dalam narsisme politik. Seperti ada ungkapan “Ketika ular derik menggoyangkan ekornya, yang harus kita perhatikan justru kepalanya.” (O Gozali)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments